Dalam Rapat Komisi XII DPR RI dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, target investasi 15 komoditas utama hilirisasi antara lain sektor mineral dan energi, seperti Nikel (Rp 365,0 triliun), tembaga (Rp 252,1 triliun), minyak bumi (Rp 226,1 triliun), gas bumi (Rp 132,8 triliun), serta bauksit (Rp 70,8 triliun).
Selain itu, komoditas dari sektor perikanan, pertanian, dan industri lainnya seperti besi baja (Rp 57,19 triliun), garam (Rp 51,63 triliun), sawit (Rp 9,36 triliun), pasir silika (Rp 8,67 triliun), tilapia (Rp 3,12 triliun), ikan TCT (Rp 3,08 triliun), rumput laut (Rp 2,79 triliun), udang (Rp 2,7 triliun), kelapa (Rp 2,69 triliun), dan timah (Rp 2,65 triliun) turut menjadi pilar utama dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.
Dalam dua tahun terakhir, realisasi investasi di bidang hilirisasi menunjukkan pertumbuhan yang positif dan signifikan. Pada periode Januari – Desember 2024, total realisasi investasi hilirisasi tercatat sebesar Rp 407,8 triliun, yang berkontribusi sebesar 23,8% dari total realisasi tahun tersebut dengan pertumbuhan 8,63% secara tahunan(y-o-y).
Memasuki tahun 2025, realisasi melonjak drastis menjadi Rp 584,1 triliun, dengan pertumbuhan 43,3% (y-o-y). Peningkatan ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah serta semakin matangnya ekosistem industri pengolahan di Indonesia.
Jika dilihat capaian per sektor, terlihat dominasi sektor mineral yang terus menguat. Sektor mineral tumbuh dari Rp 245,2 triliun pada 2024 menjadi Rp 373,1 triliun pada 2025. Di dalam sektor ini, investasi nikel meningkat dari Rp 153,2 triliun menjadi Rp 185,2 triliun, sementara tembaga relatif stabil di angka Rp 65-68 triliun.
Menariknya, sektor perkebunan, kehutanan, dan pertanian mengalami konsolidasi dan lonjakan besar dari total sekitar Rp 131,1 triliun pada 2024 (gabungan CPO dan Pulp & Paper) menjadi Rp 144,5 triliun pada 2025. Sektor minyak dan gas bumi juga menunjukkan pertumbuhan dari Rp 23,1 triliun di subsektor petrokimia pada 2024 menjadi total Rp 60,0 triliun pada 2025. Sedangkan sektor perikanan dan kelautan mulai menunjukkan daya tariknya dengan realisasi Rp 6,4 triliun pada 2025.
Keberhasilan realisasi di tahun 2024-2025 menjadi fondasi kuat bagi 15 komoditas prioritas dalam RPJMN 2025-2029. Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi hanya bertumpu pada mineral mentah, tetapi merambah ke komoditas hayati seperti kelapa, rumput laut, dan perikanan yang memiliki keterkaitan erat dengan ekonomi kerakyatan.
Dengan target investasi kumulatif yang masif, Indonesia diproyeksikan mampu mengubah struktur ekspornya dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi, yang secara langsung akan memperkuat neraca perdagangan dan stabilitas nilai tukar rupiah.