Memperkuat Kepercayaan dengan Komunikasi Andal (2)

Investor relations menjadi jembatan antara perusahaan tercatat dengan stakeholder. Melalui komunikasi yang terbuka, pengambilan keputusan jadi optimal. 

Memperkuat Kepercayaan dengan Komunikasi Andal (2)
Patung Banteng Wulung di depan Kantor BEI, Jakarta (Dok BEI)
Daftar Isi

Bagian dua dari resume acara Roundtable Decision dengan tema “Era Baru Transparansi Pasar Modal”  yang diselenggarakan SUAR.id bekerja sama dengan Kitacomm dan didukung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Gedung BEI, Jakarta pada Selasa, 10 Februari 2026 ini mencoba membahas perlunya komunikasi intens antara otoritas keuangan, investor, emiten dan stakeholder lainnya melalui investor relations dalam memperkuat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia. 

Melalui komunikasi yang terbuka, transparan, dan konsisten, investor relations diharapkan mampu berperan sebagai jembatan antara perusahaan tercatat dengan para calon investor, pemegang saham, regulator, self-regulatory organization (SRO), hingga masyarakat.

Jembatan komunikasi via investor relations

Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa seluruh upaya dalam memajukan pasar modal Indonesia itu seakan tidak ada artinya, apabila tidak diinformasikan dengan baik oleh para investor relations di emiten.

Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik (dua dari kiri) (Suar.id/Ahmad Affandi)

“Mungkin tidak akan terlalu ada gunanya kinerja kita baik tapi investor enggak tahu, itu kan tentu harus dikomunikasikan. Nah disinilah peran penting dari investor relations, untuk mengkomunikasikan bagaimana kinerja perusahaan, apa yang dilakukan ke depan, sehingga investor menjadi lebih clear untuk bisa memutuskan berinvestasi atau tidak di perusahaan,” jelas Jeffrey, 

Lewat forum diskusi Road to Indonesia Investor Relations Forum (IRF)2026 yang digelar oleh SUAR bersama dengan Kitacomm, Jeffrey berharap kapasitas dari investor relations di perusahaan tercatat bisa terus meningkat sebagai jembatan komunikasi.

BEI ke depannya juga tengah menyusun program untuk meningkatkan kapasitas dari perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia. Salah satu program yang sedang dicanangkan, adalah value up.

“Kami sedang menyusun program value up ini bagaimana untuk meningkatkan kapasitas dari perusahaan tercatat kita. Saya sudah bertemu dengan presidennya Bloomberg, bagaimana kita bisa berkolaborasi dengan Bloomberg,” ungkapnya.

Saat ini, dijelaskan oleh Jeffrey, investor global sudah mulai mencari perusahaan untuk diinvestasikan dengan cara mencarinya berdasarkan sektor, bukan lagi berdasarkan negara. Sehingga diharapkan dengan hal tersebut emiten Indonesia dapat lebih muncul dan menarik perhatian investor luar.

“Menurut Presiden Bloomberg, investor global sekarang tidak lagi search by country, tapi search by sector, dan tentu kita berharap kalau mereka mencari sektor tertentu ada emiten kita yang muncul di situ,” ucap Jeffrey.

Keberhasilan program yang sedang direncanakan dan peningkatan kualitas emiten di pasar modal Indonesia ini pun tentu dibutuhkan peran dari investor relations yang baik. “Nah tentu ini membutuhkan investor relations yang baik,” ujarnya. 

Dari kondisi perusahaan hingga sosialisasi kebijakan 

Senada dengannya, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Eddy Manindo Harahap, berharap investor relations emiten dapat melakukan hal yang sama dengan semangat yang sama untuk memajukan pasar modal Indonesia.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Eddy Manindo Harahap (Suar.id/Ahmad Affandi)

Peran investor relations menurut Eddy sangat penting untuk menjelaskan apa yang terjadi di perusahaan dan bagaimana perkembangan terakhirnya kepada investor, SRO, regulator, hingga politisi. Segala kebijakan dan ketentuan yang diambil oleh regulator juga penting untuk diketahui oleh investor relations, untuk kemudian dapat disampaikan dengan baik kepada calon investor, pemegang saham, dan emiten.

“Dari sisi kami, dari OJK sebagai regulator, kami menganggap investor relations itu penting juga untuk mengetahui perkembangan dan filosofi dari kebijakan-kebijakan yang kita ambil,” kata Eddy. 

Salah satu kebijakan yang penting untuk diketahui dan diinformasikan oleh investor relations, adalah soal ketentuan baru free float emiten dari 7,5% menjadi 15%. Investor relations kata Eddy harus mengetahui bahwa hal tersebut sangat baik untuk perbaikan pasar modal Indonesia dalam waktu jangka panjang.

Peningkatan free float emiten di pasar modal akan membuat pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, yang mana berujung pada meningkatnya minat dari investor domestik maupun global untuk masuk menanamkan modal di pasar modal Indonesia.

“Nah hal-hal seperti itu bisa dilakukan dengan bantuan dari investor relations. Jadi jangan hanya kami sebagai regulator, jangan hanya SRO, jangan hanya politisi, tapi investor relations juga bisa melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Selain delapan rencana aksi yang sedang diupayakan, OJK juga terus berupaya untuk memperketat pengawasan penggunaan dana hasil initial public offering (IPO). Salah satu caranya untuk menguatkan tata kelola di pasar modal Indonesia, adalah dengan melalui ketentuan penempatan dana IPO di dalam satu rekening.

Aturan baru ini pun membuat OJK dapat dengan lebih mudah memantau penggunaan IPO secara lebih transparan. Dengan adanya aturan tersebut, diharapkan dapat meminimalisasi risiko terjadinya penyalahgunaan dana IPO, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Kebijakan-kebijakan baru hingga rencana kedepannya dalam penguatan pasar modal Indonesia seperti itu pun penting untuk diketahui dan dikomunikasikan dengan baik oleh investor relations.

“Itu adalah salah satu ketentuan yang memang sudah kita keluarkan barusan saja. Jadi apabila ada IPO itu dana hasil IPO harus ditaruh di dalam satu rekening khusus sehingga kita bisa monitor penggunaannya, itu salah satunya,” katanya.

OJK juga akan terus membuat program dan ketentuan lainnya dalam rangka penguatan terhadap pasar modal dan juga emiten. Momentum dari anjloknya IHSG dan juga laporan dari berbagai global index provider ini disebut dapat membuat seluruh rencana tersebut dapat diimplementasikan secara lebih cepat dan tepat.

“Ke depan kita juga akan mengeluarkan beberapa ketentuan yang bersifat penguatan. Walaupun itu sudah kita program, tapi momentum ini akan membuat itu menjadi lebih cepat lagi,” ujarnya.

Edukasi ke berbagai model calon investor 

Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Mukhamad Misbakhun menyebut, rata-rata emiten atau perusahaan yang melakukan listing di pasar modal Indonesia sebenarnya memiliki nilai yang bisa dibanggakan sehingga bisa dijadikan modal untuk menarik para investor. Namun sayangnya, nilai tersebut jarang sekali dikomunikasikan.

Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Mukhamad Misbakhun (tengah)/ )Suar.id/Ahmad Affandi)

Investor relations sebenarnya bisa sangat mudah dan paham sekali menginformasikan tentang sejarah perusahaannya, tapi menurut Misbakhun hal tersebut jarang dilakukan. “Contoh ada pabrik kecap, dibangun dengan susah payah oleh founders sampai ke generasi ke berapa, itu kan menjadi cerita kebanggaan tentang entrepreneurship, tapi enggak mau diungkap, padahal itu kan value,” katanya. 

Jika hal tersebut diceritakan kepada publik, hal tersebut dapat meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya di emiten tersebut. Hal-hal seperti inilah yang menurutnya juga menimbulkan masalah soal transparansi di pasar modal Indonesia.

Selain itu, ketika timbul kecurigaan dari publik misalnya terkait dengan banyak pemegang saham yang terdaftar di British Virgin Island (BVI) ataupun tingginya persentase pemegang saham dari bonus, investor relations harus dengan cepat dan tepat buka suara untuk menjelaskannya kepada publik.

Investor relations itu menjelaskan, kenapa si pemegang sahamnya ini di BVI, lah pada orang-orang tertentu hal-hal seperti ini penting. Kemudian disampaikan orang dapat bonus saham, ada investor susah-susah beli saham kok ini ada orangnya sahamnya sekian persen, padahal kan ini saham bonus,” jelasnya.

Hal-hal seperti ini lazim terjadi di perusahaan dan bukan suatu hal yang buruk atau akal-akalan saja dari pemegang saham. Maka dari itu, investor relations memegang peranan penting sebagai jembatan komunikasi sehingga membangun kepercayaan dari investor terhadap emiten dan pasar modal Indonesia.

“Di dalam dunia pasar modal dan kemudian perusahaan-perusahaan listing company, itu kan hal yang biasa, dan itu yang harus dijelaskan,” ujar Misbakhun.

Investor relations juga menurut Misbakhun berperan dari sisi edukasi dan literasi kepada masyarakat serta calon investor, bahwa yang namanya investasi ini pastinya ada risiko dan tak selalu berbicara soal mencari untung saja.

“Orang Indonesia itu ya mohon maaf kadang-kadang Fomo-nya (Fear of Missing Out) lebih besar, fundamental investor sedikit. Seakan-akan kalau investasi itu harus untung, padahal dari investasi itu ada risiko,” jelasnya.

Forum-forum seperti yang dilaksanakan oleh SUAR.ID bersama Kitacomm dan peranan investor relations ini pun dinilai penting untuk membangun pemahaman di masyarakat soal berinvestasi yang baik. Literasi dan edukasi yang disampaikan oleh seluruh pihak termasuk investor relations ini harus dilakukan terus-menerus dan tidak bisa berhenti di tengah jalan.

“Ini menurut saya harus berkesinambungan, berlanjut, karena menjelaskan kepada semua orang itu harus continue, tidak bisa berhenti,” Misbakhun menjelaskan.

Pasar modal diketahui memiliki sifat yang dinamis, di mana kondisinya dapat terus bergerak, berubah, dan berfluktuasi dengan sangat cepat akibat berbagai faktor ekonomi, sosial, ataupun politik. Perubahan perilaku investor sendiri juga penting diketahui oleh para investor relations di emiten.

“Sekarang penggunaan teknologi yang begitu masif ini juga mempengaruhi perilaku investor, apalagi kemudian ada emiten-emiten yang kemudian menggunakan teknologi baru,” lanjutnya.

Jika suatu emiten tiba-tiba sahamnya mendominasi pasar modal Indonesia dan malah menuai kecurigaan dari para investor, padahal ada alasan yang baik di belakangnya, investor relations harus bisa menjelaskannya dengan baik, demi meningkatkan kepercayaan dan transparansi.

“Misalnya resources based economy Indonesia itu sangat penting untuk dikonsolidasikan, tapi konsolidasi real business perlu dikonsolidasikan datanya. Makanya kan tiba-tiba orang berpikir kok ini perusahaan data center kok tiba-tiba sahamnya mendominasi, ini apaan, nah publik kan berpikir data center ini apa sih, keperluannya untuk apa, enggak semua orang paham. Nah inilah pentingnya investor relations,” jelasnya.

Menjaga valuasi perusahaan terbuka

Pengamat pasar modal Dr. Hans Kwee juga berpendapat hal yang sama, investor relations memegang peranan penting sebagai jembatan komunikasi. Apalagi, Hans juga sempat merasakan langsung betapa pentingnya peranan tersebut, ketika dirinya berprofesi sebagai fund manager dan analyst.

Pengamat pasar modal Dr. Hans Kwee (Kiri) (Suar.id/Ahmad Affandi)

“Saya juga pernah menjadi analyst, punya perusahaan penasihat investasi, tentu kalau kita kontak ke investor relations di salah satu emiten inilah yang dapat memberikan bocoran katalis, bahwa emiten ini bagus, apa yang ingin dia lakukan, rencana bisnisnya ke depan,” ucap Hans. 

Informasi tersebut yang akan membuat penasehat investasi investor untuk membuat prakiraan atau forecast kondisi emiten ke depannya, yang mana berpengaruh kepada valuasi dari perusahaan tercatat.

“Sehingga ketika paper itu di-release ke masyarakat, masyarakat yang membaca tahu, bahwa emiten ini bagus bisa dibeli, jadi peran investor relations itu sangat penting sekali, inilah pintu masuk supaya investor bersedia menanamkan dana di perusahaan itu,” ujarnya.

Investor relations harus dengan baik membuka informasi perusahaannya kepada publik, namun dengan catatan bukan “insider information”. Komunikasi informasi yang baik inilah yang akan meningkatkan kapasitas dari pasar modal Indonesia menurut Hans.

“Jadi dengan transparansi yang dilakukan, kalau investor relations mudah dihubungi, nah ini tentu akan membuka informasi, tapi tentu informasi yang publik, bukan insider information, tentu ini akan meningkatkan pasar kita,” jelas Hans.

Apalagi, kondisi di mana investor saat ini sudah mulai mencari perusahaan untuk diinvestasikan dari berdasarkan sektornya, menciptakan pasar modal Indonesia dan perusahaan tercatatnya memiliki nilai tambah dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Indonesia ini sangat menarik, beberapa saat ke depan kita akan memasuki periode grand supercycle kenaikan komoditas. Ini yang menyebabkan investor global melihat Indonesia,” lanjutnya.

Kenaikan harga sejumlah komoditas seperti emas dan juga minyak dunia akibat kondisi global yang penuh dengan ketidakpastian ini pun seharusnya menguntungkan perusahaan komoditas Indonesia. 

Besar kemungkinannya ke depan investor akan menanamkan modal di perusahaan berbasis komoditas lantaran melihat keuntungannya yang semakin tinggi. “Mereka akan membeli saham karena bisnisnya diuntungkan dengan kondisi yang ada, dan itu tahunya dari investor relations,” kata Hans.

Mukhlison, dan Gema Dzikri

Baca selengkapnya