Jika waktu tiba-tiba musnah, apa jadinya hidup kita? Ya, kita akan mengalami kekacauan konsep. Tidak ada lagi kemarin, hari ini, dan esok hari.
Bayangkan jika Matahari tidak bersinar dari timur ke barat, bayangkan jika ia hanya menyala di atas kepala, lalu mati seperti lampu di plafon rumah kita, dan hari pun berganti malam. Kita tak bisa menghitung berapa panjang siang, berapa lama panjang kita harus tidur.
Jika masa tidak ada, semua jadi hampa. Konsep masa lalu, sekarang, dan masa depan akan sirna, memicu kegalauan, karena tidak ada urutan kejadian. Kita tak bisa lagi membuat janji bertemu, atau membuat jadwal sesuai urutan waktu. Maka absennya waktu mengubah hidup menjadi keadaan abadi, tanpa perubahan atau tujuan.
Ketiadaan waktu berarti semuanya terjadi serentak atau tidak sama sekali, memaksa kita untuk hidup sepenuhnya hanya di momen tanpa beban masa lalu, atau harapan masa depan, dalam sebuah kebingungan eksistensial.
Kita merayakan tahun baru, artinya kita merayakan waktu yang bergulir. Manusia memaknai waktu dengan detik, menit, jam, hingga hari. Lalu ada hitungan tahun, yang merupakan akumulasi dari hitungan yang lebih kecil tadi.
Hitungan waktu, merupakan hasil pengembangan bertahap dari berbagai peradaban. Bangsa Mesir Kuno dan Babilonia sudah memiliki sistem kalender berdasarkan astronomi. Kemudian bangsa Romawi ketika dipimpin Julius Caesar, memperkenalkan Kalender Julian (dasar Masehi) pada tahun 45 SM, dengan bantuan astronom Mesir Sosigenes. Julius mereformasi kalender Romawi menjadi 365 hari dengan tahun kabisat setiap 4 tahun, menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun.
Kalender Julian kemudian disempurnakan oleh Paus Gregorius XIII pada 1582 menjadi Kalender Gregorian (Masehi yang kita gunakan sekarang) untuk memperbaiki ketidakakuratan, dengan bantuan ilmuwan seperti Aloysius Lilius dan Christopher Clavius. Ia menyempurnakannya dengan menghapus 10 hari dan mengubah aturan tahun kabisat, yang menjadi dasar kalender Masehi global saat ini.
Dengan adanya hitungan waktu, maka kehidupan manusia semakin lengkap. Waktu tak hanya menunjukkan titik di mana Matahari berada, tapi juga menjadi penanda periode. Manusia memanfaatkan periode itu untuk mengukur apa pun. Lama sebuah permainan, hingga menandai fenomena musim, kapan datang dan berakhir.
Dalam hubungan sosial, periode waktu dijadikan ukuran untuk menilai kualitas. Seperti menilai kinerja atau membuat target capaian dalam periode masa tertentu. Bagi organisasi yang berlatar belakang mencari profit, waktu adalah mata uang paling absolut. Tidak dapat ditambah, tidak dapat dikurangi, hanya dapat diatur.
Bagi sebuah perusahaan, waktu bukan sekadar aliran detik yang berlalu, melainkan arena pertarungan di mana setiap menit adalah peluang untuk mencetak keuntungan, atau kehilangan momentum.
Organisasi pencari laba yang hidup dalam paradoks waktu, mereka harus bergerak cepat agar tidak tertinggal, namun juga harus berhati-hati agar langkah yang diambil tidak merusak fondasi jangka panjang. Produktivitas di sini bukan sekadar jumlah output.
Di sisi lain, di zaman digital sekarang, waktu tidak lagi mengalir secara alami, seperti saat Matahari datang dari timur dan menghilang di barat. Waktu sudah dipotong, dibagi, dan dijadwalkan oleh notifikasi, pemberitahuan dari gawai pintar kita yang seolah jadi majikan yang akan selalu kita patuhi. Kita tak lagi hidup berdasarkan jam biologis agar tetap produktif, tetapi oleh ritme digital.
Padahal seharusnya, produktivitas sejati adalah yang bisa berdialog dengan waktu. Institusi yang bijak tidak hanya berlari melawan jam, tetapi juga menari bersama ritme waktu, untuk memahami kapan harus cepat, kapan harus menunggu, kapan harus berinvestasi dalam kualitas, dan kapan harus menerima, bahwa tidak setiap masa, keuntungan bisa dicetak.
Maka, dan demi waktu, manusia modern itu memang benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali bagi yang benar-benar sabar dalam menyeimbangkan hak dan kewajiban. Mengelola waktu adalah sebuah kebijakan agar kita tidak menyia-nyiakannya.
Sehingga, waktu akan selalu bergerak linear, tidak bisa diulang. Jika kita merayakan waktu, pergantian tahun akan selalu menjadi harapan, bukan sebuah pengulangan. Ia bertambah, sementara usia kita berkurang, begitu juga probabilitas kita untuk selalu menang.