Masih segar dalam ingatan Meutia Hatta (78) ketika seorang dokter perempuan asal Papua mendatangi kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Ketika itu, Meutia sudah mengemban kepercayaan sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bukan dokter biasa, perempuan Papua itu adalah seorang ahli ginekologi, cabang studi kedokteran yang secara khusus mempelajari kesehatan organ reproduksi perempuan. Dalam percakapan antara sang dokter dan ibu menteri, Meutia tak dapat melupakan alasan yang memotivasi perempuan itu mendalami bidang studi ginekologi.
"Dia bilang, 'Saya belajar ginekologi karena melihat kaum saya dipukuli suami mereka. Ada yang sampai babak belur, bahkan seorang perempuan hamil pernah dipukuli sampai keguguran, tetapi ibunya selamat," kenang Meutia saat menerima SUAR di kediamannya yang asri, Kamis (5/3/2026).
Sebagai seorang antropolog, Meutia segera arif. Di satu sisi, ia memahami kemampuan perempuan korban kekerasan itu dapat bertahan tidak lepas dari karakteristik fisiologis perempuan Melanesia yang lebih kuat.
Di sisi lain, sebagai menteri negara pemberdayaan perempuan, ia tidak bisa bersikap selain tegas menghadapi budaya yang masih mewajarkan kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki.
"Ketika bertemu saya, Ibu [I Gusti Ayu] Bintang cerita dia baru kerja sudah menangis. Bukan tidak boleh, tetapi saya bilang, 'Kita jangan menangis. Kita harus menantang ketika menghadapi kasus kekerasan. Kalau butuh, saya siap datang ke kantor Ibu. Jangan lihat saya sebagai mantan menteri, tetapi sebagai perempuan, yang pernah dipercaya dan berpengalaman. Kita harus berani hadapi itu,'" tegasnya.
Dua dunia sejak belia
Lahir di kota pelajar Yogyakarta saat revolusi fisik berkecamuk, Meutia Farida Hatta Swasono mengakui perjalanan hidupnya selalu berkisar di antara dua dunia.
Sebagai putri sulung Wakil Presiden pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta, perjumpaan dengan banyak orang dari ragam latar belakang budaya dan strata sosial-ekonomi telah terpatri di ingatannya sejak sangat belia.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan ibu kota kembali ke Jakarta pada 1950, keluarga Wakil Presiden berhak menempati istana di Jalan Medan Merdeka Selatan 13, yang kini menjadi gedung Badan Pengaturan BUMN.
Di sanalah Meutia kecil melewatkan masa kecilnya sehari-hari di bawah asuhan sang ibu, Siti Rahmiati (1926-1999) dan neneknya, Siti Satiah Annie Rachim (1902-1998).

"Di belakang rumah dinas wakil presiden itu ada barak tempat tinggal tukang cuci, tukang masak, supir, pengawal beserta keluarga mereka. Nah, setiap pulang sekolah, sesudah ganti baju, saya ke sana main dengan anak-anak pembantu sampai dipanggil untuk mandi sore. Meski anak wakil presiden, saya dididik untuk berteman dengan semua orang, dari anak presiden sampai anak tukang masak," kisah Meutia.
Dunia pertama Meutia adalah dunia perempuan. Entah bagaimana, sejarah hidup menggariskannya begitu. Sang ayah, Mohammad Hatta, adalah satu-satunya anak laki-laki dari 6 bersaudara. Meutia memiliki dua adik perempuan, dan diasuh sehari-hari oleh ibu dan neneknya. Lulus dari Sekolah Rakyat Perwari, ia didaftarkan ke SMP dan SMA Santa Ursula, sekolah khusus perempuan.
Saat mulai mengajar di Departemen Antropologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1975, Meutia lebih banyak mendapati mahasiswi yang bergabung di kelasnya dibandingkan mahasiswa. Sempat bergabung di pusat studi Kajian Wanita Universitas Indonesia yang didirikan Saparinah Sadli pada 1989, garis tangan mengantarnya menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke-7.
"Lucunya ketika saya tiba-tiba ditugaskan menjadi menteri pemberdayaan perempuan, saya tidak kenal Presiden SBY, walau sering ketemu di acara resepsi pernikahan atau undangan 17 Agustus di Istana saat dia masih menjadi Menko. Ketika tiba-tiba ditunjuk jadi menteri, ketemunya urusan perempuan lagi," kisahnya dengan tawa berderai.
Mulai menjabat pada 21 Oktober 2004, tantangan yang dihadapi Meutia saat baru menjabat sangatlah kompleks. Ia mengakui, dua minggu pertamanya sebagai menteri membuatnya cemberut hampir setiap pagi. Betapa tidak. Kasus kekerasan dalam rumah tangga begitu marak, begitu juga kekerasan seksual, kekerasan terhadap tenaga kerja wanita (TKW), hingga perdagangan perempuan.
Ketika saya ceritakan semua itu kepada suami saya, dia bilang, 'Kamu harus mencintai pekerjaan kamu. Kalau mengeluh terus, kamu tidak bisa jadi menteri yang baik.' Benar juga, ya, saya pikir.
Berkat motivasi belahan jiwanya, Meutia berupaya melaksanakan tanggung jawab sebaik-baiknya. Ketika sinergi lintas lembaga belum seperti saat ini, Meutia sudah mempraktikkannya. Tak kurang dari 12 lembaga bekerja sama memberantas kasus yang merundung perempuan, mulai dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Ketenagakerjaan, Kepolisian RI, Komnas Perempuan, hingga Direktorat Jenderal Imigrasi.
"Dalam praktik woman trafficking waktu itu, prinsipnya ketika seorang perempuan itu keluar dari desanya, dia sudah masuk dalam perangkap. Maka itu saya mulai melakukan inspeksi mendadak di bandara, juga meminta pengawasan di pos-pos perbatasan dengan Malaysia. Modusnya sangat banyak, tetapi mereka akhirnya dijebak prostitusi, bahkan perbudakan seksual," kenang Meutia.

Perjumpaan dengan perempuan-perempuan korban kekerasan menyingkap pengertian baru bagi Meutia tentang kejahatan yang menimpa mereka. Bukan hanya dipukul, seorang perempuan korban kekerasan yang pernah ia temui mengaku dipaksa menelan giginya yang tanggal akibat kekerasan guna menghilangkan barang bukti. Beberapa perempuan lain tidak dapat bersaksi karena trauma yang sangat berat.
"Akhirnya saya juga memberi mereka edukasi supaya jangan terjebak. Saya kerja sama dengan organisasi yang mengampanyekan mereka agar jangan mau bertelanjang bulat di depan kamera, menjaga diri dan keluarga. Di samping itu, mereka juga diberdayakan dengan pendidikan untuk membuat kerajinan dan produk kreativitas, sehingga mereka berdaya bukan hanya dari segi sosial, tetapi juga finansial."
Saat menyelesaikan jabatan menteri pada 20 Oktober 2009, bukan hanya kenangan yang Meutia tinggalkan, tetapi juga penyelesaian sejumlah kasus kekerasan terhadap TKW di Arab Saudi, di samping Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang sebagai produk hukum perdana RI yang berani menindak TPPO sebagai tindakan kejahatan transnasional.
"Kalau perempuan tidak berdaya, bukan hanya kualitas hidupnya yang tidak maju, tetapi juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya tidak maju. Kalau mereka diberi kesempatan, saya yakin perempuan itu bisa maju dan bisa sejahtera apabila diperlakukan setara," ucapnya.
Mencintai Indonesia tanpa lelah
Bagai sepasang sayap, antropologi adalah dunia kedua tempat Meutia berkecimpung selama hampir tiga perempat usianya, mulai dari mahasiswi Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia angkatan 1967, pengajar Departemen Antropologi sejak 1975, hingga dikukuhkan sebagai Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada 2006.
"Antropologi 'kan belajar tentang Indonesia, maka sejak saya belajar, sampai saya menjadi dosen, keinginan saya tetap sama: agar semua orang yang belajar dan semua mahasiswa yang saya ajar itu mencintai Indonesia. Siapa lagi yang akan mencintai, kalau bukan kita sendiri?"
Selama lebih dari 50 tahun menekuni antropologi, setiap pengetahuan dan kearifan lokal yang Meutia temukan dalam penelitian selalu menambah dan memperbesar cintanya pada Tanah Air yang berperadaban sangat kaya, tetapi jarang diperhatikan. Karena itulah, salah satu torehan Meutia yang bertahan hingga kini adalah mata kuliah "Manusia dan Masyarakat Indonesia" yang wajib diambil setiap mahasiswa Semester II FISIP UI.
"Saya ingatkan mahasiswa saya dari setiap angkatan: jangan menyepelekan Indonesia. Kita ini negara berperadaban tua. Bangga, dong, dengan temuan jejak-jejak kebudayaan yang membuktikan peradaban manusia dimulai dari Jawa, seperti fosil Pithecantropus erectus itu, membuktikan peradaban kita sudah ada sejak manusia awal," ujarnya gemas.

Profesi antropolog telah membawa Meutia menjelajahi setiap pelosok Indonesia dari ujung barat hingga ujung timur, meneliti, dan mengungkap kekayaan negeri yang jarang diketahui. Tak hanya dari segi kebudayaan, tetapi juga sistem masyarakat, pertanian, topografi, hingga relasi penduduk setempat dengan alam sekitarnya.
"Anak-anak Indonesia banyak yang pintar-pintar, dan mereka ahli dalam bidangnya, mulai dari pertambangan, energi, mineral, kelautan, vulkanologi. Mereka jangan terus dikirim keluar tetapi sampai sini tidak ada lowongan, karena justru mereka akan lari dan diambil negara lain. Tugas kita adalah membuat wawasan mereka terkumpul dari luar, tetapi hati mereka tetap di Indonesia."
Pekerjaan belum selesai
Mendekati usia kepala delapan, Meutia berterus-terang tidak memiliki hobi khusus untuk memanfaatkan waktu luang. Bukan karena faktor usia, melainkan karena menemukan waktu senggang benar-benar sulit, meskipun secara resmi, ia telah berstatus pegawai negeri purnabakti sejak 2007. "Selalu ada pekerjaan dan kewajiban yang harus saya laksanakan, tidak kenal hari," akunya.
Seperti ajaran sang ayah, Meutia mengatur jadwal kesehariannya dengan rapi. Secara rutin, ada saja undangan yang ia terima, baik resepsi pernikahan atau takziah kedukaan. Setelah memenuhi undangan, Meutia lanjut mengajar dua kelas, pukul 11.00 dan pukul 14.00. Sampai di rumah, waktu yang tersedia digunakannya membaca dan mengecek pekerjaan para pembantu rumah tangga.
"Mereka menolong saya melaksanakan pekerjaan sehari-hari. Misalnya saya yang belanja, tetapi mereka yang memasak. Suami saya, Sri Edi Swasono, juga masih mengajar, meski agak sulit berjalan karena sudah 86 tahun. Dia masih menulis, mengajar, dan menulis buku ajar. Masih juga mengikuti berita, hadir dalam diskusi atau ceramah, atau bertemu teman-teman, kadang lewat Zoom juga."

Untuk menjaga kesehatan, Meutia mengatur pola makan dengan mengganti makanan pokoknya dengan nasi merah, mengurangi nasi putih, juga mengonsumsi sayuran seperti peria dan paprika. "Yang penting sehat, walau tadinya tidak suka, akhirnya jadi suka karena untuk sehat itu,"
Memasuki usia senja, Meutia tidak ingin hanya berpangku tangan. Masih ada pekerjaan yang menurutnya masih harus diselesaikan. Kepada teman yang ia kenal berkecimpung di bidang politik, Meutia tak jemu-jemu mengingatkan agar jangan terperdaya dengan tipu-daya korupsi dan menjaga integritas, terutama ketika dipercaya mengelola kekayaan bangsa.
Kepada orang-orang muda yang berkecimpung dalam industri kreatif, Meutia menasihati mereka agar karya-karya yang mereka ciptakan memperdalam cinta generasinya kepada Indonesia, mengungkap kearifan lokal, dan menumbuhkan kebanggaan pada kekayaan ekologi, flora, dan fauna Indonesia.
"Sekarang anak-anak muda saya lihat mulai menggunakan kain wastra, koleksi kain berbagai suku bangsa. Saya melihat ini sebagai inspirasi yang baik, karena dengan kreativitas, mereka membuktikan kita bisa bangkit sebagai bangsa. Mereka menjadi contoh untuk masyarakat, tidak hanya meniru orang, tetapi juga bangga dengan pakaian dan aksesori, tanda mereka bangga sebagai orang Indonesia," pungkasnya.