Anda pernah kena ghosting, alias diabaikan seseorang, dicuekin, tak diindahkan? Biasanya ini terjadi dalam relasi personal, pertalian asmara atau hubungan cintaan, dan hubungan antar personal lainnya. Bisa menyebabkan korban sakit hati, kecewa berat, bahkan sampai kena depresi.
Namun, ghosting sebenarnya tak hanya terjadi dalam hubungan di level pribadi, namun juga terjadi di dalam lingkup institusi atau di perkantoran. Istilahnya professional ghosting yang merupakan tindakan mengabaikan atau memutuskan komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan oleh satu pihak, kolega di kantor atau klien dalam konteks hubungan kerja.
Ini melibatkan penghentian respon terhadap alat komunikasi perusahaan seperti email, telepon, atau pesan. Jika terjadi seperti ini akan sering kali menyebabkan kebingungan, reputasi buruk, dan terhambatnya proses rekrutmen.
Jadi professional ghosting adalah sebuah perilaku di mana seseorang memutuskan secara sepihak tanpa adanya penjelasan, pun menghindari atau mengabaikan seluruh komunikasi dengan kolega, perusahaan, atau pimpinannya.
Fenomena ini bisa terjadi pada karyawan yang berhenti dari tempat kerja tanpa pemberitahuan ke pimpinannya, pencari kerja tak datang dan memberi kabar ketika dijadwalkan interview, bahkan bagi yang sudah bekerja, ia secara sengaja mengabaikan semua bentuk komunikasi dari perusahaan. Tidak membalas email, panggilan telepon, atau pesan instan.
Ada juga karyawan yang ingin menghilang dari pekerjaan akan mengajukan cuti sakit berulang kali tanpa disertai bukti medis yang jelas. Setelah beberapa waktu, mereka kemudian menghilang tanpa kabar. Perilaku ini dapat merugikan perusahaan karena mengganggu kelancaran operasional dan produktivitas tim.
Paling parah, ada karyawan tiba-tiba berhenti mengakses sistem perusahaan tanpa notifikasi. Ini bisa jadi mereka sedang menghindari tanggung jawab dan ingin memutus hubungan dengan perusahaan.
Secara psikologis, ghosting profesional sering kali merupakan bentuk avoidance strategy (strategi penghindaran). Menurut teori kognitif, otak manusia cenderung menghindari konfrontasi atau situasi yang memicu rasa bersalah.
Di era digital, derasnya arus komunikasi membuat individu mengalami kewalahan informasi. Membalas "tidak" atau memberikan umpan balik negatif membutuhkan energi mental lebih besar daripada sekadar mengabaikannya.
Maraknya media komunikasi berbasis teks juga membuat empati menghilang. Tanpa kontak mata atau nada bicara, rekan kerja hanya dianggap sebagai "baris teks" di layar, sehingga mengabaikan mereka, terasa tidak terlalu berdosa secara moral.
Secara filosofis, menilik pemikiran Albert Camus, manusia hidup dalam kondisi absurd: ada jurang antara harapan manusia akan makna dan realitas yang sering tidak memberi kepastian. Professional ghosting mencerminkan absurditas ini.
Dalam dunia kerja, interaksi profesional secara normatif dibangun atas prinsip rasionalitas dan tanggung jawab. Namun realitas menunjukkan sebaliknya, seseorang bisa tiba-tiba menghilang tanpa alasan.
Dalam dunia kerja, interaksi profesional secara normatif dibangun atas prinsip rasionalitas dan tanggung jawab. Namun realitas menunjukkan sebaliknya, seseorang bisa tiba-tiba menghilang tanpa alasan. Bagi pihak yang “ditinggalkan”, pengalaman ini menghadirkan absurditas—ketika ekspektasi terhadap etika profesional bertabrakan dengan kenyataan perilaku manusia.
Camus menyatakan bahwa absurditas muncul ketika dunia tidak memberikan jawaban atas harapan manusia. Professional ghosting adalah contoh kecil dari kondisi itu.
Sedangkan filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel menekankan pentingnya recognition atau pengakuan dalam hubungan antar manusia. Dalam dialektika tuan–budak, identitas manusia terbentuk melalui pengakuan dari pihak lain.
Ghosting dalam konteks profesional dapat dilihat sebagai bentuk penolakan pengakuan. Ketika seseorang tidak merespons komunikasi, ia secara implisit meniadakan eksistensi pihak lain sebagai subjek dialog.
Dalam relasi kerja modern, pengakuan biasanya diwujudkan dalam bentuk sederhana: balasan email, pemberitahuan keputusan, atau umpan balik. Ketika itu tidak terjadi, hubungan profesional kehilangan basis etisnya.
Keheningan komunikasi dalam hubungan profesional ini juga berdampak pada erosi produktivitas dan budaya. Ada harga mahal yang harus dibayar oleh perusahaan dan individu. Bagi perusahaan akan memicu bottleneck operasional. Proyek tertunda karena keputusan yang menggantung.
Kemudian ada kerusakan reputasi bagi seseorang yang sering melakukan ghosting di kantor, Sedangkan korban ghosting mengalami kecemasan karena tidak tahu apa yang salah, yang menurunkan kepercayaan diri dan motivasi kerja di tempat lain.
Mencegah ghosting memerlukan kombinasi antara sistem organisasi dan kesadaran personal. Melalui langkah pencegahan, maka diperlukan standar komunikasi dimana perusahaan harus memiliki aturan waktu maksimal membalas pesan misalnya 2x24 jam.
Perusahaan juga menciptakan lingkungan di mana mengatakan "tidak" atau "saya belum bisa menyelesaikan ini" diperbolehkan tanpa intimidasi.
Jika seorang pimpinan dighosting, maka yang perlu dilakukan adalah mengirim sinyal satu pesan terakhir yang sopan namun tegas: "Jika saya tidak menerima kabar hingga hari Jumat, saya akan mengasumsikan bahwa proyek ini tidak berlanjut." Ini memberikan closure sepihak.
Dan tentu saja, jika seorang atasan terbiasa membalas pesan, budaya tersebut akan mengalir ke bawah (trickle-down effect). Yang perlu diingat, professional ghosting adalah cerminan dari kegagalan empati dalam efisiensi digital. Memulihkan komunikasi bukan sekadar masalah kesopanan, melainkan investasi strategis untuk menjaga kesehatan mental karyawan dan keberlanjutan bisnis.