Perbankan Respon Gejolak Dunia dengan Strategi Konservatif

Tekanan geopolitik global yang disinyalir memicu volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian suku bunga, mendorong PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memperkuat manajemen risiko, menjaga likuiditas, serta lebih selektif dalam penyaluran kredit.  

Perbankan Respon Gejolak Dunia dengan Strategi Konservatif
Ilustrasi perbankan. Foto: Sean Pollock / Unsplash
Daftar Isi

Tekanan geopolitik global yang disinyalir memicu volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian suku bunga, mendorong PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memperkuat manajemen risiko, menjaga likuiditas, serta lebih selektif dalam penyaluran kredit.  

Presiden Direktur OCBC, Parwati Surjaudaja, bersama jajaran direksi dalam paparan publik yang digelar di Jakarta, Kamis (9/6/2026) mengatakan strategi tersebut ditempuh untuk merespons dinamika pasar keuangan yang dipengaruhi konflik global, tekanan inflasi, dan kebijakan moneter internasional. 

Menurut Direktur OCBC Martin Widjaja, eksposur kredit valuta asing (valas) perseroan telah ditekan dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya preferensi korporasi untuk meminjam dalam rupiah.  

“Komposisi kredit valas kita selama 2-3 tahun terakhir sudah banyak penurunan, karena banyak sekali korporasi yang lebih memilih untuk meminjam dalam bentuk rupiah,” kata Martin. 

Ia menambahkan, meskipun kredit valas masih akan tumbuh, terutama pada sektor berbasis ekspor, pertumbuhannya diperkirakan berada pada kisaran high single digit. Untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar, OCBC mengandalkan instrumen lindung nilai seperti forward, cross currency swap, dan interest rate swap yang kini digunakan secara lebih disiplin. 

Sementara itu, Direktur OCBC Johannes Husin menekankan bahwa volatilitas nilai tukar bukan hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang terbatas, terutama dalam membantu nasabah melakukan diversifikasi portofolio. Namun, prioritas utama tetap pada mitigasi risiko.  

Ia menjelaskan, bank menerapkan kerangka manajemen risiko yang ketat melalui stress test, pembatasan limit aktivitas, serta koordinasi intensif dengan regulator guna menjaga stabilitas operasional di tengah gejolak global. 

Dari sisi kebijakan moneter, Johannes menilai fokus Bank Indonesia pada stabilitas nilai tukar berpotensi menahan ruang penurunan suku bunga dalam jangka pendek. Kondisi ini dipengaruhi oleh tekanan inflasi global, terutama akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. 

Ia menambahkan, pergerakan suku bunga global masih mengacu pada kebijakan Amerika Serikat, sehingga ruang pelonggaran moneter domestik akan sangat bergantung pada perkembangan eksternal. 

Sementara itu, Parwati juga mengungkapkan pertumbuhan kredit OCBC pada 2025 melambat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama di segmen ritel seperti UMKM dan kredit pemilikan rumah (KPR). Meski demikian, segmen business banking, komersial, dan korporasi masih mencatat pertumbuhan yang relatif baik. 

“Kami melihat 2025 cukup banyak tantangan sehingga kami secara sadar menjaga agar lebih hati-hati untuk jangka panjang,” imbuhnya. 

Dari kiri ke kanan: Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC; Martin Widjaja Direktur OCBC (tengah); Andre Krishnawan Direktur OCBC. Foto: Uswatun Hasanah/Suar.id

Dari sisi likuiditas, OCBC mempertahankan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) di bawah 80% pada 2026. Strategi ini didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga yang kuat, khususnya dari dana murah (current account saving account/CASA), sehingga menjaga stabilitas pendanaan dan profitabilitas. 

Terkait hal tersebut, Direktur OCBC Hartati memperkirakan pertumbuhan dana pihak ketiga pada 2026 akan berada pada kisaran low double digit, mencerminkan optimisme terhadap likuiditas pasar yang mulai membaik. 

Johannes menambahkan, kebijakan likuiditas longgar di pasar, termasuk yang dipicu oleh intervensi pemerintah dan Bank Indonesia, turut membantu memperbaiki kondisi likuiditas industri perbankan.  

"Hal ini memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap menyalurkan kredit secara hati-hati di tengah ketidakpastian global," ucap Johannes. 

Dalam merespons kebijakan pemerintah, termasuk dorongan pembiayaan program strategis, Martin Widjaja menegaskan OCBC tetap terbuka untuk berpartisipasi. Namun, keputusan kredit tetap didasarkan pada kelayakan dan prinsip kehati-hatian. 

“Pada dasarnya, keputusan kredit itu akan berdasarkan kekuatan dari kredit itu sendiri,” cetus Martin. 

OCBC Bukukan Kinerja Stabil di Tengah Tekanan 

Kendati demikian, OCBC membukukan kinerja keuangan yang stabil sepanjang 2025 dengan laba bersih tumbuh 4% menjadi Rp5,4 triliun, di tengah perlambatan kredit dan tekanan margin bunga.  

Direktur OCBC, Hartati, menjelaskan pertumbuhan laba ditopang oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dan pendapatan non-bunga, meskipun pendapatan bunga bersih mengalami penurunan.  

“Pada tahun 2025, Bank kembali membukukan kinerja berkelanjutan. Kalau kita lihat pada laba bersih, Bank tumbuh 4% menjadi 5,4 triliun rupiah dengan ROE atau Return on Equity sebesar 12,2%,” ungkap dia. 

Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan tumbuh terbatas sebesar 2% menjadi Rp173 triliun. Meski demikian, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 1,9%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri. Penyaluran kredit didominasi sektor produktif dengan porsi 84%, yang terdiri dari kredit modal kerja sebesar 41% dan kredit investasi 43%, sementara kredit konsumsi sebesar 16%. 

Di sisi pendanaan, DPK mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 18% menjadi Rp244 triliun. Kenaikan ini terutama didorong oleh pertumbuhan giro dan tabungan (current account saving account/CASA) sebesar 24%, sehingga rasio CASA mencapai 58% pada akhir 2025. Hartati menyebut peningkatan dana murah turut menopang efisiensi dan profitabilitas perseroan. 

“Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan kredit di tahun 2025 telah mengakibatkan Loan-to-Deposit Ratio atau LDR turun menjadi 70,4%,” kata Hartati. 

Jajaran direksi OCBC NISP dalam gelaran paparan publik. Dari kiri ke kanan: Direktur OCBC Johannes Husin; Direktur OCBC, Hartati; Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja; Direktur OCBC Martin Widjaja; Direktur OCBC Andrae Krishnawan. Foto: Uswatun Hasanah/Suar.id

Dari sisi permodalan, OCBC mencatat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 24,5%, mencerminkan kapasitas yang kuat untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Selain itu, bank juga menjaga tingkat pencadangan dengan provision coverage ratio sebesar 226%, sebagai langkah mitigasi risiko kredit. 

Sementara itu, Presiden Direktur Parwati Surjaudaja menyampaikan bahwa RUPST telah menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp145 per saham atau setara Rp1,03 triliun, dengan rasio pembayaran dividen 20,42% dari laba bersih. Rapat juga menyetujui sejumlah agenda strategis, termasuk aksi share buyback, pengkinian recovery plan, serta pengambilalihan saham PT OCBC Sekuritas Indonesia dan PT Great Eastern Life Indonesia dalam rangka penguatan struktur konglomerasi keuangan. 

Di tengah kinerja keuangan yang terjaga, perseroan juga menjalankan berbagai inisiatif bisnis untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang. Parwati menyebut OCBC mengembangkan ekosistem bisnis melalui penyelenggaraan OCBC Connect 2025 untuk sektor manufaktur, serta mendorong inklusi keuangan melalui program OCBCpreneurship bagi UMKM perempuan. 

“Sepanjang tahun 2025, Perseroan terus berinovasi mengadakan berbagai aktivitas dan pengembangan layanan untuk terus mengikuti perkembangan kebutuhan nasabah,” tutur Parwati. 

Industri perbankan stabil

Dalam perspektif makro, kinerja industri perbankan tetap tumbuh positif dan stabil. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Februari 2026, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen yoy menjadi sebesar Rp8.559 triliun (Januari 2026: tumbuh sebesar 9,96 persen yoy).

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,72 persen, diikuti oleh Kredit Konsumsi sebesar 6,34 persen, sedangkan Kredit Modal Kerja sebesar 3,88 persen. Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit yang tumbuh tertinggi yaitu kredit korporasi yang tumbuh sebesar 14,74 persen yoy. Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 12,78 persen yoy.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,18 persen yoy (Januari 2026: 13,48 persen yoy) menjadi Rp10.102 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 18,56 persen yoy, 13,00 persen yoy, dan 8,12 persen yoy.

Likuiditas industri perbankan pada Februari 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 121,29 persen (Januari 2026: 121,23 persen) dan 27,4 persen (Januari 2026: 27,54 persen) dan masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 195,64 persen.

Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17 persen (Januari 2026: 2,14 persen) dan NPL net sebesar 0,83 persen (Januari 2026: 0,82 persen). Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 9,24 persen (Januari 2026: 9,01 persen). Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,37 persen (Januari 2026: 2,49 persen).

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya