Perdagangan Indonesia-Iran di Tengah Bayang-Bayang Konflik Geopolitik

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, perdagangan bilateral kedua negara periode 2021–2025 secara konsisten mencatatkan surplus bagi Indonesia. 

Perdagangan Indonesia-Iran di Tengah Bayang-Bayang Konflik Geopolitik

Hubungan dagang antara Indonesia dan Iran dalam lima tahun terakhir menunjukan kinerja yang positif dengan mencatatkan surplus perdagangan bagi Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, perdagangan bilateral kedua negara periode 2021–2025 secara konsisten mencatatkan surplus bagi Indonesia. 

Tren positif tersebut mencapai puncaknya pada tahun 2025, di mana nilai ekspor Indonesia melonjak ke angka USD249,08 juta, naik signifikan dari tahun sebelumnya sebesar USD206,21 juta. Sebaliknya, ketergantungan Indonesia terhadap barang kiriman Iran justru menyusut drastis. 

Nilai impor terus tergerus hingga hanya menyentuh USD8,85 juta pada tahun 2025. Pola ini mengindikasikan bahwa Indonesia berhasil memperkuat pasarnya di Iran sekaligus melakukan diversifikasi atau pengurangan asupan produk dari negara tersebut.

Dari sisi komoditas, Indonesia mengandalkan sektor agrikultur dan manufaktur ringan sebagai mesin ekspor utama. Komoditas dengan kode HS 08 (buah-buahan), khususnya pinang (areca nuts) dan kelapa, mendominasi dengan total nilai mencapai USD86,4 juta dan volume 72,5 ribu ton. 

Kekuatan ekspor ini diikuti oleh sektor perkayuan (Harmonized System/HS 44), produk kimia (HS 38), serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) yang masing-masing menyumbang nilai di kisaran USD20 juta hingga USD21 juta.

Selain itu, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) juga mulai merangkak naik. Struktur ekspor yang didominasi oleh bahan baku industri dan pangan ini menunjukkan bahwa produk Indonesia memiliki peran krusial dalam rantai pasok kebutuhan dasar di Iran.

Sementara itu, profil impor Indonesia dari Iran didominasi oleh komoditas yang bersifat spesifik dan strategis. Menariknya, produk unggulan impor Iran juga berasal dari sektor buah-buahan (HS 08), namun dengan jenis yang berbeda seperti kurma, pistachio, dan anggur, dengan volume mencapai 3,26 ribu ton. 

Selain produk pangan, Indonesia juga mengimpor bahan bakar mineral (HS 27), besi dan baja (HS 72), serta berbagai material konstruksi seperti semen, asbes, dan mika (HS 68). Meskipun volumenya cenderung menurun, komoditas ini tetap menjadi elemen pelengkap bagi industri dalam negeri Indonesia, terutama untuk mendapatkan akses bahan baku tertentu dengan harga yang kompetitif.

Lima komoditas unggulan tersebut memberikan gambaran dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Dominasi ekspor buah pinang dan kelapa memberikan dampak kesejahteraan langsung bagi petani lokal di berbagai daerah di Indonesia, mengingat Iran adalah salah satu pasar tradisional yang loyal. 

Di sisi lain, ekspor produk kimia dan mesin menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah industri domestik. Namun, ketergantungan pada sektor tertentu juga menambah risiko jika konflik AS-Israel dan Iran semakin tereskalasi, gangguan pada jalur logistik di kawasan Teluk Persia hingga Hormuz dapat menghambat pengiriman yang akan menyebabkan penumpukan stok di tingkat petani dan kerugian pendapatan bagi eksportir nasional.

Eskalasi konflik terbuka yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut berisiko mengganggu stabilitas nilai tukar dan meningkatkan biaya asuransi pengiriman barang (freight). Guna menyelamatkan pasar, pemerintah dan pelaku usaha perlu segera merumuskan strategi kontingensi, seperti mencari jalur logistik alternatif atau mempercepat perjanjian dagang yang lebih fleksibel untuk memastikan bahwa hubungan perdagangan yang menguntungkan ini tidak lumpuh akibat gejolak politik di kawasan tersebut.

Baca selengkapnya