Bagi Rai Suryawijaya, Bali tidak hanya dianggap sebagai tanah kelahirannya, tapi juga tempat ia menempa diri. Di pulau dengan budaya yang kaya ini pula ia membangun martabat di sektor pariwisata.
Menjabat sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), kecintaan Rai terhadap Pulau Dewata tak perlu diragukan lagi. Rai menemani Bali di masa-masa terpuruknya hingga kini Bali menempati tujuan top wisata dunia.
Di ujung telepon, ingatan Rai mundur 24 tahun lalu. Kala itu, bom bunuh diri meledak di Paddy's Pub pada 12 Oktober 2002. Tak lama berselang, sebuah mobil yang penuh dengan ratusan kilogram bom meledak di depan Sari Club yang berlokasi sama di Jalan Legian, Kuta Bali.
Setidaknya 202 orang tewas dalam peristiwa terorisme yang dikenal paling mematikan sepanjang sejarah itu. Mayoritas korban jiwa merupakan wisatawan asing dari 21 negara, 88 di antaranya merupakan warga Australia.
Peristiwa yang dikenal sebagai Bom Bali I itu tak hanya meluluh lantakkan bangunan, tapi juga merobek rasa aman segala sendi kehidupan masyarakat di Bali. Pulau yang tadinya ramai dikunjungi wisatawan itu berubah mencekam. Beberapa negara mengeluarkan larangan berkunjung, menyebabkan Bali sepi pengunjung.
Di tengah trauma akan rasa aman itulah, Rai menyadari kalau Bali tidak hanya butuh pemulihan ekonomi tapi juga kesembuhan jiwa. Setahun dari peristiwa itu, ia bersama para sahabat mendirikan Yayasan "Gema Perdamaian", yang merupakan wadah untuk menyuarakan perdamaian dan didasari atas rasa kebersamaan.
"Kekerasan tidak memiliki tempat di atas tanah ini. Melalui Gema Perdamaian, saya ingin menyuarakan bahwa hidup tidak boleh dinodai oleh intimidasi dan pembunuhan. Bali adalah rumah bagi harmoni," kata Rai saat berbincang di Jakarta, Rabu (8/1).

Memupuk batin yang luka
Rai sadar mengobati batin masyarakat Bali membutuhkan proses panjang. Menurut dia, perdamaian bisa diperoleh dengan hidup rukun, harmonis, saling menghormati dan toleransi dengan sesama manusia, alam dan segala isinya.
Rai menambahkan misi utama dari organisasi ini adalah menjadikan Gema Perdamaian sebagai wahana edukasi masyarakat sehingga terbentuk mindset damai, mengenal perbedaan sebagai fakta alam nyata yang tak terbantahkan dan dapat hidup saling menghormati dan menghargai di masyarakat.
Beberapa misinya antara lain membuat hari lahir Gema Perdamaian sebagai peringatan hari raya suci perdamaian seluruh umat beragama serta aliran kepercayaan yang ada.
"Saya ingin Bali sebagai ikon dunia dan dapat dikenal sebagai tempat yang damai sehingga dapat memberikan inspirasi kepada dunia. Sebagaimana manusia senantiasa mengupayakan dan mengingatkan dirinya untuk menjaga hening dan kedamaian hatinya sebagai dasar sikap dan perbuatannya," kata dia.

Setiap tahun, tepat saat dunia memperingati Hari Perdamaian PBB pada 21 September, Gema Perdamaian memulai langkahnya. Dimulai dari sarasehan di Gong Perdamaian Kertalangu, rangkaian edukasi ini terus berlangsung hingga puncaknya pada hari Sabtu terdekat sebelum 12 Oktober.
Di bawah bayang-bayang Monumen Bajra Sandhi, Renon, suasana magis tercipta. Ribuan orang dari berbagai latar belakang datang dari pejabat, pendeta, biksu, ulama, hingga seniman dan mahasiswa berkumpul saat matahari mulai condong ke ufuk barat
Dalam acara itu, mereka menggaungkan doa dan vibrasi hening perdamaian yang dilakukan bersama dengan semua agama dan aliran kepercayaan yang ada.
"Kami mengucapkan doa-doa agar kedamaian merambat lagi dari setiap sudut dan sisi di Bali. Ini jadi tempat berkumpul dan menyatunya anak bangsa untuk menjalankan panggilan nuraninya tanpa terbedakan oleh agama dan kepercayaan yang dianutnya, suku, dan adat-istiadat," kata dia.
Acara dimulai dengan pameran keberagaman pengajaran atau praksis beragama/aliran kepercayaan, yoga, padayatra, sambutan gubernur, doa bersama dan hiburan.
Rai sangat mencintai segala aspek tentang Bali baik itu masyarakat, alam, budaya hingga makanannya, melalui organisasi Gema Perdamaian ini, ia berharap nama Bali tetap harum dan menjadi destinasi favorit liburan.

Kegiatan sosial
Rai mengatakan selain menyuarakan gerakan perdamaian, organisasi Gema Perdamaian juga melakukan kegiatan sosial berupa pembagian sembako dan bedah rumah.
Dibalik keindahan lanskap dan pemandangannya, ada sebanyak 6.000 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Karangasem masih berada di bawah garis kemiskinan, demikian berdasarkan data pemda setempat.
Hal ini memantik kepedulian dari berbagai pihak termasuk Komunitas Gema Perdamaian dengan menggelar kegiatan sosial berupa pembagian sembako dan program bedah rumah.
"Melalui program bedah rumah dan pembagian sembako, kami ingin masyarakat merasakan solidaritas perdamaian yang nyata," kata dia.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah relawan dan komunitas yang berkomitmen untuk membantu warga yang kurang mampu di wilayah Karangasem. Sebanyak 125 paket sembako dan pakaian layak pakai juga dibagikan kepada warga setempat.
Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban hidup masyarakat yang tengah berjuang melawan kemiskinan.
Rai mengatakan kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun dan menjadi salah satu program utama selain acara-acara bertema perdamaian lainnya, seperti yoga dan meditasi damai.
Menandai 22 tahun perjalanannya, Gema Perdamaian kembali membangun rumah layak huni. Dengan bata merah dan standar bangunan sederhana, rumah-rumah berukuran 6 x 3 meter berdiri.
Rumah-rumah itu nampak sederhana, tapi bagi keluarga penerima manfaat, bangunan itu adalah sebuah "istana". Di dalamnya, para relawan tidak hanya membangun kamar tidur, dapur tapi juga memastikan adanya sanitasi yang layak.
"Perut yang kenyang dan atap yang tidak bocor membuat perdamaian sejati bisa dicapai. Ini menyadarkan bahwa hidup harmonis itu penting," kata dia.
Kini, kegiatan Gema Perdamaian tak hanya dilakukan di Denpasar, Bali, melainkan di daerah lainnya seperti Karangasem, Ubud, Kuta dan Jembrana. Saat ini Gema Perdamaian juga berhasil mengumpulkan komunitas antar-umat beragama serta komunitas donatur dari berbagai pihak.
"Selain rasa aman, kemiskinan adalah ancaman bagi kedamaian batin seseorang," ujar dia.