Penerapan Free Float Saham, Peringkat Moody's, Upaya Debottlenecking, dan UMKM Minuman Kesehatan

Kurasi peristiwa terpenting yang perlu diketahui semesta dunia usaha untuk mengawali hari.

Penerapan Free Float Saham, Peringkat Moody's, Upaya Debottlenecking, dan UMKM Minuman Kesehatan
Foto: Maxim Hopman / Unsplash
Daftar Isi

Selamat pagi, Chief… 

Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Aturan Free Float 15% Berlaku Maret 2026, Emiten Minta Penerapan Bertahap

  • Emiten meminta rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menaikkan ambang batas minimum saham beredar di publik (free float) menjadi 15% dari sebelumnya 7,5% dilakukan secara bertahap. Perubahan aturan free float tertuang dalam revisi Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat. Kebijakan ini rencananya berlaku mulai Maret 2026.
  • Aturan baru ini juga mengatur besaran minimum free float disesuaikan dengan nilai kapitalisasi saham. Bagi calon perusahaan tercatat dengan kapitalisasi pasar sebelum tanggal pencatatan kurang dari Rp 5 triliun, maka free float yang ditetapkan paling sedikit 25% dari jumlah saham yang akan dicatatkan di bursa. Kemudian, paling sedikit 20% dari jumlah saham yang akan dicatatkan di bursa, bagi calon perusahaan tercatat yang memiliki nilai kapitalisasi saham sebelum tanggal pencatatan Rp 5 triliun hingga Rp 50 triliun. Bagi calon perusahaan tercatat yang memiliki nilai kapitalisasi saham sebelum tanggal pencatatan lebih dari Rp 50 triliun, free float ditetapkan minimum 15 % dari jumlah saham yang akan dicatatkan di bursa. Jumlah saham free float setelah penawaran umum, atau bagi perusahaan publik dalam periode 5 (lima) hari bursa sebelum permohonan pencatatan, paling sedikit 300.000.000 (tiga ratus juta) saham.

Habis MSCI, Terbitlah Moody's, Bagaimana ke Depan?

  • Baru saja pasar modal bangkit tertatih dari vonis Morgan Stanley Capital International (MSCI) akhir Januari lalu, kini lantai bursa kembali digoyang oleh vonis lembaga pemeringkat kredit Moody's. Dampaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun kembali jeblok. Pada perdagangan Jumat (6/2/2026) IHSG ditutup anjlok 168,61 poin atau 2,08% ke 7.935,26. ‎‎Melemahnya IHSG jelang akhir pekan ini disinyalir lantaran lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings pada Kamis (5/2/2026) malam yang resmi menurunkan outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Izin Apotek dan Tantangan Sistem Kesehatan Inklusif

  • Persoalan perizinan hambat usaha pengembangan apotek di daerah. Hal ini jadi sorotan utama dalam sidang debottlenecking di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jumat (6/2/2026). Dari 76 laporan yang masuk ke kanal pengaduan, sebanyak 41 aduan berasal dari apotek dan seluruhnya berkaitan dengan perizinan dasar bangunan. Perubahan rezim perizinan pasca terbitnya PP Nomor 5 Tahun 2021 membuat apotek yang sebelumnya telah memiliki izin harus memenuhi kembali persyaratan dasar bangunan. Kondisi ini menjadi persoalan bagi apotek skala UMKM yang menempati bangunan lama atau bangunan sewa.

Sadar Kesehatan, GNB Drinks Usung Jus Buah Jadi Andalan Produk

  • Pelaku industri makanan dan minuman di Indonesia semakin mengedepankan inovasi dalam hal menciptakan produk baru, seiring kesadaran masyarakat yang terus tumbuh akan pentingnya kesehatan. Salah satunya, UMKM perintis baru yang lagi naik daun, GNB Drinks. GNB Drinks berinisiatif menghadirkan minuman jus buah dengan target pasar lintas generasi. Saat ini produk GNB Drinks dijual di ritel modern dan e-commerce dengan harga bervariasi tergantung ukuran mulai dari Rp 11.000 sampai dengan Rp 36.000. GNB Drinks berencana untuk terus menghadirkan varian minuman baru yang mengikuti tren pasar dan selera konsumen dan akan mencoba mengembangkan produk.
Founder GNB Drinks Jonathan Pranadjaja. (Foto: Ridho Syukra/ Suar.id)

Potensi Energi Baru dan Terbarukan Terbesar dari Energi Surya

  • Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang besar dan beragam untuk mendukung ketahanan energi nasional dan mencapai target bauran energi terbarukan. Dari beberapa jenis energi, potensi energi surya adalah yang terbesar yang dimiliki. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) dari berbagai jenis sebesar 3.687 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, potensi terbesar berasal dari energi surya, yaitu sebanyak 3.294 GW atau 89,3% dari total potensi energi yang ada. Setelah potensi energi surya, berikutnya ada pula energi angin dan energi air dengan potensi masing-masing 155 GW dan 95 GW.

Komoditas Utama untuk Gaet Investor dan Kerek Nilai Tambah

  • Pemerintah Indonesia telah menetapkan 15 komoditas prioritas hilirisasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dengan target investasi kumulatif yang sangat besar. Dalam Rapat Komisi XII DPR RI dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, target investasi 15 komoditas utama hilirisasi antara lain sektor mineral dan energi, seperti nikel (Rp 365,0 triliun), tembaga (Rp 252,1 triliun), minyak bumi (Rp 226,1 triliun), gas bumi (Rp 132,8 triliun), serta bauksit (Rp 70,8 triliun).  Selain itu, komoditas dari sektor perikanan, pertanian, dan industri lainnya seperti besi baja (Rp 57,19 triliun), garam (Rp 51,63 triliun), sawit (Rp 9,36 triliun), pasir silika (Rp 8,67 triliun), tilapia (Rp 3,12 triliun), ikan TCT (Rp 3,08 triliun), rumput laut (Rp 2,79 triliun), udang (Rp 2,7 triliun), kelapa (Rp 2,69 triliun), dan timah (Rp 2,65 triliun) turut menjadi pilar utama dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.

Laporan Survei Konsumen Januari 2026. Bank Indonesia (BI) rencananya akan merilis Laporan Survei Konsumen Januari 2026 pada Senin 9 Februari 2026. Laporan ini penting untuk jadi perhatian, karena menjadi salah satu indikator bagaimana konsumsi masyarakat sepanjang Januari 2026 dan bagaimana estimasi ke depannya. Untuk mengakses laporan ini, Anda bisa mengunduhnya di situs resmi BI. 

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026, Day 3. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama APEC menggelar ABAC Meeting I 2026 yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta pada 7-9 Februari 2026. ABAC Meeting I 2026 akan membahas 5 topik utama terbagi dalam 4 working group dan 1 task Force, yaitu Working Group I Regional Economic Integration, Working Group II Sustainability, Working Group III Digital and Innovation, Working Group IV Connectivity dan Task Force Finance and Economics. Setelah pertemuan di Jakarta, rangkaian ABAC 2026 akan dilanjutkan dengan ABAC Meeting II di Mexico City, Meksiko (22–25 April 2026), ABAC Meeting III di Pattaya, Tailan (7–10 Juli 2026), dan ABAC Meeting IV di Shenzhen, China (14-16 November 2026).

"Hiduplah seolah kamu akan mati besok. Belajarlah seolah kamu akan hidup selamanya." (Mahatma Gandhi)

Selamat beraktivitas, Chief.

Tim SUAR

Baca selengkapnya