Pemerintah Kota Ternate bersama Pemerintah Kota Tidore Kepulauan berkolaborasi dengan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) dan Hotel Borobudur Jakarta menyelenggarakan program bertajuk Discover The Natural Treasure Ternate Tidore.
Kegiatan ini menjadi ajang promosi terpadu untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan sejarah kedua daerah kepada publik nasional maupun internasional, sekaligus memperkuat posisi keduanya sebagai destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia.
Program yang berlangsung mulai 22 April hingga 7 Juni 2026 ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pameran pariwisata, promosi budaya, hingga showcase potensi ekonomi kreatif dan investasi daerah.
Melalui kolaborasi lintas pemerintah daerah dan mitra strategis, acara ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan serta investor untuk melihat langsung peluang yang dimiliki Ternate dan Tidore, khususnya di sektor pariwisata berbasis alam dan warisan sejarah.
Selain sebagai sarana promosi, kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antar daerah dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dengan dukungan APEKSI dan keterlibatan sektor perhotelan seperti Hotel Borobudur Jakarta, Discover The Natural Treasure Ternate Tidore diharapkan dapat memperluas jaringan promosi serta meningkatkan daya saing kedua kota dalam peta pariwisata nasional maupun global.
Potensi alam dramatis Ternate
Kota Ternate merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang memiliki potensi luar biasa dari berbagai aspek, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan sejarah dan budaya. Letaknya yang strategis di wilayah Maluku Utara menjadikan Ternate sebagai simpul penting dalam jalur perdagangan dan peradaban sejak berabad-abad lalu.
Kombinasi antara pesona laut, gunung api, dan warisan budaya menjadikan Ternate memiliki daya tarik yang unik dibandingkan daerah pesisir lainnya.
Wali Kota Ternate Tauhid Soleman mengatakan keunggulan utama Ternate terletak pada lanskapnya yang lengkap. Di satu sisi terdapat laut biru yang jernih dengan kekayaan biota bawah laut, sementara di sisi lain berdiri megah Gunung Gamalama yang menjadi ikon pulau ini.
Keberadaan gunung api aktif di tengah pulau kecil menciptakan panorama dramatis yang jarang ditemukan di tempat lain, sekaligus menyuburkan tanah dan mendukung kehidupan masyarakat setempat.
“Sebagai wilayah pesisir, Ternate memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Perairannya dikenal kaya akan terumbu karang, ikan tropis, serta ekosistem laut yang masih terjaga,” ujarnya di sela acara “Discover The Natural Treasure Ternate Tidore yang digelar Apeksi di Hotel Borobudur, Jakarta (22/4/2026).
Potensi ini menjadikan Ternate sebagai destinasi unggulan untuk wisata bahari seperti snorkeling dan diving, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui sektor perikanan dan pariwisata berbasis konservasi.
Tidak hanya keindahan permukaan, kekayaan bawah laut Ternate juga menjadi bagian dari pengembangan geopark. Kawasan ini menyimpan nilai ekologis yang penting, termasuk formasi batuan vulkanik dan ekosistem laut yang unik.
Potensi geopark ini dapat menjadi daya tarik global jika dikelola secara berkelanjutan, sekaligus menjadi sarana edukasi tentang sejarah geologi dan lingkungan.
Dari sisi budaya, Ternate memiliki kehidupan tradisi yang masih sangat kuat. Masyarakatnya mempertahankan adat istiadat, bahasa, serta berbagai ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Kehidupan budaya ini tidak hanya menjadi identitas lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang autentik bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berbeda.
Sejarah budaya nan eksotik
Warisan sejarah Ternate semakin memperkaya keunggulan wilayah ini. Keberadaan Kesultanan Ternate yang masih eksis hingga saat ini menjadi bukti kesinambungan sejarah panjang pulau ini. Kesultanan tidak hanya berperan sebagai simbol budaya, tetapi juga menjaga nilai-nilai tradisi yang telah hidup selama ratusan tahun.
Secara historis, Ternate merupakan bagian penting dari jalur perdagangan rempah dunia. Pada masa lalu, cengkih dari Ternate menjadi komoditas yang sangat berharga dan diburu oleh bangsa-bangsa Eropa. Nilai ekonominya yang tinggi menjadikan Ternate sebagai pusat perhatian global, sekaligus titik awal interaksi antara Nusantara dan dunia internasional.
Warisan sejarah perdagangan rempah ini masih dapat dirasakan hingga kini melalui benteng-benteng peninggalan kolonial, jalur perdagangan lama, serta cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat. Hal ini memberikan nilai tambah bagi Ternate sebagai destinasi wisata sejarah yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna.
Di pesisir Kota Ternate, berdiri benteng peninggalan kolonial Belanda yang sangat penting, Fort Oranje. Benteng ini dibangun pada tahun 1607 oleh VOC dan namanya diambil dari tokoh Belanda William of Orange. Penamaan itu menjadi simbol kebanggaan Belanda karena pada masa itu Ternate dan Tidore merupakan pusat perdagangan rempah paling penting di dunia.
Baca juga:

Dari benteng ini, Dutch East India Company mengawasi jalur laut yang menjadi urat nadi perdagangan rempah. Dari sini pula aktivitas perdagangan cengkih di Maluku dikendalikan untuk pasar Eropa.
Benteng ini juga sempat menjadi pusat administrasi Belanda di Nusantara sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia pada tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen. Saat itu Jayakarta diubah namanya menjadi Batavia.
Perpaduan antara alam, budaya, dan sejarah menjadikan Ternate memiliki positioning yang kuat sebagai kawasan pesisir unggulan. Tidak banyak daerah yang mampu menawarkan kombinasi lengkap antara gunung api, laut, geopark, serta warisan kesultanan dalam satu wilayah yang relatif kecil.
Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, Ternate berpotensi menjadi destinasi kelas dunia. Pengembangan pariwisata berbasis konservasi, penguatan identitas budaya, serta promosi sejarah rempah dapat menjadi strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya yang menjadi kekuatan utama Ternate.
Jejak jalur perdagangan masa lalu
Sedangkan Wakil Wali Kota Tidore Ahmad Laiman mengatakan, Kota Tidore merupakan salah satu wilayah pesisir di Maluku Utara yang memiliki keunggulan alam dan sejarah yang sangat kuat.
Letaknya yang berdekatan dengan Ternate menjadikan Tidore bagian penting dari kawasan strategis jalur perdagangan dan peradaban di masa lalu. Pulau ini menawarkan kombinasi lanskap laut, pegunungan, dan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.
Keunggulan utama Tidore terlihat dari bentang alamnya yang didominasi oleh Gunung Kie Matubu. Gunung api ini tidak hanya menjadi ikon geografis, tetapi juga menciptakan tanah yang subur bagi pertanian masyarakat.
“Perpaduan antara lereng hijau dan laut biru menghasilkan panorama yang indah, sekaligus mendukung kehidupan ekonomi berbasis agrikultur dan perikanan,” ujar dia.
Sebagai wilayah pesisir, Tidore memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Perairannya kaya akan biota laut, terumbu karang, dan ikan tropis yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat.
Selain itu, keindahan bawah lautnya membuka peluang besar untuk pengembangan wisata bahari seperti snorkeling dan diving yang masih relatif alami dan belum terlalu padat wisatawan.
Dari sisi sejarah, Tidore memiliki peran penting dalam jalur perdagangan rempah dunia. Bersama Ternate, wilayah ini menjadi penghasil cengkih yang sangat bernilai tinggi pada masanya.
Bahkan, Kesultanan Tidore pernah menjadi kekuatan besar yang memiliki pengaruh luas hingga ke kawasan Papua. Jejak sejarah ini menjadi kekayaan yang bernilai tinggi untuk pengembangan wisata sejarah dan edukasi.
Budaya lokal di Tidore juga menjadi keunggulan tersendiri. Tradisi, bahasa, dan adat istiadat masih dijaga dengan baik oleh masyarakat. Berbagai ritual dan kegiatan budaya yang berkaitan dengan kesultanan maupun kehidupan masyarakat pesisir menjadi daya tarik yang autentik dan memperkuat identitas daerah di tengah modernisasi.
Dengan perpaduan kekayaan alam, sejarah, dan budaya, Tidore memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata unggulan berbasis keberlanjutan. Pengembangan sektor pariwisata yang terintegrasi dengan pelestarian lingkungan dan budaya akan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keaslian dan keunikan Tidore di masa depan.
Menuju kota pesisir mandiri
Kegiatan yang dilakukan Kota Ternate dan Kota Tidore ini merupakan bagian dari kolaborasi untuk bisa membangun kota khususnya kota pesisir secara mandiri. Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Alwis Rustam mengatakan, Apeksi mendorong kemandirian ekonomi kota-kota pesisir melalui berbagai inovasi kebijakan dan program kolaboratif yang dilakukan.
Melalui berbagai forum, kota-kota pesisir didorong untuk mengembangkan potensi ekonomi lokalnya, sebagai upaya untuk mengatasi keterbatasan kewenangan dan kapasitas fiskal yang dihadapi.
Setiap kota pesisir memiliki karakteristiknya masing-masing yang unik. Berbagai inisiatif menjadi bukti bahwa inovasi yang dilakukan terus berkembang, sehingga pemerintah kota di wilayah pesisir tidak hanya berharap dan bergantung pada bantuan dari pusat saja.
“Karena kalau kita hanya mengandalkan pusat itu kan mentok, mau enggak mau kita perlu merapihkan yang internal dulu misalnya fiskalnya baik, efisien, sumber daya bagus, partisipasi masyarakat kuat baik dari perencanaan ke eksekusi, jadi lebih ke membagi persoalan,” katanya.