Produsen petrokimia dalam negeri mulai menemukan titik terang dalam memperoleh pasokan bahan baku alternatif di tengah terganggunya suplai dari Timur Tengah.
Langkah ini menjadi respons atas konflik geopolitik yang memicu gangguan distribusi serta lonjakan harga bahan baku global, sehingga industri dipaksa mencari sumber baru di luar kawasan tradisional.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyebutkan, pelaku industri kini aktif menjajaki pasokan dari kawasan Asia Timur, Afrika hingga Amerika guna mengurangi ketergantungan pada impor dari Timur Tengah.
Beberapa negara yang mulai dilirik antara lain China, Korea Selatan, dan Jepang dari Asia Timur,Nigeria dan Angola dari Afrika serta Amerika Serikat sebagai pemasok utama dari kawasan Amerika.
“Gangguan pasokan yang sempat terjadi akibat konflik di Timur Tengah, termasuk hambatan distribusi melalui jalur utama seperti Selat Hormuz, sempat membuat industri mengalami tekanan berat. Bahkan, beberapa pabrikan sempat menetapkan kondisi force majeure akibat kelangkaan bahan baku. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pasokan alternatif mulai berdatangan meski belum sepenuhnya stabil,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (1/4)
Meski mulai ada perbaikan, tantangan logistik masih membayangi. Waktu pengiriman bahan baku dari sumber alternatif mengalami lonjakan signifikan, dari yang sebelumnya sekitar 10–15 hari menjadi hingga 50 hari. Selain itu, biaya pengiriman dan ketidakpastian volume pasokan juga meningkat, seiring banyak negara produsen yang lebih memprioritaskan kebutuhan domestiknya.
Dari sisi operasional, pelaku industri saat ini lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pelanggan dibandingkan mengejar volume produksi. Perusahaan berupaya memastikan ketersediaan produk di pasar, meskipun bahan baku yang tersedia masih terbatas dan distribusi memerlukan waktu lebih lama. Strategi ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan stabilitas pasar di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Ia menuturkan Inaplas menilai pola pasokan global akan mengalami penyesuaian seiring meningkatnya diversifikasi sumber bahan baku. Industri petrokimia nasional diharapkan dapat beradaptasi dengan kondisi baru tersebut, termasuk dengan memperkuat efisiensi dan mencari alternatif bahan baku.
"Dengan langkah ini, ketahanan industri terhadap gejolak global diharapkan semakin kuat sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tertentu, kata dia.
Tetap Force Majeure
PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) mengumumkan force majeure menyusul terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur strategis Selat Hormuz. Kebijakan ini disampaikan kepada para pelanggan melalui pemberitahuan resmi tertanggal 2 Maret 2026, sebagai bentuk antisipasi atas potensi gangguan dalam pemenuhan kewajiban kontraktual perusahaan.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi Chandra Asri Group Suryandi menuturkan penutupan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dan bahan baku petrokimia global memicu gangguan serius dalam rantai pasok.
“Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran membuat arus pengiriman bahan baku seperti nafta terhambat, sehingga berdampak langsung pada operasional industri petrokimia, termasuk Chandra Asri,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/3).
Sebagai respon, perusahaan mengambil langkah penyesuaian operasional dengan menurunkan tingkat produksi di sejumlah fasilitasnya. Manajemen menyatakan terus memantau perkembangan situasi geopolitik secara ketat dan menerapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, Chandra Asri menegaskan bahwa kebijakan force majeure merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur dan sesuai dengan ketentuan kontrak. Perusahaan juga tetap berkomitmen menjaga keberlangsungan operasional serta berkoordinasi dengan pelanggan dan pemangku kepentingan guna meminimalkan dampak gangguan pasokan terhadap kegiatan usaha.

Hadapi kendala produksi
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui sejumlah subsektor industri dalam negeri tengah menghadapi kendala produksi sebagai imbas dari eskalasi konflik Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan dampak tersebut menyasar ke industri hulu atau bahan baku yang mengandalkan impor dari Timur Tengah seperti kimia dan petrokimia.
"Yang jelas untuk bahan baku pada industri hulu yang menggantungkan bahan bakunya dari Timur Tengah itu memang sedikit tersendat,"ujar Febri dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (1/4).
Febri mengatakan hal tersebut juga turut direspons adanya sejumlah kenaikan harga dari beberapa produk turunan dari keterbatasan bahan baku seperti industri plastik dan kemasan yang turut berdampak ke industri makanan-minuman (mamin).
Dia memastikan hingga saat ini produksi dari industri tersebut masih terus berjalan sebagaimana mestinya, pihaknya akan tetap memantau perkembangan lanjutan eskalasi perang ke depan.
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan Industri petrokimia perlu segera melakukan diversifikasi sumber bahan baku untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Perusahaan dapat memperluas kontrak impor dari kawasan lain seperti Asia Timur, Amerika, hingga Afrika yang relatif lebih stabil secara geopolitik. Selain itu, optimalisasi penggunaan bahan baku alternatif seperti kondensat non-konvensional atau daur ulang plastik (chemical recycling) juga dapat menjadi solusi jangka menengah untuk menekan biaya produksi.
“Di sisi lain, strategi lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi harga minyak dan gas juga penting diterapkan guna menjaga stabilitas keuangan perusahaan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (1/4)
Di tengah tekanan biaya, efisiensi operasional menjadi kunci utama agar industri tetap kompetitif. Produsen perlu meningkatkan efisiensi energi, memperbaiki utilisasi pabrik, serta menunda ekspansi yang tidak mendesak untuk menjaga arus kas.