Dampak langsung tarif 19% dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,03% dalam jangka pendek. Ekspor diperkirakan turun 0,14%, terutama karena sebagian besar dari 1.800 pos tarif masih dikenakan bea masuk 19%.
Muncul usulan dari pemerintah untuk membatasi izin baru toko ritel modern agar bisa menyukseskan program Koperasi Desa Merah Putih. Disinilah peran pemerintah diperlukan untuk jadi penyeimbang dan regulator ekosistem perdagangan ritel yang sehat.
Adanya The Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 membawa mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ) sebagai penyelamat industri di tengah ancaman tarif resiprokal yang tinggi. Mekanisme ini memberikan jalur hijau berupa tarif 0% bagi volume ekspor tertentu produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia.
Kebijakan TKDN tidak dihapus dalam kerja sama perdagangan resiprokal antara Indonesia dan AS. Aturan tersebut tetap menjadi instrumen untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri.
Hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada sektor non-migas. Kesepakatan baru yang dicapai lewat The Agreement on Reciprocal Trade (ART) diharapkan dapat memperkuat hubungan dagang kedua negara.
Pembatalan tarif oleh Mahkamah Agung AS tidak menghentikan proses perjanjian. Ini justru membuka ruang penyesuaian menuju kesepakatan yang lebih seimbang dan modern.
Pasca perjanjian ini, bagaimana respon dunia usaha? Bagaimana arah perdagangan Indonesia-AS ke depan? Berikut Suar.id akan memaparkan sejumlah hal yang jadi sorotan yang patut diketahui oleh semesta dunia usaha Tanah Air.
Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah pemberian tarif nol persen untuk produk tekstil dan apparel asal Indonesia melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Perekonomian Indonesia mampu bangkit hingga mencapai pertumbuhan yang moderat di kisaran 5% pascapandemi. Pertumbuhan akan bisa lebih tinggi jika kebijakan pemerintah diarahkan untuk mengatasi hambatan non-tarif yang memengaruhi sektor perdagangan.
Selain sawit, AS juga memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia seperti kopi, dan kakao
Sejumlah komoditas yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) yaitu minyak goreng, telur ayam dan daging ayam.
Ada empat alasan kenapa Indonesia belum mampu untuk terlibat perang dagang dengan AS. Apa saja?
Menampilkan 12 dari 65 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.