Peluang dan Risiko Lonjakan Permintaan Pupuk di Pasar Global

Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz bisa memicu krisis pangan akibat kelangkaan pupuk. Negara-negara agraris seperti India mulai mencari akses pasokan tambahan untuk kebutuhan pupuk urea mereka. Indonesia menjadi salah satu tumpuan. 

Peluang dan Risiko Lonjakan Permintaan Pupuk di Pasar Global

Meningkatnya kebutuhan akan pupuk di pasar global saat ini menjadi momentum bagi Indonesia sebagai eksportir utama. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi tawar yang kuat di pasar internasional, terutama di pasar-pasar besar seperti Australia dan India. Ekspor pupuk ke India, misalnya, mencapai angka 347,9 ribu dolar AS pada tahun 2025. Namun, ketercukupan pupuk domestik harus dijaga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), performa ekspor urea Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang signifikan pada tahun 2025. Setelah sempat melandai pada periode 2023-2024, volume ekspor urea dengan kode HS 31021000 melonjak kembali ke angka 1,72 juta ton dengan nilai mencapai 709,1 juta dolar AS. 

Kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa permintaan global, terutama dari negara tetangga dan mitra strategis di Asia-Pasifik, tetap solid meskipun fluktuasi harga komoditas terus membayangi.

Meski permintaan dunia terhadap pupuk Indonesia tergolong tinggi, konsumsi di dalam negeri juga cukup tinggi. Mengacu pada data Organisasi Pangan Dunia (FAO), konsumsi pupuk di Indonesia dalam satu dekade terakhir berada di atas 120% dari total produksi domestik. 

Meski intensitas penggunaan pupuk per hektar lahan pertanian sedikit menurun ke angka 311,1 kg pada tahun 2023 dari puncaknya di tahun 2018 (388,9 kg), rasio konsumsi terhadap produksi yang tetap tinggi menunjukkan bahwa kebutuhan petani lokal masih sangat dominan dan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.

Dari sisi suplai, kapasitas produksi nasional yang dikelola oleh Grup Pupuk Indonesia berada pada angka 14,65 juta ton per tahun, dengan urea menyumbang porsi terbesar, yaitu 9,36 juta ton per tahun. Jika membandingkan kapasitas produksi urea (9,36 juta ton) dengan volume ekspor (1,72 juta ton), secara teknis terdapat ruang bagi Indonesia untuk memenuhi permintaan global. 

Namun, jika dilihat dari kapasitas produksi, potensi suplai ke negara lain dengan jumlah yang lebih besar perlu dipertimbangkan lebih matang. Pasalnya, di tengah krisis suplai bahan baku  pendukung harus terlebih dahulu memastikan stok subsidi dan nonsubsidi untuk ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi iklim dan target swasembada pemerintah.

Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi penyelamat bagi negara-negara seperti India di tengah gangguan jalur distribusi global. Namun, langkah ini memerlukan strategi penyeimbangan yang sangat presisi.

Indonesia secara teknis mampu memenuhi sebagian permintaan tambahan dari pasar global, namun peningkatan ekspor yang terlalu drastis tanpa dibarengi dengan optimalisasi kapasitas produksi atau efisiensi penggunaan pupuk domestik berisiko menciptakan kelangkaan di tingkat petani lokal. Efisiensi distribusi dan peningkatan produktivitas pabrik menjadi kunci utama jika Indonesia ingin memainkan peran ganda, sebagai eksportir andalan sekaligus pelindung kedaulatan pangan dalam negeri.

Baca selengkapnya