Kesulitan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) jadi eksportir, menggelisahkan Neza Nazlina (21). Mahasiswi Public Relations Universitas Bakrie itu pun putar otak mencari pencerahan. Bersama teman-temannya, ia mencoba memetakan problem yang menghambat pelaku UMKM Indonesia yang potensial untuk mengekspor komoditas andalan mereka.
Mereka berangkat dengan membandingkan dengan data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menunjukkan baru 14% pelaku UMKM bisa mengekspor. Hambatannya ternyata bukan hanya pada kualifikasi produk saja. "Tetapi juga komunikasi bisnis lintas bahasa, kesulitan menemukan buyer, regulasi, sampai langkah memulai," papar Neza kepada SUAR di sela acara peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di di Graha Bhasvara Icchana Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Hasil brainstorming Neza dan teman-temannya mereka pun meulai menyusun sebuah proyek platform digital bernama Garuda Exporter. Proposal mereka, merupakan salah satu satu diantara 800 proposal terpilih, dari 2.094 proposal yang diterima Panitia Pusat PIDI sejak 23 Februari 2026.
PIDI merupakan wahana yang diinisaiasi Bank Indonesia (BI) untuk memberi bekal para inovator muda mewujudkan hasil karyanya. Disini mereka akan menerima pelatihan, sandboxing, hingga business matching.
Inovator berkompetisi demi prospek menjajikan
Hingga Oktober 2026 mendatang, platform lintas lembaga ini menjadi tempat para inovator ini untuk berkompetisi, mewujudkan inovasi digital menjadi bisnis dengan prospek menjanjikan, serta berdampak bagi perekonomian di Tanah Air.
Seperti gagasan Neza dan kawan-kawannya di ajang PIDI ini, mereka menawarkan proses pemasaran ke banyak negara, dimulai dengan membangun model GenAI yang mampu menerjemahkan kualifikasi produk UMKM dan membuatkan branding produk tersebut sesuai bahasa dan konteks budaya masyarakat di negara tujuan ekspor,
Dalam proposalnya, karya ini juga dilengkapi dengan fitur panduan interaktif yang memungkinkan pelaku UMKM memahami regulasi dan mempersiapkan administrasi untuk ekspor produk ke mancanegara.
Lalu ada fitur scoring yang mengukur kesiapan UMKM melakukan ekspor berdasarkan data-data kelengkapan NPWP, kesehatan finansial usaha, keunikan dan nilai jual produk, hingga kesesuaian dengan regulasi di Indonesia dan negara tujuan ekspor.
"Tujuan kami ingin memfasilitasi agar UMKM bisa meminimalkan biaya konsultan ekspor profesional atau harus menghubungi kementerian di negara tujuan, yang mengurus ekspor-impor. Sewa jasa konsultansi tersebut pasti mahal, maka melalui platform ini, kami ingin memfasilitasi hal tersebut," ungkap Neza.
Berbeda dengan Neza, cita-cita Fatih Ahmad Zakaria (24) lebih sederhana. Berkaca dari pengalamannya sebagai santri Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Sleman, Daefah Istimewa Yogyakarta, ia menemukan kebutuhan sistem mikrotransaksi tertutup.
Sistem bernama Siakad itu dirancang agar selain menabung, santri juga bisa bertransaksi di koperasi pesantren untuk kebutuhan sehari-hari dengan satu ID Card.
"Poin spesial Siakad adalah santri dan guru merasakan manfaat. Bagi guru, ID Card tersebut bisa digunakan mengisi presensi instan, sementara bagi siswa, ID Card tersebut bisa mereka pakai membeli barang di koperasi serta top up saldo uang jajan mereka," ujarnya.
Lebih dari ikhtiar mengembangkan proyek inovasi santri, Fatih berharap proposal Siakad menjadi prototype pengembangan ekonomi syariah digital dari, oleh, dan untuk kalangan pesantren. "Melalui PIDI, kami menemukan jalan untuk membuktikan bahwa digitalisasi dan inovasi bisa kompatibel dengan tradisi dan pengetahuan agama di pesantren," tegas Fatih.
Membangun platform, juga membangun bisnis
Melihat beragamnya buah pikiran para inovator muda tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku sangat antusias. Sebagai salah satu inisiator PIDI, Perry mengungkapkan kebanggaan untuk dapat mengantarkan 800 tim inovator digital memulai seleksi dan pemantapan.
Kepada mereka, Perry menitipkan masa depan ekonomi digital Indonesia. "Dalam 2,5 bulan ke depan, kalian akan masuk essential training camp. Kalian boleh mengembangkan inovasi digital UMKM, ketahanan pangan, atau pesantren. Kalian bisa melanjutkan transformasi digital sektor jasa keuangan dan sistem pembayaran. Kalian juga bisa bersiap-siap untuk mengembangkan inovasi digital untuk layanan masyarakat," kata Perry.

Melalui pelatihan ekstensif, sandboxing, hingga penjajakan investor itu, Perry menegaskan bahwa kontestan PIDI tidak hanya akan menjadi inovator, tetapi juga wirausahawan tangguh. Tak hanya membangun platform, para kontestan akan dibekali keterampilan memahami neraca dagang, mengatur cashflow, hingga membuat survei pasar.
"Saya akan undang investor untuk menilik proyek kalian, memeriksa sejauh mana proyek ini menguntungkan secara bisnis. Dari 800 tim, 80 tim terbaik yang lulus sampai tahap terakhir bisa langsung memulai bisnis digital, menjadi CEO muda, menjadi eksekutif muda yang tidak takut mengejar mimpi," ujar Perry berjanji.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menambahkan, dengan dimulainya rangkaian penggemblengan talenta digital, PIDI akan memaksimalkan perannya sebagai ecosystem builder yang menghubungkan langsung kebutuhan industri dengan inovasi orang muda. Tak sekadar lolos training, para kontestan didorong mengimplementasikan proyek mereka hingga bernilai ekonomi.
"Talenta adalah bibit. Inovasi adalah buahnya. Ekosistem adalah tanah subur tempat semuanya bertumbuh. Para inovator muda, mari kita memupuk ide, menyiramnya dengan ilmu, merawatnya dengan ketekunan sehingga berbuah menjadi solusi nyata bagi Indonesia," ajak Filianingsih.
Satu karya agar bangsa maju bersama
Menyampaikan keynote speech di hadapan para kontestan PIDI, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan, peran inovator muda sebagai lokomotif yang harus bertanggung jawab menarik gerbong ekonomi digital Indonesia melaju lebih jauh. Penguasaan teknologi yang bijak dan cerdas menjadi kuncinya.
"Sebagai inovator, kalian tergolong pengguna AI for Many. Melalui penguasaan teknologi praktis, kalian perlu mengangkat produktivitas dan memperhatikan kelompok rentan. Jangan berbangga bisa melaju terlalu jauh, jika masih banyak gerbong yang tidak bergerak," ujarnya.
Selain memastikan inovasi sesuai kebutuhan industri, Pratikno berharap kontestan PIDI dapat memformulasikan teknologi mutakhir yang berkarakter Indonesia dan menyelesaikan persoalan-persoalan konkret di Tanah Air.
Jangan berbangga bisa melaju terlalu jauh, jika masih banyak gerbong yang tidak bergerak
Ia menyitir, saat ini masih banyak desa terpencil yang tidak dapat mengakses layanan kesehatan. Petugas-petugas posyandu pun seringkali tidak tahu harus berkonsultasi dan meminta pendampingan karena jauhnya rumah sakit atau dokter. Karena itu, jika di antara proposal kontestan PIDI terdapat inovasi telemedicine untuk pedesaan, Pratikno berharap proposal itu didukung.
"Kalau kita tidak mengembangkan AI dengan merujuk pada persoalan bangsa kita, dunia akan jadi seragam. Cara berpikir kita jangan sampai hanya merujuk pada AI yang berasal dari bahasa dan budaya lain, tetapi juga dari bangsa kita. Mari kita jadikan agensi digital ini sebagai lokomotif Indonesia maju bersama," ujar Pratikno.
Inovasi yang menawarkan solusi
Sedangkan Co-Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison mengingatkan, sangat banyak proyek teknologi rintisan berakhir sebagai "solusi tanpa masalah". Akibatnya, seringkali proyek-proyek tersebut menghasilkan hype sesaat, sebelum akhirnya menghilang dan gulung tikar.
Berkaca dari pengalamannya membesarkan Tokopedia, kemampuan inovator membaca masalah menjadi faktor penentu kesuksesan startup. Terus-terang, Leontinus mengungkap masalah yang hendak diselesaikan Tokopedia saat dirintis adalah memungkinkan semua orang menemukan barang yang ingin mereka beli dengan mudah.
"Masalah apa yang mau kita selesaikan, itu harus jadi titik tolak. Anda sebagai inovator harus peka terhadap masalah. Bisa jadi, produk yang terlalu canggih tidak menyelesaikan masalah. Dengan memiliki problem-solving mindset, kita tahu produk yang hendak kita jual, dijual kepada siapa, dan bagaimana menjualnya kepada investor," tegas Leontinus.