Strategi, regulasi, dan peluang investasi dari berbagai sektor dengan menampilkan perspektif regulator, pelaku usaha, dan masyarakat.
Indonesia terus memacu langkah menuju transisi energi yang berkelanjutan. Kebutuhan akan pasokan listrik yang melimpah, namun tetap ramah lingkungan, menjadi syarat agar Indonesia tetap kompetitif di kancah global.
Untuk mengantisipasi dan menanggulangi persoalan itu, semua pemangku kepentingan ekonomi perlu terus membenahi kemudahan berusaha (ease of doing business) sehingga dapat memicu investasi masa depan bagi negara-negara emerging markets.
Lanskap investasi Indonesia menunjukkan pergeseran tren dalam dua tahun terakhir. Dominasi Penanaman Modal Asing (PMA) mulai menurun diambil alih oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Total investasi yang masuk ke Indonesia selama Januari–Desember 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau 101,3% dari target Rp1.905,6 triliun.
Infrastruktur ini mampu menghasilkan daya hingga 2.000 kWp, yang diproyeksikan menyuplai listrik tahunan sebesar 3,3 juta kWh.
Bank Indonesia masih memiliki kemungkinan pemotongan suku bunga acuan hingga 3 kali sepanjang tahun 2026.
Hubungan ekonomi antara Indonesia dan China kini memasuki babak baru yang lebih progresif melalui penguatan kerjasama ekonomi dengan strategi proyek Two Countries Twin Parks (TCTP).
Menilik perhitungan bisnis dari divestasi bisnis teh Sariwangi yang dilepas Unilever. Ada apa di baliknya?
Total investor pasar ritel Single Investor Identification (SID) pasar modal melonjak 5,25 juta dalam setahun. Pada 2024 jumlahnya 14,87 juta lantas meroket menjadi 20,12 juta pada 19 Desember 2025.
Dari daftar 70 emiten yang masuk radar potensi delisting, empat BUMN menjadi perhatian utama. Emiten yang berpotensi delisting berasal dari berbagai sektor mulai dari tekstil, properti, dan lain-lain.
Dalam kesepakatan tersebut, DPR RI juga menyetujui usulan OJK menaikkan batas free float untuk continuous listing obligation dari 7,5% menjadi minimal 10–15% sesuai nilai kapitalisasi pasar. Penyesuaian ini akan diberikan waktu agar perusahaan tercatat dapat menyiapkan diri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkerek naik 22,10% sepanjang tahun 2025. Sepanjang 2025, IHSG mencatat 26 kali rekor kinerja nilai tertinggi sepanjang sejarah (All Time High/ATH).
Menampilkan 12 dari 89 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.