Produksi gas alam cair (LNG) Indonesia mulai meningkat kembali dan siap bersaing menjadi pengekspor utama. Berdasarkan data historis, produksi LNG Indonesia mencapai titik tertinggi pada tahun 2016 sebesar 1.064.671 ribu MMBTU sebelum akhirnya mengalami kontraksi berturut-turut hingga berada di titik terendah pada tahun 2021.
Namun, sejak tahun 2022, sektor ini mulai bangkit kembali dengan pertumbuhan positif yang terus berlanjut. Momentum kebangkitan ini terlihat sangat jelas pada tahun 2024, di mana produksi tercatat melonjak sebesar 7,67% mencapai angka 912.894 ribu MMBTU.
Di kancah global, posisi Indonesia sebagai eksportir LNG masih memegang peranan vital meskipun bersaing ketat dengan pemain besar lainnya. Tahun 2024, Indonesia menduduki peringkat ke-6 sebagai eksportir LNG terbesar di dunia dengan volume ekspor mencapai 17,6 million tonnes (MT).
Angka ini merepresentasikan 4,3% dari total pangsa pasar global. Posisi Indonesia berada tepat di bawah negara tetangga Malaysia yang mencatatkan volume 27,7 MT, sementara pasar global masih didominasi oleh Amerika Serikat, Australia, dan Qatar yang secara kolektif menguasai sekitar 60% ekspor LNG dunia.
Peningkatan produksi nasional selama tiga tahun terakhir menjadi sinyal positif bagi Indonesia untuk memperkuat kembali dominasinya di kawasan regional. Pertumbuhan tahunan yang konsisten, yakni sebesar 1,91% di 2022, 7,45% di 2023, dan puncaknya 7,67% di 2024, menunjukkan adanya efisiensi operasional dan optimalisasi lapangan-lapangan gas yang ada.
Peningkatan volume produksi dari 789.113 ribu MMBTU di tahun 2022 menjadi 912.894 ribu unit pada tahun 2024 memberikan fondasi yang kuat bagi keberlanjutan pasokan energi domestik maupun kebutuhan ekspor ke pasar mancanegara.
Dengan potensi yang ada, ke depannya Indonesia diprediksi bisa menjadi penopang utama produksi LNG di kawasan Asia Pasifik mulai tahun 2030 seiring dengan pengembangan proyek-proyek gas strategis. Kapasitas produksi yang terus naik saat ini merupakan fondasi untuk mengisi celah permintaan di pasar Asia Pasifik, di mana Indonesia memiliki keunggulan geografis untuk menyuplai negara-negara industri utama seperti Jepang, Korea Selatan, dan China.
Dengan tren pertumbuhan produksi yang positif sebesar 7,67% di tahun 2024 dan penguasaan pangsa pasar ekspor sebesar 4,3% menempatkan Indonesia pada jalur yang tepat menuju target 2030. Akselerasi produksi domestik menjadi kunci utama agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam transisi energi global.
Dengan potensi besar yang ada, optimalisasi investasi di sektor hulu gas akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu merealisasikan posisinya sebagai tulang punggung energi di Asia Pasifik di masa depan.