Menegakkan Keadilan Distributif Organisasi

Pembagian kerja yang tidak adil adalah cara tercepat untuk mengusir talenta terbaik dari organisasi. Dari sinilah bencana itu dimulai. 

Daftar Isi

Kerja keras kunci keberhasilan. Demikian juga sebuah organisasi, jika ingin sukses meraih tujuan, maka setiap anggota perlu optimal bekerja. Namun di zaman ini, ada hal lain yang juga sangat menentukan keberhasilan hidup sebuah organisasi. Yaitu pembagian tugas yang adil dan transparan. Sebuah aspek yang kerap terabaikan di banyak lingkungan kerja. 

Bayangkan sebuah tim yang sedang berpacu melawan tenggat waktu, di mana sebagian anggotanya kelelahan karena beban tugas yang berlebihan, sementara sebagian lainnya justru kurang kontribusi dalam proses kegiatan perusahaan. 

Ketimpangan beban kerja seringkali menjadi penyakit tak terlihat dalam organisasi, yang perlahan namun pasti, merusak moral tim dan menurunkan produktivitas.

Karenanya, sebuah organisasi sulit sukses jika produktivitas hanya bertumpu pada segelintir orang yang nafasnya tersengal, sementara potensi anggota tim lainnya tidak bisa dioptimalkan. 

Beban kerja tidak merata dalam sebuah organisasi, bisa terjadi karena kegagalan manajemen dalam menerapkan prinsip keadilan distributif, juga adanya bias kompetensi. 

Hal ini memang tidak selalu terjadi dalam sebuah organisasi. Namun sering muncul karena ketidakjelasan peran, budaya menghargai kesibukan semu, serta kurangnya transparansi. 

Organisasi seringkali menempatkan beban kerja berdasarkan kemudahan kepada anggota yang paling kompeten, namun bukan berdasar rasa keadilan. 

Secara filosofis, adanya ketidakmerataan distribusi beban kerja ini bisa melanggar konsep keadilan distributif (distributive justice). Di mana filosofi keadilan sosial menuntut hasil yang seimbang, namun organisasi seringkali menempatkan beban kerja berdasarkan kemudahan kepada anggota yang paling kompeten, namun bukan berdasar rasa keadilan. 

Tokoh filsuf yang menyinggung soal pelanggaran keadilan distributif adalah pemikir klasik Yunani, Aristoteles. Dalam karyanya Nicomachean Ethics, ia membedakan dua bentuk keadilan, keadilan distributif yang berkaitan dengan pembagian sumber daya, jabatan, atau penghargaan sesuai dengan proporsi, misalnya berdasarkan kontribusi atau kelayakan. 

Pelanggaran terjadi bila distribusi tidak sesuai dengan prinsip proporsionalitas, misalnya ada yang mendapat lebih banyak atau lebih sedikit, dari yang seharusnya.

Aristoteles juga menyebut adanya absennya keadilan korektif. Ini berhubungan dengan pemulihan keseimbangan, ketika terjadi pelanggaran dalam transaksi atau hubungan sosial, misalnya pencurian, dan penipuan. Namun tak ada sanksi yang diberikan. Atau ada sanksi namun tidak sepadan, terlalu ringan. 

Di sisi lain, adanya ketidakadilan distribusi penugasan di organisasi juga memicu adanya paradoks produktivitas, di mana efisiensi terkadang tidak menghadirkan keadilan. Manajer sering kali lebih memilih memberikan tugas ke satu orang yang bisa diandalkan demi kecepatan penyelesaian pekerjaan, daripada melatih anggota organisasi yang lain. Inilah yang sering menciptakan beban berlebih pada segelintir anggota organisasi. 

Penyebab lain, adanya tugas tersembunyi (invisible work). Tugas-tugas informal seperti mentoring, membantu rekan, tugas admin kecil yang tidak tercatat, malah bisa membuat daftar pekerjaan bertumpuk, dan mengganggu tugas utama seorang anggota organisasi. 

Adanya budaya yang menganggap kesibukan adalah simbol kerja keras, menyebabkan tugas tersembunyi ini tidak terhitung secara adil. Selain itu, kurangnya evaluasi beban kerja secara berkala, memicu adanya kelebihan beban kerja. 

Secara umum, ketimpangan beban kerja diantara anggota organisasi cenderung terjadi jika tidak ada manajemen berbasis data. Seharusnya, sebuah tim yang dikelola dengan baik, memiliki job description jelas, dan memiliki budaya transparan untuk mencapai keseimbangan, meskipun ada tantangan dinamis, seperti datangnya proyek yang mendadak. 

Menyikapi beban kerja tidak merata di kantor, memerlukan komunikasi asertif dengan atasan, prioritas tugas yang ketat, dan pengelolaan stres. Perlu ada komunikasi jika terdapat ketimpangan secara data. Seorang manajer juga perlu lihai dalam memberdayakan pendelegasian tugas, serta menetapkan batas kemampuan penugasan untuk menghindari burnout

Singkatnya, pembagian kerja yang tidak adil adalah cara tercepat untuk mengusir talenta terbaik dari organisasi. Dari sinilah bencana itu dimulai.

Baca selengkapnya