Outlook Pertanian dan Perkebunan 2026: Optimistis Didorong Peningkatan Produksi Komoditas Strategis

Fokus sektor ini pada 2026 diperkirakan akan berkutat pada ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi komoditas strategis seperti beras, jagung dan minyak sawit (CPO) yang didukung penguatan hilirisasi dan teknologi.

Outlook Pertanian dan Perkebunan 2026: Optimistis Didorong Peningkatan Produksi Komoditas Strategis
Petani memanen padi saat musim panen raya di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Jumat (5/12/2025). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/bar
Daftar Isi

Outlook kinerja sektor pertanian dan perkebunan 2026 di Indonesia cenderung optimistis. Fokus sektor ini pada 2026 diperkirakan akan berkutat pada ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi komoditas strategis seperti beras, jagung dan minyak sawit (CPO) yang didukung penguatan hilirisasi dan teknologi.

Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan global seperti cuaca ekstrem dan persaingan. Maka pelaku usaha perlu mendorong inovasi produktivitas dan adopsi praktik berkelanjutan untuk menjaga daya saing dan kesejahteraan petani. 

Pengamat Pertanian IPB University Dwi Andreas mengatakan untuk mencapai ketahanan pangan nasional dengan peningkatan produksi komoditas strategis harus dilakukan dengan serius.

Pemerintah harus membuat strategi baru yang bisa dikombinasikan dengan strategi lama seperti penguatan sistem irigasi,penyediaan sarana produksi, dan kebijakan stabilitas harga dengan stok kuat oleh Perum Bulog.

Khusus untuk kelapa sawit, strategi yang dilakukan untuk mendorong produksinya adalah dengan percepatan peremajaan kebun rakyat, penguatan legalitas, integrasi tata kelola, dan kebijakan B50 (pencampuran biodiesel 50%) untuk mengamankan pasar domestik.

“Dinamika harga global, persaingan internasional, perubahan iklim, dan ketergantungan impor komoditas tertentu masih akan dihadapi pada tahun 2026,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (31/12).

Dwi mengatakan pemerintah, swasta dan petani harus berkolaborasi untuk menciptakan sektor pertanian dan perkebunan yang kuat sehingga menguntungkan semua pihak.

Produksi dan Ekspor Sawit Stagnan

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada tahun 2026. 

Stagnasi produksi, peningkatan konsumsi domestik, serta rencana penerapan mandatori biodiesel 50% (B50) berpotensi membatasi volume ekspor sawit nasional.

Produksi minyak sawit dari dua negara produsen utama dunia, yakni Indonesia dan Malaysia, cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, permintaan global terhadap minyak nabati justru terus meningkat.

Menurut Eddy, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini menjadi tantangan utama industri sawit pada 2026. “Stagnasi produksi terjadi di tengah kebutuhan pangan dan energi yang terus tumbuh, baik di pasar domestik maupun global,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (29/12/2025).

Rencana penerapan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi sentimen utama yang berpotensi menekan ekspor CPO Indonesia pada 2026. Menurut Eddy, dalam kondisi pasokan yang terbatas, peningkatan penyerapan CPO untuk kebutuhan dalam negeri akan mengurangi volume ekspor.

Dengan demikian, Gapki memperkirakan ekspor CPO Indonesia pada 2026 berpotensi menurun atau setidaknya stagnan dibandingkan dengan realisasi 2025.

Gapki menilai kebijakan sawit ke depan perlu dirancang secara lebih seimbang. Selain mendukung ketahanan energi nasional, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menjaga daya saing ekspor CPO, stabilitas harga, penerimaan devisa negara, serta kesejahteraan petani sawit rakyat.

Panen raya beras

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan penyerapan beras sebesar 2 hingga 2,5 juta ton pada panen raya 2026.Hal ini sebagai bagian dari penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sekaligus upaya menjaga harga gabah tetap menguntungkan petani.

“Di panen raya nanti, minimal kita serap 2 juta ton, kalau bisa sampai 2,5 juta ton,” kata Mentan usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Penetapan CPP Tahun 2026 yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (30/12).

Menurut Mentan, target serapan tersebut sejalan dengan proyeksi produksi beras nasional yang diperkirakan meningkat pada 2026, serta kesiapan pemerintah dalam memperkuat cadangan pangan nasional.

Pemerintah sendiri berencana menambah Cadangan Beras Pemerintah naik dari 3 juta ton menjadi 4 juta ton.

Mentan menambahkan bahwa Perum Bulog akan menjadi ujung tombak penyerapan hasil panen petani, sebagaimana peran strategis Bulog selama ini dalam menjaga stabilitas harga gabah dan beras.

Ia menjelaskan, penguatan serapan beras menjadi kunci agar panen raya yang diperkirakan datang lebih awal pada 2026 tidak berdampak pada penurunan harga di tingkat petani.

Baca juga:

Tak Cemas Pasokan Beras, Harga pun Terkendali
Perum BULOG meluncurkan Gerakan Pangan Murah (GPM) Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Perum BULOG akan dibantu Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dalam bentuk pengawasan.

Dengan cadangan yang kuat, pemerintah dapat memastikan produksi petani terserap optimal. Saat ini, kondisi stok nasional dinilai sangat kuat. Per akhir Desember 2025, stok beras nasional tercatat mencapai 3,39 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia sejak merdeka.

“Ini stok tertinggi sepanjang sejarah. Jadi untuk 2026 bukan hanya aman, tapi sangat aman,” katanya.

Mentan juga memastikan kesiapan sarana pendukung produksi, termasuk pupuk. Untuk 2026, alokasi pupuk nasional mencapai 9,5 juta ton dengan harga yang telah diturunkan sekitar 20 persen dibanding tahun sebelumnya.