Renyah Bisnis 'Bagore' dan Smes Penghilang Stres Sunadi

Usaha rintisan itu telah bertransformasi menjadi bisnis mapan dengan omzet menyentuh angka Rp50 juta per bulan.

Renyah Bisnis 'Bagore' dan Smes Penghilang Stres Sunadi
Produk inovasi bawang goreng dengan jenama Bagore milik Sunadi, asal Indramayu. Foto: Uswatun Hasanah/Suar.id
Daftar Isi

Tangan Sunadi (35) tampak cekatan. Satu per satu pesanan ia bungkus untuk pembeli yang silih berganti datang ke stand di dalam sebuah pameran di Jakarta.

Sunadi mengisi salah satu tenant usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM) yang dibina oleh Pertamina. Di sudut toko berukuran 1x3 meter itu, ia menceritakan bagaimana mengembangkan bisnis 'Bagore' yang sudah dirintisnya sejak 2019 silam bersama istrinya.

'Bagore' singkatan dari Bawang Goreng merupakan bisnis yang lahir dari ide spontan menyusul krisis pada awal pandemi. "Ini lahir dari rasa frustasi dan bingung," ujar dia ditemui dalam sebuah acara pameran UMKM di Jakarta, Rabu (4/3/2026)

Kala itu, ia menceritakan harga bawang merah di tingkat petani di Indramayu, Jawa Barat jatuh sedalam-dalamnya. Alih-alih meratapi nasib, Sunadi yang tadinya menjual bawang harus memutar otak agar dapur tetap ngebul.

"Waktu itu harga bawang lagi hancur, murah sekali. Saya pikir sama istri, ini harus jadi produk yang punya nilai jual lebih," kenang Sunadi saat berbincang dengan SUAR.

Bersama istrinya, ia kemudian memikirkan bagaimana bawang yang saat itu tidak berharga itu bisa tetap memiliki nilai jual tinggi. Ia mulai mencoba memproduksi bawang goreng secara sederhana. Penjualan dilakukan dari lingkaran terdekat, mulai dari teman hingga jaringan media sosial.

Kini, siapa sangka, usaha rintisan itu telah bertransformasi menjadi bisnis mapan dengan omzet menyentuh angka Rp50 juta per bulan.

“Awal-awal sih door to door dari teman-teman, media sosial,” kata Sunadi.

Sunadi melayani pelanggan yang membeli produknya. Nampak produknya sudah menipis lantaran besarnya ketertarikan masyarakat yang memburu produknya. Foto: Uswatun Hasanah/Suar.id

Sunadi sadar betul, pasar bawang goreng sangatlah padat. Jika hanya menjual bawang goreng biasa, ia akan tenggelam dalam lautan kompetisi. Dari sana, eksperimen dimulai. Dari yang semula hanya varian original, kini Bagore memiliki 12 varian rasa yang unik, mulai dari terasi, cumi, jeruk purut, teri, hingga rebon.

“Awalnya itu kan kita produksi memang enggak ada varian, pure bawang goreng. Cuma saya pikir yang usaha bawang goreng itu kan banyak. Terus bagaimana caranya supaya produk kita itu enggak bikin bosan,” jelasnya.

Eksperimen rasa dilakukan secara bertahap, mulai dari menambahkan sensasi pedas hingga mencoba bahan tambahan lain seperti jeruk purut dan terasi. Respons pasar yang positif kemudian mendorongnya untuk terus mengembangkan varian baru.

“Maksudnya agar diterima dengan baik sama konsumen. Ya sudah kita kembangkan. Ini seperti cumi, Mbak lihat deh varian cumi ini kan cuminya ada banyak, jadi enggak cuma rasa, tapi ada tekstur juga. Jadi pembeli senang,” kata dia.

Perjalanan bisnis Sunadi juga mendapat dorongan setelah bergabung sebagai mitra binaan Pertamina. Ia menjelaskan, keterlibatannya bermula dari partisipasi dalam acara ulang tahun daerah, di mana produknya dipamerkan berdampingan dengan pelaku UMKM binaan Pertamina lainnya. Dari situ, ia mulai mencari informasi untuk bergabung dalam program tersebut.

“Terus ngobrol lah bagaimana caranya supaya produk kita itu bisa masuk CSR dia. Dia (pihak Pertamina) menyetujui, nanti datang ke rumah,” ujarnya.

Tak lama kemudian, tim dari Pertamina melakukan verifikasi langsung ke lokasi usaha dan membentuk kelompok usaha bersama yang terdiri dari sekitar 10–15 orang. Setelah itu, bantuan mulai diberikan dalam bentuk peralatan produksi.

“Dia enggak pernah kasih uang, tapi dia support peralatan,” imbuh Sunadi.

Selain peralatan, dukungan juga diberikan dalam bentuk akses pemasaran, termasuk peluang mengikuti pameran UMKM seperti Smexpo. Sunadi mengaku telah mengikuti kegiatan tersebut sejak 2023, setelah melalui proses seleksi. Kegiatan itu menjadi salah satu kanal penting dalam memperluas pangsa pasarnya.

“Pertama kali aku ikut Smexpo itu di Gandaria tahun 2023. Terus tiap tahun saya ikut sampai 2025,” ucap Pria asal Losarang, Indramayu tersebut.

Dalam operasional sehari-hari, usaha Bagore kini melibatkan sekitar 10–12 pekerja dari lingkungan sekitar, terutama ibu-ibu dan lansia. Mereka terlibat dalam proses produksi seperti pengupasan dan penggorengan bawang. Sunadi menyebut keterlibatan warga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi desa.

Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar dalam bisnisnya terletak pada ketersediaan bahan baku. Pasalnya, Bagore menggunakan bawang jenis Sumenep yang dinilai lebih cocok untuk digoreng, bukan untuk memasak, namun pasokannya terbatas dan bergantung pada musim.

“Bahan baku. Selama ini tantangannya bahan baku karena bawang kita ini enggak kayak bawang Brebes,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bawang Sumenep memiliki karakter berbeda dibandingkan bawang merah pada umumnya. Bawang ini tidak digunakan untuk memasak karena rasanya cenderung hambar, tetapi justru cocok untuk diolah menjadi bawang goreng.

Keterbatasan produksi tersebut juga dipengaruhi kondisi cuaca. Pada musim hujan, risiko gagal panen meningkat di sejumlah daerah pemasok seperti Majalengka dan Kuningan. Kendati dia memiliki tanah seluas 5000 meter persegi untuk ditanami bawang, namun dia mengaku tanah tersebut belum bisa mencukupi produksinya sehingga dia harus memasok dari luar daerah.

“Hanya cukup dalam produksi kecil dan konsumsi sehari-hari saja, jadi saya harus nyari ke luar daerah. Itu pun harus rebutan sama pengusaha yang udah gede jika bawang langka gara-gara hujan, atau yang lain. Kalau musim penghujan kayak gini memang susah karena banyak yang gagal panen,” beber Sunadi.

Di tengah tekanan tersebut, Sunadi tetap harus memenuhi permintaan pasar, termasuk saat mengikuti pameran. Dalam satu kesempatan, ia membawa sekitar 1.000 produk untuk dijual dalam waktu lima hari yang semua ludes terjual. Dia menyebut bahwa para pembeli menggandrungi varian jeruk purut pedas.

Voli dan Mancing

Menjual produk dengan bahan baku yang bergantung tinggi pada alam bukan perkara mudah. Bahan baku utama Bagore adalah bawang jenis Sumenep—jenis yang menurut Sunadi paling pas untuk digoreng namun sulit didapat karena tak sepopuler bawang Brebes.

Saat musim hujan tiba dan gagal panen menghantui pemasok di Majalengka atau Kuningan, tekanan darah Sunadi pun ikut naik.

"Kalau bahan baku susah tapi target produksi jalan terus, rasanya seperti diuber-uber. Capek sekali," ujar dia.

Untuk menjaga kewarasan, Sunadi punya dua "obat" manjur, voli dan memancing. Voli adalah sisi sosialnya. Sejak SMP, ia sudah akrab dengan lapangan tanah. Baginya, menghantam bola sekuat tenaga di udara adalah cara terbaik melepaskan stres.

"Pukul-pukul bola itu bikin bebas stres. Ada seriusnya, tapi banyak bercandanya dengan teman-teman," ujar pria yang bahkan rela meninggalkan urusan bisnis jika turnamen antar-desa sudah memanggil. Prestasinya pun tak main-main, ia pernah membawa pulang trofi juara di kompetisi tingkat lokal.

Ia memilih voli karena memberikan ruang interaksi sosial sekaligus hiburan. Menurutnya, olahraga voli yang kebanyakan dilakukan dengan memukul bola membuatnya rileks dan melepaskan stress dari pekerjaan yang membebaninya. Dalam satu minggu, ia bisa bermain hingga lima kali, tergantung dari jadwal kerja. Adapun permainan dilakukan secara fleksibel bersama rekan-rekan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Alasannya karena saya bisa bermain (voli) dengan baik ya, bertemu teman, ada serius dan bercanda juga. Itu pukul-pukul bisa bikin saya bebas stress,” kata Sunadi.

Ia juga aktif mengikuti turnamen antar desa hingga tingkat kecamatan. Bahkan, ia pernah meraih juara pertama dalam salah satu kompetisi yang diadakan oleh salah satu BUMN pelat merah.

“Ada ikut turnamen voli. Kesibukan apa pun saya tinggalkan jika ada turnamen,” ucapnya.

Sunadi dengan ketekunannya di olahraga voli membuahkan hasil juara 3. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Selain voli, memancing menjadi aktivitas lain yang membantu meredakan tekanan pekerjaan. Berbeda dengan voli yang bersifat sosial, memancing lebih memberikan ketenangan dan ruang refleksi. Di tepi air, Sunadi melepaskan jabatannya sebagai bos UMKM, dan bermutasi menjadi pemancing handal.

“Kalau mancing mengesampingkan urusan perniagaan atau lebih tepatnya bisa buat refresh pikiran,” kata dia.

Ia menggambarkan sensasi saat mendapatkan ikan sebagai pengalaman emosional yang menyenangkan serta menenangkan. Membuat Sunadi bisa merenungkan karir, keluarga, serta apa saja yang terjadi dalam hidupnya selama ini.

“Lebih ke perasaan kayak orang jatuh cinta, nembak lalu diterima,” kelakarnya.

Sementara itu, ketika ia tidak kunjung mendapatkan hasil berupa ikan yang menyambar jorannya, ia justru merasa tertantang untuk mencoba kembali.

“Jatuhnya lebih ke penasaran, kok kenapa enggak dapat, terus aja diulang-ulang sampai dapat,” kata Sunadi.

Sama seperti bisnis, ujar dia, ia akan terus mencoba sampai mendapatkan hasil yang diinginkan.

Lebih lanjut, dalam mengatur waktu, Sunadi mengandalkan fleksibilitas. Untuk menjaga keseimbangan dalam menjalankan usahanya, maka ia mendelegasikan sebagian pekerjaan kepada tim yang dia punya.

“Masih aman karena ada yang backup. Jadi aman karena kami sama-sama senang,” cetus Sunadi.

Ia menegaskan, pengelolaan waktu menjadi kunci agar bisnis tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan pribadi, termasuk waktu untuk keluarga dan hobi agar berjalan secara seimbang.

Meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari bahan baku hingga target produksi, Sunadi menyebut aktivitas di luar pekerjaan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.

“Ngejar target, apalagi sudah janji sama customer terus bahan baku susah, itu yang bikin saya ngerasa capek. Kayak diuber-uber. Jadi saya lampiaskan ke voli dan mancing tadi. Itu bikin otak saya segar buat ngelola bisnis yang saya tekuni,” kata dia.

Penulis

Baca selengkapnya