Ditemui di kantornya di tengah Jakarta, Presiden Direktur PT Agro Investama Group Petrus Tjandra tampak rapi dengan jas hitam dan kemeja putihnya. Di sudut ruang tamu, ia semangat menjelaskan hari-harinya yang super sibuk.
Satu dokumen hingga dokumen lainnya belum terpegang untuk ditandatangani. Dengan duduk berhadap-hadapan ia mulai cair menceritakan kegemaran yang dilakukannya di waktu luang.
Pria kelahiran Lampung, 24 Agustus 1960 ini, memiliki cara unik untuk menjaga keseimbangan hidup. Di saat banyak petinggi perusahaan memilih olahraga kelas atas seperti golf atau tenis untuk melepas penat, Petrus justru memilih tenggelam dalam barisan teks penelitian ataupun jurnal ilmiah.
“Kalau sudah tua begini dan berhenti belajar, bisa pikun,” ucap Petrus kepada SUAR di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ia menyadari kalau keseimbangan waktu bekerja dan hidup itu penting sehingga ia rutin membagi waktunya sekitar 80 persen untuk bisnis, 20 persen untuk membaca dan meneliti. Kebiasaan itu, kata dia, sudah dibangun sejak kecil.
"Fisik juga sudah mulai menua, maka saya bagi waktu bisnis dengan penelitian, membaca riset, dengan demikian saya keep alive," kata alumnus FMIPA Universitas Indonesia dan peraih gelar MBA dari Prasetiya Mulya ini.
Sejak taman kanak-kanak hingga SMP, ia bersekolah di Xaverius Teluk Betung, lalu melanjutkan SMA di Xaverius Pahoman. Prestasinya menonjol. Hal itu terlihat ketika dia terpilih sebagai Pelajar Teladan SMP Xaverius Teluk Betung dan meraih peringkat kedua Pelajar Teladan tingkat SMP se-Kotamadya Tanjung Karang–Teluk Betung pada 1975.
Prestasinya yang mentereng tersebut berlanjut hingga ia duduk di Sekolah Tinggi Perkebunan Yogyakarta yang kemudian dilanjutkan ke FMIPA Universitas Indonesia (UI).

Pernah jadi sales
Kariernya tidak langsung berada di puncak pimpinan perusahaan. Ia mengaku pernah bekerja sebagai salesman rokok saat masih kuliah di Universitas Indonesia (UI).
Di lapangan, ia belajar memahami perilaku konsumen, menghadapi penolakan, mengejar target, dan membaca dinamika pasar secara nyata. Pengalaman itu menjadi sekolah kehidupan yang tidak bisa didapatkan dari kantor manapun.
Ia juga sempat berkarier di sejumlah grup besar seperti Metropolitan Group, Astra Group, dan ICDX Group.
Pengalaman lintas sektor tersebut memperkaya perspektifnya sebelum akhirnya memimpin dan memiliki Agro Investama Group, yang bergerak di bidang perkebunan, pabrik minyak sawit, serta pengembangan teknologi produksi sawit ramah lingkungan.
Menariknya, sebelum benar-benar terjun ke industri sawit, Petrus justru sempat bersikap kritis terhadap sektor ini.
“Terus terang di awalnya saya orang yang anti sawit,” tuturnya kepada SUAR.
Kegelisahannya berangkat dari apa yang ia lihat sebagai ketimpangan relasi antara petani dan pengusaha. Dalam pandangannya, petani sawit berada pada posisi tawar yang lemah.
Berbeda dengan petani sayur atau cabai yang bisa membawa hasil panen ke pasar dan melakukan tawar-menawar, petani sawit hanya memiliki pilihan menjual tandan buah segar ke pabrik atau pengumpul. Ruang negosiasi hampir tidak ada.
Dari keresahan itu lahir gagasan yang terus ia perjuangkan hingga kini. Petani sawit harus memiliki pabrik sendiri.
“Kalau dulu petani itu hanya tangan di bawah, hanya menjual, maka saya bercita-cita bagaimana petani sawit punya pabrik sendiri supaya dia tidak tangan di bawah,” ungkap Petrus.
Ia mencontohkan Thailand, di mana koperasi petani mampu memiliki pabrik skala kecil. Menurutnya, kemajuan sektor pertanian di negara tersebut tak lepas dari penghormatan terhadap profesi petani serta kebijakan pemerintah yang berpihak. Baginya, pemberdayaan petani bukan sekadar wacana sosial, melainkan fondasi keberlanjutan industri.
Isu harga menjadi perhatian lainnya. Dalam kesehariannya sebagai pimpinan perusahaan sawit, Petrus kerap mencermati laporan harga mingguan dari Apkasindo yang menunjukkan disparitas harga TBS antar daerah.
“Di sejumlah wilayah, harga bisa mencapai Rp3.700 per kilogram, sementara di daerah lain hanya Rp2.400, salah satunya karena ketiadaan pabrik atau keterbatasan infrastruktur seperti air,” sebutnya
Bagi Petrus, persoalan teknis dan struktur pasar tak bisa dilepaskan dari misi pemberdayaan petani yang selama ini dia advokasi.
Bersinggungan dengan industri yang menuntut data dan ketelitian berupa harga crude palm oil (CPO) yang fluktuatif, kerap dipengaruhi permintaan global, harga minyak bumi, hingga harga kedelai, membuat Petrus memiliki perspektif lain soal kepemimpinan.
Ia mendefinisikan kepemimpinan di sektor ini sebagai kemampuan menerima risiko dengan sikap prudent. Dia mendeskripsikan bahwa perusahaannya tidak menjual secara spot, melainkan menggunakan mekanisme harga rata-rata (average), sehingga dapat menikmati kenaikan harga sekaligus meredam dampak penurunan.
“Jangan berjudi di harga sawit. Kalau mau berjudi, ke Las Vegas atau ke Macau," cetusnya.
Ia menekankan fokus pada peningkatan produktivitas kebun, sementara harga dianggap faktor eksternal yang sulit dikendalikan.
"Kita fokus di kebun, memperbaiki produktivitas saja. Soal harga yang terlalu berisiko itu di luar kemampuan kita. Kita usahakan dengan baik," jelasnya.
Ia menekankan fokus pada peningkatan produktivitas kebun, sementara harga dianggap faktor eksternal yang sulit dikendalikan.
"Kita fokus di kebun, memperbaiki produktivitas saja. Soal harga yang terlalu berisiko itu di luar kemampuan kita. Kita usahakan dengan baik," jelasnya.
Pendekatannya dalam berbisnis tersebut, ia sebut sebagai scientific businessman. Dengan kata lain berbisnis sambil mengembangkan ilmu.

Sosok Idola
Terkait sosok yang ia kagumi dalam hal pengetahuan sawit, ia mengaku Sahat Sinaga merupakan teladan baginya. Petrus bahkan menyebut Sahat sebagai “ensiklopedia sawit Indonesia”.
Pasalnya, Sahat merupakan kawan yang berlatar belakang akademisi, bukan murni pebisnis.
"Dia sosok yang mengerti masalah budidaya, teknik, sosial, sejarah. Dia bukan businessman, dia tokoh sawit sendiri,” cetusnya.
Sosok lain yang menginspirasinya adalah Ciputra (Founder Ciputra Group). Dia menilai Ciputra merupakan sosok yang konsisten dan fokus pada satu bidang usaha saja.
"Dia (Ciputra) orangnya itu konsisten. Jadi pengusaha itu mestinya kalau (fokus) sawit, ya harus menguasai mulai dari ilmunya, ekonomi, sosialnya. Harus lihat dari segala aspek dalam bidang sawit ini," tuturnya.
Di atas strategi dan ambisi, Petrus menempatkan kejujuran sebagai prinsip utama. Ia mengibaratkan hidup seperti pesawat yang memiliki black box atau catatan yang merekam apakah prosedur dijalankan dengan benar.
Baginya, sukses atau gagal adalah bagian dari proses, tetapi kejujuran menentukan apakah seseorang layak ditolong saat menghadapi kesulitan.
“Kalau Anda jujur dan susah, pasti ada yang menolong. Kalau penipu, siapa yang mau nolong?” ujarnya.
Dalam praktik bisnis, ia juga memandang aspek spiritual sebagai fondasi. Keyakinan agama tetap menjadi pegangan dalam mengambil keputusan.
"Saya sangat yakin kalau kita sudah berbuat baik sesuai dengan ajaran agama, kita tidak takut gagal," ucapnya.
Dalam berbisnis, menurut Petrus penting untuk memegang teguh ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari agar memperoleh kesuksesan dan tetap tabah dalam menjalani segala rintangan.
"Walaupun ada cobaan, kegagalan itu biasa," imbuhnya.
Soal keseimbangan antara ambisi bisnis dan kehidupan pribadi, Petrus mengakui itu bukan perkara mudah. Dalam bisnis, menurutnya, orang cenderung sulit berhenti saat untung dan enggan menyerah saat rugi.
Ia menyebut keseimbangan sebagai sesuatu yang pada akhirnya harus diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Manusia, katanya, memiliki ambisi yang sulit dikendalikan sepenuhnya.