Surplus Perdagangan Indonesia-Venezuela Sebelum Ketegangan Geopolitik Meningkat

Intervensi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela diprediksi akan mengganggu perdagangan global serta hubungan dengan negara-negara mitra dagang Venezuela, termasuk Indonesia. Indonesia selama ini menikmati surplus neraca perdagangan dengan Venezuela yang memuncak pada 2025.

Surplus Perdagangan Indonesia-Venezuela Sebelum Ketegangan Geopolitik Meningkat

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring dengan invasi Amerika Serikat terhadap Venezuela. Peristiwa ini memicu kekhawatiran instabilitas ekonomi di kawasan Amerika Latin, mengingat posisi strategis Venezuela sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar di dunia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, hubungan dagang Indonesia-Venezuela cukup dinamis dalam lima tahun terakhir. Pada periode 2020 hingga 2022, nilai ekspor dan impor cenderung stabil. Mulai tahun 2023, terjadi peningkatan nilai ekspor Indonesia ke Venezuela yang cukup signifikan, yakni mencapai USD 27,7 juta, sementara impor berada di angka USD 20,4 juta. Hal ini menandakan adanya penguatan penetrasi produk Indonesia di pasar Venezuela.

Lonjakan yang paling mencolok terlihat pada tahun 2025 (periode Januari-November), di mana nilai ekspor Indonesia meroket tajam hingga mencapai USD 75,1 juta. Di sisi lain, nilai impor justru menurun ke angka USD 14,1 juta dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menyebabkan neraca perdagangan Indonesia terhadap Venezuela mengalami surplus yang sangat besar. Peningkatan ekspor yang masif ini menunjukkan bahwa permintaan Venezuela terhadap produk Indonesia tetap tinggi, bahkan meningkat. Hal itu merupakan keberhasilan atas upaya Indonesia melakukan diversifikasi mitra dagang di tengah tekanan internasional.

Berdasarkan komoditas, sektor otomotif menjadi tulang punggung ekspor Indonesia ke Venezuela. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kode HS 87 (kendaraan bermotor dan suku cadangnya) mendominasi dengan nilai fantastis sebesar USD 52.348.720.

Komoditas unggulan lainnya meliputi produk sabun dan preparat pembersih (HS 34), serat stapel (HS 55), serta kertas dan karton (HS 48). Sementara itu, dari sisi impor, Indonesia banyak mendatangkan makanan nabati, seperti sayuran dan umbi-umbian (HS 7), serta kakao (HS 18), meskipun nilainya jauh di bawah angka ekspor Indonesia.

Dalam jangka pendek, serangan AS ke Venezuela diprediksi menimbulkan hambatan logistik dan ketidakpastian transaksi keuangan. Pengiriman komoditas otomotif dan produk manufaktur Indonesia kemungkinan besar akan terhambat oleh blokade jalur laut atau sanksi perbankan yang memengaruhi proses pembayaran.

Peristiwa tersebut dapat memengaruhi surplus perdagangan yang selama ini dinikmati Indonesia, terutama pada tahun 2025. Selain itu, kenaikan biaya asuransi pengiriman ke wilayah konflik akan meningkatkan harga jual produk di pasar lokal Venezuela.

Untuk jangka panjang, keberlanjutan kerjasama ini bergantung pada stabilitas politik pascaserangan. Jika konflik berkepanjangan, kemampuan daya beli Venezuela dapat merosot tajam, yang pada akhirnya akan menurunkan permintaan terhadap komoditas ekspor unggulan Indonesia. 

Namun, jika Indonesia mampu memposisikan diri sebagai mitra netral yang menyediakan kebutuhan pokok dan barang manufaktur yang tidak lagi disuplai oleh blok Barat, maka potensi kerjasama ini tetap terbuka. Diversifikasi pasar dan pemanfaatan skema perdagangan alternatif mungkin menjadi kunci bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan dengan Venezuela di masa depan.

Baca selengkapnya