Petrus Tjandra Menjaga Ingatan Lewat Membaca dan Mengupayakan Politik Waras

Petrus Tjandra Menjaga Ingatan Lewat Membaca dan Mengupayakan Politik Waras
(Photo: Joel Muniz/ Unsplash)
Daftar Isi

Selamat berakhir pekan. 

Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Mantan Sales, Petrus Tjandra Menjaga Ingatan Lewat Membaca

  • Ditemui di kantornya di tengah Jakarta, Presiden Direktur PT Agro Investama Group Petrus Tjandra tampak rapi dengan jas hitam dan kemeja putihnya. Di sudut ruang tamunya ia semangat menjelaskan hari-harinya yang super sibuk. Satu dokumen hingga dokumen lainnya belum terpegang untuk ditandatangani. Dengan duduk berhadap-hadapan ia mulai cair menceritakan kegemaran yang dilakukannya di waktu luang.
  • Pria kelahiran Lampung, 24 Agustus 1960 ini, memiliki cara unik untuk menjaga keseimbangan hidup. Di saat banyak petinggi perusahaan memilih olahraga kelas atas seperti golf atau tenis untuk melepas penat, Petrus justru memilih tenggelam dalam barisan teks penelitian ataupun jurnal ilmiah.
‎“Kalau sudah tua begini dan berhenti belajar, bisa pikun,” ucap Petrus kepada SUAR di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
  • Puncak Perayaan Imlek Festival: Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan Puncak Perayaan Imlek Nasional–Imlek Festival 2577 bertema “Harmoni Imlek Nusantara” pada Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 20:00 WIB dengan rangkaian acara yang sudah dimulai sejak pukul 15:00 WIB di Lapangan Banteng Jakarta. Event yang bertepatan dengan Ramadan ini akan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia beserta jajaran Kabinet Merah Putih.
  • Jakarta Mega Wedding Festival (JMWF 2026): Jakarta kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan festival pernikahan terbesar yang ditargetkan untuk para semua calon pengantin di Indonesia. Acara yang memamerkan sejumlah usaha di bidang penyelenggaraan dekorasi, gaun pengantin, jasa katering, dan suvenir untuk pernikahan tersebut berlangsung dari 27 Februari hingga 1 Maret 2026 di Hall D Jie Expo Kemayoran Jakarta.

Menolak Percepatan Tanpa Makna

  • Fenomena downshifting kini muncul sebagai antitesis dari ambisi karier konvensional, di mana banyak karyawan secara sadar menolak promosi jabatan demi menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Selaras dengan filosofi slow living, keputusan ini lahir dari kesadaran bahwa kesuksesan tidak lagi diukur hanya dari materi atau kekuasaan, melainkan dari otonomi waktu dan ketenangan batin. Para profesional mulai menghindari beban manajerial yang penuh konflik dan tekanan target, serta memilih jalur yang lebih autentik dibandingkan harus terjebak dalam "sangkar besi" birokrasi yang melelahkan.
  • Bagi perusahaan, tren ini menjadi tantangan sekaligus momentum untuk meredefinisi struktur organisasi yang selama ini hanya fokus pada jalur karier vertikal. Untuk mengatasi potensi krisis kepemimpinan, divisi HRD perlu menawarkan solusi inovatif seperti jalur karier spesialis dengan kompensasi setara manajer atau fleksibilitas kerja yang lebih manusiawi.
Photo by Elin Melaas / Unsplash

Yudi Latif: Menjaga Politik Waras

  • Saudaraku, di tengah riuh kekuasaan dan desir kepentingan, politisi dan intelektual adalah dua penyangga kewarasan publik. Jika satu retak, bangunan bersama miring; jika keduanya rapuh, peradaban menunggu runtuh.
  • Agar kebijakan memantulkan nalar publik—jernih dan berpijak pada kenyataan—Pierre Bourdieu mengingatkan: politisi perlu bersikap bak ilmuwan, tekun pada fakta dan rendah hati pada bukti. Tanpa disiplin pengetahuan, kekuasaan mudah tergelincir menjadi kehendak sepihak—dari obor penerang menjadi api yang menghanguskan.
  • Namun ironi kerap datang. Joseph Stiglitz menandai paradoks: sebagian ilmuwan justru berperilaku seperti politisi. Dalam pusaran kebijakan, argumen tak lagi dipandu data, melainkan kedekatan. Fakta dipilih untuk menyenangkan kuasa. Ilmu berhenti menjadi lentera, berubah menjadi cermin bagi majikan.
Yudi Latif (Rekayasa AI/ SUAR)

Baca selengkapnya