Main Gim Jadi Pintu Gerbang Junedy Liu Geluti Teknologi di SeaBank

Wakil Direktur SeaBank Junedy Liu kerap menghabiskan waktu untuk merakit komputer atau mengutak-atik perangkat baru.

Main Gim Jadi Pintu Gerbang Junedy Liu Geluti Teknologi di SeaBank
Wakil Direkur Utama SeaBank, Junedy Liu, saat berbincang dengan Suar, 8 Apri2026, di Gama Tower Jakarta Selatan. (Foto: Feby Nadeak/SUAR)
Daftar Isi

Rintik hujan turun cukup deras pada Rabu (8/4/2026) sore, membuat kawasan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan semakin macet. Deretan kendaraan bergerak perlahan memasuki berbagai kantor di kawasan tersebut, termasuk di Gama Tower lokasi kantor SeaBank.

Suasana sibuk sangat terasa di lantai dasar Gama Tower. Aktivitas karyawan berjalan cepat, seolah mengejar waktu di tengah padatnya jadwal kerja.

Namun sesampainya di lantai 35 lokasi kantor SeaBank, suasana yang semula terasa terburu-buru justru berubah. Ruang kantor tampak lebih tenang, dengan aktivitas yang berjalan rapi.

Di sebuah ruangan, Wakil Direktur Utama SeaBank Junedy Liu menyambut SUAR dengan hangat meski di tengah jadwalnya yang padat sore itu.

"Terima kasih ya sudah mau datang ke sini. Maaf saya enggak ada sediakan apa-apa," kata Junedy sambil tersenyum ramah.

Junedy tampak mengenakan batik biru tua dipadu kacamata berbingkai tipis. Tidak ada kesan tergesa, meski agenda yang menanti Junedy masih cukup panjang hari itu.

Ia berbicara dengan antusias, sesekali menyelipkan cerita ringan yang membuat percakapan terasa cair sejak awal. Junedy pun mengaku dirinya sebagai pribadi yang ekstrovert.

"Saya extrovert lah pasti. Saya itu 100% sanguin, kalau tes kepribadian, saya itu rata kanan. Kalau misalnya kepribadian, kita ada empat ya, sanguin lah, koleris lah, apa gitu-gitu kan. Biasanya kan orang kombinasi ya. Saya itu 100% sanguin, sama sekali enggak ada bagian lain. Jadi kalau tes, saya itu pasti extrovert," katanya.

Sifatnya yang terbuka dan mudah bergaul itu tampaknya tak lepas dari masa kecilnya yang diwarnai dengan perpindahan kota yang cukup sering. Ayahnya merupakan warga negara Singapura yang bekerja di industri perkapalan dan kerap mendapat penugasan di berbagai daerah.

Sementara ibunya berasal dari Indonesia. Kondisi tersebut membuat Junedy sejak kecil terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal, mulai dari sejumlah kota di Sumatera hingga Kalimantan. Namun, Batam menjadi tempat yang paling membekas karena ia menghabiskan masa SMP hingga SMA di sana.

Pengalaman berpindah-pindah itu membuatnya terbiasa beradaptasi dengan lingkungan baru dan bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda. Tak heran, obrolan sore itu terasa mengalir tanpa jarak.

Wakil Direktur Utama SeaBank, Junedy Liu mengaku merupakan sosok yang ekstrovert. Foto: Feby/SUAR

Bermain Gim

Di tengah hujan yang masih turun di luar gedung, percakapan berkembang dari masa kecil, hobi, hingga pandangannya tentang teknologi dan kehidupan. Pria kelahiran 1984 itu bercerita sejak muda ia sudah tertarik dengan teknologi, terutama karena hobinya bermain gim.

Ia bahkan sempat memiliki ambisi untuk membuat gim sendiri, yang kemudian membawanya pada dua piliha jurusan, Teknologi Informasi atau Sistem Informasi di Universitas Bina Nusantara. Namun ia menyadari minatnya tidak sepenuhnya pada aspek teknis, karena itu ia memilih jurusan Sistem Informasi.

"Saya suka main gim, jadi saya punya ambisi, oh mungkin kalau masuk ke komputer saya bisa bikin game sendiri. Ternyata saya menyadari saya seharusnya tidak ada bakat di situ. Saya menyadari bahwa saya kurang begitu suka belajar yang teknikal, saya lebih suka belajar yang sifatnya itu tentang operasional, human, management. Jadi makanya condongnya ke sana (Sistem Informasi)," katanya.

Ketertarikan tersebut kemudian mengarahkannya ke dunia konsultasi manajemen setelah lulus kuliah. Selama sekitar 11 tahun, Junedy berkarier sebagai konsultan, membantu berbagai perusahaan melakukan transformasi dan perbaikan bisnis.

Kesempatan masuk ke industri perbankan datang ketika ia terlibat sebagai konsultan dalam proses transformasi SeaBank. Saat itu, ia membantu pemegang saham dalam merancang perubahan dan pengembangan bank dari awal.

"Saya sebenarnya enggak punya cita-cita jadi banker. Tapi pada akhirnya join ke banking juga. Bukan karena banknya, tapi karena saya melihat ini adalah kesempatan buat saya membangun sesuatu yang mungkin bisa ber-impact positif bagi banyak orang," kata Junedy.

Dari situlah perjalanan Junedy di SeaBank dimulai. Sebuah perjalanan yang berangkat dari ketertarikan pada teknologi, berkembang ke dunia manajemen, hingga akhirnya berlabuh di industri perbankan digital.

Meski kini berkarier di industri perbankan, ketertarikan Junedy pada teknologi tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Minat tersebut justru ia pelihara sebagai hobi di tengah kesibukan memimpin bank digital.

Ia mengaku masih menyukai gim. Namun seiring bertambahnya usia, Junedy mengaku ketertarikannya terhadap gim juga mengalami perubahan.

Jika dulu ia menikmati bermain gim, kini yang justru membuatnya antusias adalah teknologi di baliknya. Ia bercerita, dirinya kerap menghabiskan waktu untuk merakit komputer atau mengutak-atik perangkat baru.

Junedy juga mengaku sering mengikuti perkembangan gim terbaru hanya untuk melihat kualitas grafis dan inovasi teknologi yang ditawarkan. Hal serupa juga ia lakukan saat teknologi baru bermunculan, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia kerap mencoba berbagai aplikasi atau fitur baru untuk memahami potensi dan kegunaannya.

"Saya menyadari bukan main gim-nya yang saya nikmatin, tapi otak atik teknologi yang saya nikmatin. Jadi kayak kulik-kulik, merancang PC, nanti kalau udah jadi enggak dimainin. Terus kalau misalkan ada gim baru, saya cuma pengen lihat perkembangan teknologinya, grafisnya. Lebih ke situ ya, lebih ke menikmati perkembangan dan beritanya, mencoba teknologinya, dibandingkan mainnya gitu," katanya.

"Jadi saya udah enggak pernah tamatin gim, jadi kalau ada konsol baru, saya pengen lihat kualitasnya seperti apa, sudah sejauh apa teknologinya," sambungnya.

Mengikui perkembangan teknologi terbaru dan mendengarkan berbagai jenis musik jadi cara Junedy Liu beradaptasi dan belajar hal baru. (Foto: SeaBank)

Coba hal baru

Namun, ketertarikan itu bukan hanya sekadar hobi. Bagi Junedy, mengulik teknologi menjadi cara untuk menjaga rasa ingin tahu sekaligus mempertahankan semangat mencoba hal-hal baru, terutama di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks.

Di tengah kesibukan sebagai eksekutif bank digital, aktivitas mengulik teknologi itu menjadi ruang baginya untuk tetap belajar sekaligus tetap dekat dengan dunia teknologi yang telah menarik minatnya sejak lama.

"Sebenarnya itu lebih ke maintain spirit untuk mencoba sesuatu yang baru. Itu yang saya berusaha maintain," katanya.

Semangat tersebut juga ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menghabiskan waktu bersama keluarga. Bagi Junedy, teknologi bukan hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga jembatan untuk membangun kedekatan dengan anaknya yang kini berusia 12 tahun.

Ia mengaku kerap membuat video-video ringan bersama sang anak, sekadar untuk bersenang-senang sekaligus mencoba teknologi baru.

Aktivitas tersebut, bukan hanya hiburan semata, tetapi juga menjadi momen kebersamaan. Dengan ikut mencoba dan belajar bersama, Junedy merasa dapat tetap terhubung dengan dunia anaknya, sekaligus menjaga rasa ingin tahunya terhadap perkembangan teknologi yang terus berubah.

"Kalau kita itu harus memaksa diri untuk beradaptasi. Karena saya udah terbiasa melakukan sesuatu dengan cara saya. Jadi ketika suatu teknologi baru datang, belum tentu kita bisa dengan mudah mencoba. Karena kan kekeh dengan cara kita gitu ya, kita engga mau mencoba. Tapi saya berusaha untuk adaptasi," katanya.

Selain teknologi, cara Junedy menjaga rasa ingin tahu juga terlihat dari kebiasaannya mendengarkan musik. Ia mengaku menyukai berbagai jenis musik dan secara sengaja mengganti genre yang didengarnya setiap hari.

Kebiasaan itu biasanya ia lakukan saat menyetir sendiri menuju kantor. Selama perjalanan, ia memiliki “ritual” tersendiri dalam memilih musik. Setiap hari, ia mengganti genre agar tetap terbiasa dengan berbagai selera dan tren yang berbeda.

Ia mencontohkan, Senin biasanya ia mendengarkan Top 50 Global di Spotify, Selasa musik Indonesia, Rabu jazz, Kamis rock, dan Jumat rap.

Menurut Junedy, kebiasaan tersebut sengaja ia lakukan agar dirinya tetap adaptif dan tidak terjebak pada satu perspektif saja.

"Supaya gampang beradaptasi. Plus, kalau kita hanya dengerin satu musik aja, saya merasa bahwa nanti saya cuma dalam di satu hal itu. Saya pengen saya ngerti banyak hal. Karena memang mungkin sifat saya yang seperti itu. Saya pengen belajar, dan saya berusaha fleksibel," katanya.

Baca selengkapnya