Pertumbuhan Penjualan Sektor Riil Pasca-Nataru Butuh Terobosan Kebijakan

Kuatnya faktor musiman Natal dan Tahun Baru pada angka keyakinan konsumen dan naiknya penjualan sektor riil menjadi sinyal agar dunia usaha mulai berstrategi kembali sehingga penjualan riil tetap dapat tumbuh, meskipun faktor musiman mulai mereda.

Pertumbuhan Penjualan Sektor Riil Pasca-Nataru Butuh Terobosan Kebijakan
Pedagang melayani pembeli di Pasar Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (8/1/2026). Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan indeks keyakinan konsumen (IKK) bertahan dengan sedikit penurunan dari 124,0 pada November 2025 menjadi 123,5 pada Desember 2025. Bersamaan dengan itu, indeks penjualan riil (IPR) Desember 2025 diprakirakan tetap tumbuh 4,4% year on year (YoY).

Kuatnya faktor musiman Natal dan Tahun Baru pada angka keyakinan konsumen dan naiknya penjualan sektor riil menjadi sinyal agar dunia usaha mulai berstrategi kembali sehingga penjualan riil tetap dapat tumbuh, meskipun faktor musiman mulai mereda.

Dalam laporan Survei Konsumen Desember 2025, BI menyatakan tetap kuatnya keyakinan konsumen bersumber dari keyakinan terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan yang berada pada level optimis, dengan indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) tercatat pada level 111,4 dan indeks ekspektasi konsumen (IEK) tercatat 135,6.

"Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen pada Desember 2025 meningkat untuk kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta-Rp 5 juta, dengan peningkatan IKK tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta-Rp 5 juta, yaitu dari 126,9 menjadi 129,2," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso melalui keterangan tertulis, Jumat (09/01/2026).

Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tetap kuat berkat peningkatan indeks ketersediaan lapangan kerja dari 103,7 menjadi 106,5, dengan kelompok responden dengan peningkatan tertinggi dialami kelompok pascasarjana. Di samping itu, responden usia 20-30 tahun juga mencatatkan peningkatan dalam indeks pembelian barang tahan lama (durable goods) dari 113,9 menjadi 117,4.

Dengan persepsi optimis tersebut, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diprakirakan tetap kuat, dengan indeks ekspektasi penghasilan tercatat lebih tinggi di level 140,8 dan indeks ekspektasi kegiatan usaha tetap berada di level optimis 130,8 , meskipun mengalami sedikit penurunan dari bulan sebelumnya.

Kemampuan IKK bertahan tercermin secara riil dalam kinerja penjualan eceran yang naik secara bulanan maupun tahunan. BI mencatat indeks penjualan riil (IPR) November 2025 mencapai level 222,9, tumbuh 6,3% YoY dan diprakirakan tumbuh 4,4% YoY pada bulan Desember 2025.

Kelompok Suku Cadang dan Aksesori mengalami peningkatan tertinggi 17,7% YoY, diikuti kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (8,5% YoY), serta kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (8,1% YoY). Persentase ini mengalami sedikit penurunan pada prakiraan Desember 2025, meski peningkatan permintaan dan kelancaran distribusi memungkinkan tingkat penjualan bertahan.

"Secara bulanan, IPR tumbuh 4,0% mtm, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,5% mtm. Peningkatan tersebut didorong kinerja mayoritas kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, diikuti Barang Budaya dan Rekreasi, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Makanan Minuman dan Tembakau," jelas Denny.

Berakhirnya faktor musiman menyebabkan responden memprakirakan penjualan eceran akan menurun dalam 3 bulan yang akan datang, tercermin dari indeks ekspektasi penjualan (IEP) Februari 2026 yang tercatat turun dari 157,2 ke 143,2 karena faktor seasonal jumlah hari yang sedikit. Namun, penjualan diprakirakan kembali naik dalam 6 bulan yang akan datang, didorong kenaikan permintaan pada rangkaian hari besar keagamaan Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

Perlu persiapan

Meskipun optimisme dan ekspektasi positif keyakinan konsumen serta penjualan riil tampak menjanjikan, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengingatkan penjualan ritel yang saat ini hanya akan tumbuh hingga mencapai puncak pada pekan libur Idulfitri pada bulan Maret mendatang.

"Karena momentumnya untuk konsumsi sektor riil adalah Nataru dan Lebaran, ditambah Imlek. Baru kita akan menghadapi masalah setelah April sampai September, itu yang harus dipikirkan untuk mengangkat daya beli. Stimulus dan kebijakan ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja perlu dimaksimalkan pada bulan itu agar daya beli terjaga," ucap Budihardjo saat dihubungi, Senin (12/01/2026).

Baca juga:

Penjualan Ritel Diperkirakan Menguat Enam Bulan ke Depan
Indesk Ekspektasi Penjualan (IEP) September 2025 yang dirilis Bank Indonesia (BI) menjelaskan, penjualan tiga bulan ke depan yakni Desember 2025 dan enam bulan ke depan yakni Maret 2026 diperkirakan bakal naik.

Sepandangan dengan Budihardjo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menggarisbawahi agar keyakinan konsumen yang tetap kuat dan penjualan riil yang tetap tumbuh perlu dicermati kalau-kalau hanya bersifat sentimental, tetapi belum mencerminkan pulihnya daya beli secara keseluruhan.

"Saat ini, dengan sektor riil masih menghadapi tekanan seperti pemulihan manufaktur yang belum merata, kenaikan harga sejumlah komoditas masih dapat menahan belanja masyarakat. Moderasi dapat mulai terjadi pada Kuartal-II dan III ketika pengaruh musiman mereda, terutama jika tidak ada intervensi kebijakan dari pemerintah," ujarnya.

Dengan memastikan momentum positif keyakinan konsumen yang terjaga dan penjualan riil yang terangkat seiring faktor musiman ini, Shinta menegaskan, dunia usaha tetap membutuhkan konsistensi stimulus daya beli, percepatan belanja pemerintah, stabilitas harga pangan, serta perbaikan iklim usaha secara berkesinambungan untuk memastikan konsumsi dan produksi tetap solid pada awal 2026.

Tetap terbatas

Selain mencerminkan kuatnya faktor musiman, pertumbuhan keyakinan konsumen dan meningkatnya penjualan riil hingga akhir tahun menjadi sinyal konsumsi rumah tangga domestik tetap tidak tergoyahkan sebagai penopang pertumbuhan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan, IKK yang bertahan linier dengan tren kenaikan indeks PMI yang didorong permintaan domestik, bukan dari ekspor. IKK mampu bertahan karena indeks penjualan riil juga tumbuh secara bulanan maupun tahunan.

"Tetapi kita tetap harus lihat di lapis mana permintaan ini meningkat, apakah di kelas menengah yang selama ini mengalami penurunan daya beli atau tidak. Karena itu, untuk bisa mengatakan apakah kenaikan ini bisa sustain, mungkin kita harus lihat dulu sampai faktor musiman lewat," ucap Faisal saat dihubungi, Senin (12/01/2026).

Penjualan ritel dan keyakinan konsumen dapat bertahan sesudah dorongan faktor musiman Natal dan Tahun Baru jika kenaikan pendapatan terjadi, mengingat daya beli masyarakat ditentukan dari kenaikan tersebut. Stimulus yang sudah dikucurkan memang dapat membantu permintaan, tetapi dampaknya relatif terbatas dan hanya akan membantu dalam jangka pendek.

"Stimulus dapat dianggap efektif jika dia bisa mengangkat permintaan dalam jangka panjang, tidak hanya sesaat. Harapannya seperti itu, apalagi di saat yang sama, stimulus fiskal juga dibarengi stimulus moneter dengan penurunan suku bunga acuan. Kombinasi ini mudah-mudahan bisa membantu mengerek dari sisi permintaan," pungkasnya.

Berbagi pandangan dengan Faisal, peneliti senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai, indikasi masyarakat yang lebih berani berbelanja dan kenaikan penjualan riil akibat faktor musiman masih terlalu dini sebagai indikator pemulihan daya beli karena faktor lain seperti perubahan kebijakan, ketidakpastian ekonomi global, dan momentum juga sangat menentukan.

"Yang jelas dia lebih optimis, dan konsumen itu lebih berani belanja, lebih berani konsumsi. Baru terbatas itu implikasinya. Kenaikan daya beli harus dilihat apakah pendapatan ikut membaik atau tidak, terutama karena sejauh ini belum ada terobosan kebijakan selain stimulus," jelasnya.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya