Industri sawit Indonesia sedang memasuki fase transformasi: dari ekspansi lahan menuju produktivitas dan keberlanjutan.
PT Agrinas Palma Nusantara menjadi instrumen negara untuk mengelola lahan sitaan dan mengarahkan hilirisasi produk minyak sawit ke energi hijau.
BPI Danantara memperkuat hilirisasi energi dengan proyek bioetanol dan bioavtur, menjadikan sawit dan minyak jelantah sebagai bahan baku energi masa depan.
Nasionalisasi lahan sawit dikaitkan erat dengan rencana pemerintah mengembangkan etanol dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis sawit.
Arah masa depan industri sawit Indonesia
- Hilirisasi penuh
- Integrasi dengan sektor energi
- Sawit menjadi pilar industri
Di sisi lain, kebijakan mandatori biodiesel menjadi kunci suksesnya peralihan dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan.
Namun masih ada beberapa kendala yang perlu diselesaikan.
- Kebijakan mandatori biodiesel lebih menekankan pada pencapaian target energi nasional (mengurangi impor solar) dibandingkan kesejahteraan petani sawit. → Petani kecil sering tidak mendapat akses langsung ke rantai pasok biodiesel, sehingga harga tandan buah segar (TBS) tetap fluktuatif. Pengurangan ekspor CPO Peningkatan alokasi sawit untuk biodiesel domestik mengurangi volume ekspor CPO. → Dampaknya, penerimaan negara dari devisa ekspor berkurang, meski impor BBM menurun.
- Ketergantungan pada perusahaan besar Hilirisasi biodiesel lebih banyak dikuasai oleh perusahaan besar dan BUMN energi. → Petani sawit rakyat tidak memiliki posisi tawar yang kuat, sehingga kebijakan ini berpotensi meninggalkan mereka.
Sementara itu, PT Agrinas Palma Persada, bersiap menjadi pemain besar hilirisasi sektor kelapa sawit.
Hanya dalam setahun, perusahaan telah membukukan pendapatan sebanyak Rp4,3 juta triliun, dengan keuntungan bersih Rp1,6 triliun.