Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memutakhirkan data dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Jumat (9/1/2025), jumlah korban jiwa meninggal dunia tercatat mencapai 1.182 orang, setelah adanya tambahan korban dalam dua hari terakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, penambahan korban berasal dari Aceh Utara satu jiwa, Kabupaten Langkat dua jiwa, serta Tapanuli Tengah satu jiwa.
“Ini menambah jumlah total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.182 jiwa,” ujar Aam, sapaannya dalam konferensi pers yang digelar Jumat, (9/1/2026).
Selain korban meninggal, BNPB juga menyesuaikan data korban hilang menjadi 145 jiwa. Sementara itu, jumlah warga terdampak yang masih mengungsi tercatat sebanyak 238.627 jiwa.
Abdul Muhari menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa proses pendataan serta pencarian masih dilakukan secara intensif, khususnya di wilayah yang masih berstatus tanggap darurat.
Di Provinsi Aceh, dari total 18 kabupaten/kota terdampak, sebanyak 14 daerah telah beralih ke fase transisi darurat. Namun, empat kabupaten masih memperpanjang status tanggap darurat, yakni Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya. Gubernur Aceh memperpanjang status tanggap darurat selama 14 hari, terhitung 8 hingga 22 Januari, guna memastikan pencarian korban dan pemulihan akses berjalan optimal.
“Daerah-daerah ini masih menjadi fokus utama, terutama pemulihan akses jalan darat dan distribusi logistik ke masyarakat yang lokasinya cukup jauh dari posko kabupaten dan kota,” kata Abdul.
Sementara itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah sepenuhnya memasuki fase transisi darurat. Meski proses pencarian korban telah dihentikan, tim SAR tetap bersiaga.
“Jika ada informasi baru dari masyarakat, tim siap melakukan pencarian,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, BNPB bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 1.780 unit alat berat di tiga provinsi terdampak. Akses jalan Takengon–Gayo Lues yang sebelumnya terputus di empat titik longsor kini sudah dapat dilalui secara terbatas oleh kendaraan roda empat.
Perbaikan permanen ditargetkan rampung bertahap hingga akhir Januari, termasuk pemasangan 270 unit jembatan Bailey yang menghubungkan jalan nasional hingga desa. Sejumlah jembatan di Bener Meriah dan Gayo Lues bahkan sudah mulai diuji coba dan beroperasi.
Distribusi logistik juga terus berjalan meski sebagian wilayah memasuki masa transisi. BNPB mencatat penyaluran logistik mencapai 19 ton di Aceh, 31,3 ton di Sumatera Utara, dan 3,4 ton di Sumatera Barat. Distribusi dilakukan melalui jalur darat dan udara untuk menjangkau wilayah terpencil.
Dalam fase transisi darurat, BNPB mulai menggeser fokus pada pemulihan jangka pendek, termasuk pembangunan hunian sementara (huntara). Saat ini, sekitar 2.500 unit huntara sedang dibangun.
Selain itu, BNPB menyiapkan Dana Tunggu Hunian (DTH) dengan 15.000 rekening, di mana 6.190 rekening sudah siap dan 1.114 kepala keluarga telah menerima bantuan Rp600.000 per bulan.
“Tidak semua korban memiliki dokumen lengkap. Kami gunakan validasi biometrik terhubung dengan data Dukcapil agar penyaluran tepat sasaran,” jelas Aam.
Untuk mitigasi bencana susulan, BNPB berkoordinasi dengan BMKG melalui operasi modifikasi cuaca yang dilakukan intensif dengan tiga pesawat per provinsi selama 24 jam.
“Upaya ini untuk menekan risiko hujan ekstrem agar tidak memicu bencana lanjutan,” ujarnya.
Pangan dan Energi Aman
Di sisi pangan, Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani memastikan ketersediaan pangan aman di wilayah terdampak hingga Ramadan dan Idulfitri.
Ia menegaskan penyaluran bantuan pangan dilakukan dengan tiga skala prioritas, yakni daerah terisolasi, wilayah terdampak berat, dan daerah dengan keterbatasan akses.
“Jika suatu daerah membutuhkan 1.000 hingga 5.000 ton, maka kami siapkan hingga tiga kali lipatnya agar benar-benar aman,” kata Ahmad Rizal.
Di Aceh, BULOG memiliki 15 gudang dengan cadangan beras pemerintah mencapai 64.889 ton dan minyak goreng siaga 307.220 liter. BULOG juga menyiapkan tambahan pasokan hingga 50 ribu ton agar total stok melebihi 100 ribu ton.
Penyaluran beras bencana alam di Aceh telah mencapai 12.561 ton, ditambah 5.000 ton atas permintaan Gubernur Aceh, serta bantuan pangan beras 8.922 ton dan minyak goreng 1.784 liter.
Sementara itu, di Sumatera Utara, stok cadangan pangan mencapai 17.904 ton, dengan penyaluran beras bencana alam 5.098 ton. Di Sumatera Barat, stok beras per 8 Januari tercatat 5.508 ton, dengan tambahan sekitar 30 ribu ton dalam perjalanan dari Tanjung Priok ke Padang.
Secara nasional, stok beras BULOG mencapai 3.351.900 ton dan dipastikan cukup hingga Lebaran. Pada 2026, BULOG ditargetkan menyerap 4 juta ton beras dari panen dalam negeri.
“Prioritas kami tetap kebutuhan dalam negeri. Jika stok mencukupi, ekspor dilakukan sesuai arahan Presiden,” kata Ahmad Rizal.
Baca juga:

Di sektor energi, Corporate Secretary PT Pertamina Arya Dwi Paramitha memastikan pasokan energi tetap aman.
“Pertamina selalu mengaktifkan Satgas Natal dan Tahun Baru, dan kemarin juga bersamaan dengan Satgas Penanganan Bencana. Pola ini akan kami lanjutkan untuk Ramadan dan Idulfitri,” ujarnya.
Di Aceh, dari 156 SPBU, sebanyak 151 atau sekitar 97 persen telah kembali beroperasi. Pertamina juga melakukan operasi pasar LPG di sembilan kabupaten/kota di Aceh dan satu wilayah di Sumatera Barat dengan total sekitar 100 ribu tabung.
“Tujuannya menormalkan pasar agar masyarakat bisa memperoleh LPG sesuai kebutuhan rumah tangga,” kata Arya.
Selain itu, Pertamina mendirikan enam posko kemanusiaan dan mendukung 164 posko serta 111 dapur umum dengan pasokan LPG, BBM, genset, dan listrik tenaga surya. Total bantuan energi yang disalurkan mencapai 18.938 kilogram LPG dan sekitar 654 ribu liter BBM.
ESDM Kaji Diskon Tarif Listrik di Daerah Bencana
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji pemberian diskon tarif listrik bagi daerah yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor, seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan ini merespons surat permohonan dari kepala daerah di wilayah terdampak. “Prinsipnya Kementerian ESDM akan memberikan diskon, namun kami lagi mengkaji berapa bulan dan biayanya berapa,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis.
Bahlil menambahkan, sebelum kebijakan diberlakukan, pihaknya akan melaporkan rencana ini kepada Presiden Prabowo Subianto.
Selain itu, Kementerian ESDM terus memperbaiki infrastruktur kelistrikan. Terdapat sekitar 150 desa yang masih memerlukan perbaikan, sementara 1.000 genset telah dikirim ke 224 desa terdampak di Aceh. Genset tersebut berkapasitas 5.000 hingga 7.000 VA, sebagai langkah darurat karena beberapa infrastruktur tegangan rendah belum terselesaikan.
Bahlil menegaskan, perbaikan juga mencakup pelayanan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di lokasi terdampak.
“Masih ada beberapa kabupaten yang membutuhkan usaha besar untuk memulihkan layanan energi bagi masyarakat,” katanya.