Lampu kantor masih menyala ketika sebagian besar gedung lain sudah gelap. Di salah satu meja, seorang pegawai masih duduk menatap layar. Kursor berkedip, menunggu sebuah keputusan.
Jam sudah berdentang sembilan kali, namun ia belum ingin pergi. Di atas meja ada secangkir kopi yang sudah dingin. Notifikasi masih berdatangan. Ada email baru. Ada pesan baru. Ada tugas baru. Selalu ada sesuatu yang baru.
Pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berhenti sementara, sebelum muncul kembali dalam bentuk lain, keesokan harinya.
Ia lelah. Tak hanya fisiknya, ia merasakan sesuatu yang lebih dalam—perasaan seolah dirinya terus digunakan, bahkan ketika ia tidak lagi yakin untuk apa semua ini dilakukan.
Fenomena ini, yang dalam bahasa modern disebut overworked, bukan sekadar masalah manajemen waktu atau efisiensi kerja. Ia adalah kondisi eksistensial. Ia menyangkut hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sistem, dan dengan makna hidupnya.
Salah satu hal pertama yang hilang dari manusia yang terlalu banyak bekerja adalah waktu. Bukan waktu dalam arti kronologis—jam masih berdetak seperti biasa—tetapi waktu dalam arti eksistensial: waktu sebagai ruang untuk menjadi diri sendiri.
Filsuf Martin Heidegger pernah mengatakan, eksistensi manusia selalu terkait dengan waktu. Manusia bukan hanya berada dalam waktu, tetapi hidup melalui waktu. Waktu adalah ruang di mana manusia memahami dirinya, membuat pilihan, dan memberi makna pada keberadaannya.
Namun dalam kondisi overworked, waktu tidak lagi terasa sebagai milik sendiri. Waktu menjadi milik sistem, milik target, milik deadline. Bahkan ketika tubuh tidak berada di kantor, pikiran masih berada di sana. Pekerjaan merembes ke dalam ruang pribadi, mengaburkan batas antara kerja dan hidup.
Manusia tidak lagi sepenuhnya hadir dalam hidupnya sendiri. Ia selalu sedikit tertinggal di tempat lain—di email yang belum dibalas, di tugas yang belum selesai, di ekspektasi yang belum terpenuhi. Ia tidak pernah benar-benar selesai menjadi pekerja.
Kelebihan beban kerja tidak hanya menguras energi, tetapi juga dapat mengikis hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Karl Marx menyebut kondisi ini sebagai alienasi—keterasingan manusia dari esensinya sendiri.
Manusia yang overworked sering kehilangan hubungan dengan hal-hal yang sebelumnya memberi makna: keluarga, minat pribadi, refleksi diri, bahkan keheningan. Hidupnya dipenuhi oleh fungsi, oleh tugas, oleh peran. Ia menjadi sangat efektif sebagai pekerja, tetapi semakin jauh dari dirinya sebagai manusia. Alienasi ini tidak selalu terasa dramatis. Ia sering hadir secara perlahan, hampir tidak terasa.
Ia muncul dalam bentuk kelelahan kronis, dalam hilangnya antusiasme, dalam perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Ia terlihat masih hidup, tetapi tidak sepenuhnya merasa hidup
Ketika manusia terus-menerus berada dalam kondisi overworked, dampaknya melampaui kelelahan fisik. Ia mulai kehilangan sesuatu yang lebih fundamental yaitu kehadirannya dalam dunia.
Ia tidak lagi memiliki energi untuk berpikir secara reflektif. Ia tidak lagi memiliki ruang untuk bertanya tentang hidupnya. Ia menjadi reaktif, bukan reflektif. Ia merespons tuntutan, tetapi tidak lagi mengarahkan dirinya sendiri.
Dalam kondisi ini, manusia berisiko kehilangan dirinya bukan karena dipaksa, tetapi karena perlahan-lahan habis digunakan.
Namun, bahkan dalam kondisi ini, manusia tidak sepenuhnya kehilangan kebebasannya. Filsuf Jean-Paul Sartre berpendapat bahwa kebebasan adalah kondisi dasar manusia. Bahkan ketika manusia tidak dapat mengubah situasinya sepenuhnya, ia selalu memiliki kebebasan dalam cara ia memahami dan merespons situasinya.
Langkah pertama bukanlah perubahan eksternal, tetapi kesadaran internal. Kesadaran bahwa pekerjaan bukanlah keseluruhan identitas. Kesadaran bahwa produktivitas bukanlah satu-satunya ukuran nilai manusia. Kesadaran bahwa manusia memiliki eksistensi yang melampaui fungsinya dalam sistem.
Kesadaran ini menciptakan jarak antara manusia dan sistem. Dalam jarak ini, manusia dapat mulai merebut kembali dirinya. Ini tidak selalu berarti meninggalkan pekerjaan.
Kadang-kadang, itu berarti mengubah hubungan dengan pekerjaan tersebut. Menolak untuk sepenuhnya didefinisikan olehnya. Menolak untuk sepenuhnya larut di dalamnya.
Manusia mulai bekerja, bukan sebagai objek sistem, tetapi sebagai subjek yang sadar.
Pada akhirnya, masalah overworked bukan hanya tentang terlalu banyak bekerja. Ia adalah tentang risiko kehilangan diri dalam proses bekerja.
Solusinya bukan semata-mata efisiensi atau manajemen waktu, tetapi pemulihan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Pemulihan kemampuan untuk berhenti, untuk diam, untuk hadir dalam hidupnya sendiri.
Manusia bukan mesin. Ia bukan diciptakan semata-mata untuk produktivitas.
Ia adalah makhluk yang sadar, yang merasakan, yang merenung, yang mencari makna.
Dan mungkin, tindakan paling radikal dalam dunia yang menuntut manusia untuk terus bekerja adalah kemampuan untuk berhenti sejenak. Berhenti dan mengingat bahwa di balik semua tugas, semua target, dan semua ekspektasi, ia tetap seorang manusia.