Seiring beroperasinya kembali fasilitas pengolahan dan pemurnian operasional smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara setelah sempat mengalami kendala gangguan teknis dan pasokan konsentrat, diperkirakan aakan segera ada peningkatan produksi tembaga, emas, dan mineral secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Proyeksi peningkatan ini pun juga berdampak pada meningkatnya penerimaan negara dari sektor pertambangan.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, saat ini kapasitas pengolahan bijih dari penambangan mencapai 124 ribu ton per harinya. Produksi tambang di tahun ini pun sedang dalam tahap pemulihan pascainsiden longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Mimika, Papua Tengah, pada akhir tahun 2025 lalu.
Tony menegaskan, tahun ini PTFI masih dalam kapasitas 60% produksi di hulu, akibat longsoran yang terjadi di bulan September lalu. "Kita melakukan perbaikan-perbaikan untuk menyakinkan bahwa ini semuanya betul-betul aman sehingga produksi ramp up-nya agak berjalan tidak seperti yang kita perkirakan sebelumnya, sehingga tahun ini masih akan mencapai 65% dari total kapasitas,” jelas Tony saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) di Kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (14/07/2026).
Produksi PT Freeport optimal di akhir 2027
Sementara itu, peningkatan kapasitas produksi pun pada awal tahun 2027 mendatang sudah mulai membaik, dan diproyeksikan akan berjalan dengan kapasitas maksimal pada akhir tahun. “Semester 1 tahun depan akan mencapai 75% dari kapasitas, dan di akhir tahun 2027 itu akan menuju ke 100% kapasitas,” lanjutnya.
Saat ini perusahaan memiliki dua smelter yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Kapasitas tersebut berasal dari smelter PTFI yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik yang mampu mengolah 1,7 juta dry metric ton (dmt) konsentrat per tahunnya dan PT Smelting Gresik yang mengolah 1,3 juta dmt per tahun.
“Sehingga total konsentrat yang bisa dimurnikan di dalam negeri yang dimiliki oleh PT Freeport Indonesia totalnya 3 juta ton per tahun. Dan juga di situ dibangun Precious Metal Refinery (PMR) yaitu proses pemurnian lumpur anoda yang berisi emas, perak, dan juga beberapa logam platinum group metals,” katanya.

Smelter PTFI di KEK Gresik ini menggunakan teknologi double flash smelting dan converting. Sementara untuk pemurnian emas dan peraknya menggunakan teknologi hydrometallurgy. Adapun produk yang dihasilkan dari smelter dan juga PMR tersebut antara lain katoda tembaga, emas murni, perak murni batangan, dan juga platinum group metals. Selain itu, ada pula produk samping yang dihasilkan yakni asam sulfat, terak, gipsum, dan juga timbal.
Smelter ini sebenarnya sudah mulai beroperasi pada Juni 2024 lalu dalam tahap commissioning dan mulai memproduksi katoda tembaga pada Agustus 2024. Namun pada Oktober 2024, terjadi kebakaran di fasilitas Gas Cleaning Plant (GCP), yang merupakan komponen vital dalam proses produksi. Perbaikan pun telah selesai sehingga smelter telah kembali beroperasi pada Mei 2025.
Operasional smelter pun kemudian sempat terhenti akibat insiden longsor di GBC yang berdampak pada terhentinya pasokan konsentrat. Smelter hanya mengolah sisa konsentrat yang tersedia di gudang. Berhentinya operasional ini pun dimanfaatkan oleh PTFI untuk melakukan sejumlah pemeliharaan dan perbaikan demi memastikan operasional bisa kembali dengan lebih baik lagi ke depannya.
“Rencana smelter baru ini akan mulai berproduksi kembali atau mengolah memurnikan konsentrat dari Papua itu pada bulan September tahun ini, dan akan dilakukan ramp up sampai dengan akhir tahun. Sementara sekarang ini yang PT Smelting itu sudah beroperasi terus yang mengolah kira-kira hampir 50% dari konsentrat yang dari PTFI di Papua,” ungkapnya.
Produksi emas untuk PT Antam
Smelter PTFI di Gresik ini sendiri dirancang memproduksi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga per tahun. Selain itu, dengan adanya fasilitas PMR yang akan memurnikan lumpur anoda sebanyak 6 ribu ton per tahun ini juga akan menghasilkan sekitar 50 ton emas murni dan 200 ton perak per tahun, serta logam ikutan seperti platinum, paladium, selenium, bismut, dan juga timbal.
“Katoda tembaga dari smelter baru ini sekitar 600 ribu ton per tahun, sehingga total dengan PT Smelting yang sudah beroperasi ini totalnya bisa mencapai 800 ribu ton katoda tembaga per tahun,” jelas Tony.
Emas yang diproduksi oleh PTFI ini kemudian rencananya akan di-offtake oleh PT Antam sepenuhnya. Produk perak, platinum, paladium, dan lain sebagainya juga juga akan dijual dan dipergunakan untuk kebutuhan dalam negeri, baru kemudian akan diekspor.
Adapun produksi dari paladium diproyeksikan sebesar 375 kilogram per tahunnya, selenium 285 ton per tahun, bismut 220 ton per tahun, dan timbal 2.200 ton per tahun. Sementara untuk produk sampingnya, asam sulfat yang diproduksi diperkirakan akan sebesar 1,5 juta ton per tahun, terak tembaga 1,3 juta ton per tahun, dan gipsum 150 ribu ton per tahun.
Beroperasinya tambang bawah tanah Kucing Liar
PT Freeport Indonesia juga telah memiliki rencana hingga tahun 2030 mendatang, yang mana dari sisi rencana penambangan bijih hingga rencana produksi tembaga dan emasnya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
“Tahun lalu kita tonasenya 139 ribu ton bijih per hari, ini memang dari bulan September kita tidak produksi dari GBC, tahun ini direncanakan 124 ribu ton bijih per hari,” katanya.
Sementara di tahun 2027, PTFI berencana untuk menambah bijih sebanyak 170 ribu ton per hari, tahun 2028 sebanyak 208 ribu ton per hari, tahun 2029 sebanyak 226 ribu ton per hari, dan tahun 2030 meningkat menjadi 240 ribu ton per hari.
Jumlah tembaga dan emas yang diproduksi pun meningkat seiring dengan jumlah bijih yang ditambang. Selain itu, tambang bawah tanah Kucing Liar juga diperkirakan akan mulai beroperasi pada tahun 2029 mendatang.
“Tahun 2027 bisa mencapai 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ons emas atau sekitar 31 ton. Dan tahun 2028 terjadi peningkatan juga jadi 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ons emas atau 43 ton emas. Begitu seterusnya sampai dengan tahun 2030,” katanya.

Seiring dengan pemulihan kapasitas produksi perusahaan tersebut, penerimaan negara dari tahun ke tahun juga diproyeksikan mengalami peningkatan, meskipun di tahun 2026 ini mengalami penurunan yang diproyeksikan hanya berada di kisaran USD2,6 miliar.
Dengan menggunakan asumsi bahwa harga tembaga USD 6 per pond dan harga emas USD4.500 per ons, peningkatan penerimaan negara mulai terlihat pada tahun 2027 mendatang.
“Kita lihat proyeksi di tahun 2027, sesuai dengan peningkatan produksi kita, itu penerimaan negara akan bisa mencapai USD 4,77 miliar, di mana di dalamnya ada USD800 juta PNBP termasuk royalti di dalamnya, kemudian ada pajak USD 1,9 miliar, dan juga akan ada dividen sebesar USD 1,9 miliar untuk pemerintah melalui MIND ID,” jelas Tony.
Ketika memasuki kapasitas produksi penuh, penerimaan negara selanjutnya akan bisa melebihi USD 7,1 miliar per tahunnya, dan diproyeksikan akan sebesar USD8 miliar pada tahun 2030 mendatang.
Produksi PT Amman menuju kapasitas maksimal
Di kesempatan yang sama, Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau menjelaskan, saat ini smelter yang beroperasi mampu mengolah 900 ribu ton katoda tembaga per tahunnya, dan menghasilkan sekitar 220 ribu ton katode tembaga LME Grade A, 18 ton emas, 55 ton perak, dan 77 ton selenium.
Smelter perusahaan juga sempat mengalami hambatan akibat kebocoran pada acid cooler dan kebocoran tungku flash smelting furnace pada pertengahan 2025 lalu. Smelter pun diperkirakan kembali beroperasi secara penuh pada April 2026 dan secara bertahap meningkatkan kapasitasnya.
“Produksi kami memang belum pernah mencapai 900 ribu ton dalam rentang satu tahun, tapi dalam beberapa minggu operasi kapasitas maksimum atau mendekati maksimum sudah bisa dicapai. Sehingga kami yakin bahwa operasi penambangan konsentrat yang dihasilkan oleh operasi penambangan pada tahun ini semuanya bisa diserap,” jelas Rachmat.

Rencananya pada tahun 2026 ini, PT Amman Mineral Nusa Tenggara akan memproduksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, 91 ton selenium, juga telurium sekitar 1,96 ton, dan asam sulfat yang diperkirakan mencapai sekitar 572 ribu ton.
“Dalam 3 tahun ke depan, memang terdapat peningkatan produksi, ini dikarenakan mulai tahun depan kami akan lebih banyak memproses mengambil ore pada proses penambangan,” ujarnya.
Perhatikan manfaat ke masyarakat
Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Irsan Sosiawan mengapresiasi kinerja dan upaya pemulihan yang dilakukan kedua perusahaan tersebut, sehingga memberikan kontribusi yang baik kepada negara dan juga masyarakat.
“Perihal produksi yang selalu dari mulai kecil hingga besar selalu ada peningkatan, dan ini menjadi suatu pandangan target-target produksi yang diharapkan sesuai dengan harapan bangsa ini kira-kira sudah bisa tercapai, dan saya mengapresiasi atas kinerja kedua perusahaan yang telah berkontribusi untuk negara ini,” ucap Irsan.
Ia juga mengingatkan bahwa target peningkatan produksi ini juga harus diimbangi dengan perhatian terhadap masyarakat di sekitar wilayah tambang, sehingga masyarakat benar-benar merasakan dampak manfaat dari hadirnya kedua perusahaan ini secara langsung. Program pengembangan masyarakat pun didorong untuk terus dilakukan.
“Jangan sampai target produksi tercapai, pendapatan negara tercapai, semuanya sesuai target, tapi masyarakat lokal tidak merasakan itu. Inilah yang harus benar-benar menjadi fokus kepada tanggung jawab perusahaan-perusahaan, baik Freeport maupun Amman Mineral,” tegasnya.