Perekonomian Dalam Periode Libur Panjang Lebaran

Kurasi peristiwa terpenting yang perlu diketahui semesta dunia usaha untuk mengawali hari.

Perekonomian Dalam Periode Libur Panjang Lebaran
Foto: Antara/Aprillio Akbar/tom.
Daftar Isi

Selamat pagi, Chief… 

Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Di Tengah Perang AS-Iran dan Tren Depresiasi Rupiah, BI Pilih Pertahankan BI Rate 4,75%

  • Merespon meningkatnya ketidakpastian global pasca ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang memicu tren pelemahan nilai tukar rupiah, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) pada posisi 4,75%. Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di kawasan Timur Tengah, serta menjaga capaian inflasi 2026-2027 pada sasaran 2,5% plus minus 1%.

Konsumsi Masyarakat Putar Rp148 Triliun Sepanjang Libur Lebaran

  • Konsumsi masyarakat sepanjang periode cuti bersama dan libur hari raya Idulfitri 1447 Hijriah antara 16 Maret-25 Maret 2026 berpotensi mendorong perputaran uang hingga Rp148 triliun. Sebagai momentum konsumsi tinggi terakhir di triwulan pertama 2026, perputaran ini sekaligus menjadi pendorong yang menentukan keberhasilan Indonesia mengejar target pertumbuhan kuartal I sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Momen gelontoran uang tersebut bisa mendorong konsumsi masyarakat berupa belanja makanan minuman, pakaian, transportasi, akomodasi, dan lain-lain.

Asuransi Panen Rezeki di Tengah Arus Mudik Lebaran

  • Prospek asuransi perjalanan dan kecelakaan diri diproyeksikan meningkat menjelang momen mudik Lebaran 2026. Tingginya aktivitas perjalanan jarak jauh saat Lebaran yang berdampak langsung pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi. Alhasil, kondisi itu turut membuka peluang pertumbuhan premi pada sejumlah lini bisnis asuransi umum. Dengan proyeksi sekitar 143 juta orang melakukan perjalanan mudik pada 2026, momentum ini tentu dapat menjadi peluang bagi industri asuransi untuk memperluas pemanfaatan produk perlindungan perjalanan.

Exit, Voice, and Loyalty: Pak JK, Rating Agencies, dan Risiko Kepercayaan Ekonomi

  • Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan. Dalam situasi ketidakpastian, sinyal yang paling berbahaya sering kali bukan apa yang dilakukan orang, tetapi apa yang mereka coba sampaikan sebelum mereka bertindak. Dalam banyak episode krisis—baik di Indonesia maupun di negara lain—kita sering terlambat membaca tanda-tanda awal. Padahal, tanda-tanda tersebut biasanya sudah muncul jauh sebelum krisis benar-benar terjadi. Kerangka exit, voice, and loyalty yang diperkenalkan oleh Albert O Hirschman memberikan cara yang sangat sederhana tetapi kuat untuk memahami dinamika tersebut. Ketika individu, pelaku ekonomi, atau institusi melihat penurunan kinerja atau meningkatnya risiko, mereka pada dasarnya memiliki tiga pilihan: keluar dari sistem (exit), menyuarakan kritik (voice), atau tetap bertahan dengan harapan perbaikan (loyalty).
Mohamad Ikhsan. Foto: AI / SUAR.

Produksi Listrik Meningkat, tapi Konsumsi oleh Pelanggan Industri Menurun

  • Pemerintah menjamin ketercukupan energi listrik hingga ke seluruh pelosok negeri untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional. Kapasitas terpasang dan produksi listrik terus ditingkatkan. Laporan Statistik PLN menunjukkan kapasitas terpasang listrik nasional terus merangkak naik secara konsisten, dari 44.174,8 MW di tahun 2020 hingga mencapai 47.464,24 MW pada tahun 2025. Peningkatan tersebut terwujud karena pembangunan infrastruktur pembangkit yang terus dilakukan guna menjamin ketersediaan daya bagi seluruh pelosok negeri. Sejalan dengan penambahan kapasitas tersebut, angka produksi listrik juga menunjukkan pertumbuhan yang dinamis. Sempat mengalami lonjakan tajam dari angka yang sangat rendah di tahun 2020 sebesar 265,12 GWh menjadi 297.830,18 GWh pada 2021, produksi listrik Indonesia terus melesat hingga menyentuh angka 344.510,26 GWh pada akhir 2025. 

Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve (The Fed). Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan moneternya pada 18 Maret 2026 pada pukul 14.00 EDT (Easter Daylight Time) atau jam 01.00 WIB pada 19 Maret 2026. Adapun beberapa poin yang rutin disampaikan The Fed antara lain seperti keputusan besaran suku bunga acuan dan Summary of Economic Projections (SEP) per kuartal.

"Merek Anda adalah apa yang orang lain katakan tentang Anda ketika Anda tidak ada di dalam ruangan." (Jeff Bezos - Pendiri & Executive Chairman Amazon)

Selamat beraktivitas, Chief.

Tim SUAR

Baca selengkapnya