Ketika Natal di Mal Rangsang Konsumsi Akhir Tahun

Momen libur panjang natal dan tahun baru dimanfaatkan mall untuk berhias agar memikat pengunjung serta meningkatkan transaksi penjualan.

Ketika Natal di Mal Rangsang Konsumsi Akhir Tahun
Kolaborasi khusus CPM dan Disney Zootopia di area Taman Tribeca. Foto: Dian/Suar

Bukan merah–hijau khas Natal yang mendominasi Central Park Mall (CPM) tahun ini. Berkolaborasi khusus dengan Disney’s Zootopia dan Disney Holiday, pusat perbelanjaan di Jakarta Barat itu justru memilih palet pink dan ungu.

Menjelang Natal dan akhir tahun, Tribeca Park, area taman seluas 1,5 hektare di dalam kompleks Central Park Mall, disulap menyerupai mini Disneyland bertema Natal.

Pohon Natal raksasa berwarna pastel, instalasi panggung berlatar permen dan es krim, hingga arena bermain anak membalut suasana hangat dan ceria. Tetap terasa khas natal, namun dengan wajah yang lebih manis dan ramah keluarga.

“Lewat Noel Season dan berbagai program spesial, kami ingin menghadirkan pengalaman berkunjung yang lebih terintegrasi dan relevan bagi keluarga urban Jakarta,” ujar Silviyanti Dwi Aryati, GM Marcomm & Relations Central Park Mall dikutip Warta Jakarta, Sabtu (22/11/2025).

Ramai pengunjung mengabadikan momen di Tribeca Park. Foto: Dian/Suar

Wisata Kota di Tengah Kota

Libur akhir tahun selalu menjadi momen yang ditunggu warga, terutama karena jeda libur yang relatif panjang. Bagi warga Jabodetabek yang tidak bepergian ke luar kota, berwisata ke pusat perbelanjaan Jakarta bukan hal yang asing. Mal tak lagi sekadar tempat belanja, melainkan ruang rekreasi, tempat bertemu, dan destinasi hiburan keluarga.

"Kalau warga urban yg nggak tertarik liburan keluar kota, menurutku dekorasi Natal di Central Park jadi alasan gue jadi pengen ke CP. Terlebih lagi akhir tahun mereka ada pesta kembang api," ujar Bima (22), salah satu pengunjung Central Park Mall.

Keramaian pengunjung di dekorasi natal Central Park Jakarta. Foto: Dian/Suar

Di balik ornamen, lampu, dan instalasi visual yang ramai dibagikan di media sosial, dekorasi Natal di mal juga memegang fungsi lain, yaitu menarik kunjungan dan menopang konsumsi pada kuartal IV, periode krusial bagi perputaran ekonomi.

Instalasi natal CPM X Disney Zootopia di area dalam mal. Foto: Dian/Suar

Koordinator dekorasi dan alur pengunjung kolaborasi Sweetopia x Central Park, Harya, mengakui bahwa dekorasi tematik memang dirancang sebagai strategi bersama.

“Memang ini kolaborasi, dan dampaknya terasa buat penjualan. Setiap tahun trafik naik. Dari sisi Disney juga dapat exposure. Tema dipilih dari sana,” ujarnya kepada Suar (23/12/2025).

Dampak ke Tenant Tak Selalu Merata

Namun, di tingkat tenant, dampak dekorasi Natal terhadap penjualan tidak selalu seragam. Ismiyati, penjual dekorasi Natal di tenant SOGO Central Park Mall, mengaku penjualan tahun ini cenderung menurun dibandingkan tahun lalu, meski kondisi antar lokasi berbeda.

“Di beberapa lokasi lain beda, misalnya Kelapa Gading agak lebih tinggi. Tapi kalau dibandingkan tahun lalu di lokasi yang sama, memang lebih menurun,” katanya.

Instalasi tematik natal 2025 area dalam CPM. Foto: Dian/Suar

Hal serupa dirasakan tenant Social Affair di area Tribeca. Menurut pengelola, peningkatan kunjungan lebih terasa pada akhir pekan. “Kalau weekend memang naik, tapi weekday relatif sama saja, meski ada dekorasi Natal,” ujarnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa dekorasi lebih efektif sebagai pemicu kunjungan dan pengalaman, bukan jaminan peningkatan transaksi harian bagi semua tenant.

Dekorasi Natal sebagai Pemantik Konsumsi Awal Q4

Ketua Umum HIPPINDO, Budiharjo Idduansyah menilai periode Natal dan Tahun Baru tetap memberi kontribusi signifikan bagi sektor ritel. “Secara umum, Nataru berkontribusi sekitar 10–20 persen terhadap penjualan ritel dibanding bulan non-Nataru,” ujarnya.

Menurut Budiharjo, dekorasi Natal terbukti meningkatkan trafik, terutama karena pusat perbelanjaan berlomba menghadirkan suasana akhir tahun yang menarik. Selain dekorasi fisik, strategi promosi kini juga banyak bergeser ke media luar ruang dan digital.

“Kami juga diarahkan menyalakan pencahayaan dan atribut promosi. Fokus ke billboard, videotron, LEDtron, dan POP di dalam mal. Diskon, cicilan 0 persen, itu semua menunjang kenaikan trafik, termasuk ke sektor makan minum karena libur,” katanya.

Instalasi Natal di Mall Taman Anggrek berkolaborasi khusus dengan 'Pororo'. Foto: Dian/Suar

Senada dengan Budiharjo, di level makro, data menunjukkan momentum konsumsi memang menguat menjelang akhir tahun. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mencatat, berdasarkan Mandiri Spending Index (MSI), belanja pada awal Desember 2025 meningkat 2,8 persen dibanding minggu sebelumnya ke level 326,8.

“Peningkatan belanja terjadi di seluruh wilayah, dengan pertumbuhan tertinggi di Maluku dan Papua, Sulawesi, Balinusra, serta Kalimantan. Sementara Jawa dan Sumatra tetap tumbuh positif meski lebih moderat,” ujar Andry.

Menurutnya, penguatan konsumsi pada kuartal IV 2025 terutama ditopang oleh belanja barang tahan lama (durable goods), khususnya elektronik dan telepon seluler, seiring perbaikan pendapatan rumah tangga kelompok bawah. Momentum libur Natal dan Tahun Baru juga mulai mendorong belanja leisure dan mobilitas, terutama transportasi darat.

“Kenaikan belanja handphone lebih banyak berasal dari meningkatnya nilai belanja per orang, sejalan dengan perbaikan pendapatan dan pemulihan pembelian barang tahan lama, khususnya pada kelompok bawah,” katanya.

Data Survei Konsumen Bank Indonesia turut mengonfirmasi tren tersebut. Pada periode November dibanding September 2025, indeks penghasilan kelompok bawah tumbuh 11%, berbalik dari kontraksi pada periode normal, sementara indeks pembelian barang tahan lama juga meningkat signifikan.

Prediksi Pergerakan Uang Selama Libur Nataru

Hingga kuartal III-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5,01 persen, sehingga kuartal IV diharapkan mampu tumbuh minimal 5 persen agar target pertumbuhan ekonomi tahunan tetap aman di sekitar 5 persen. Dalam konteks ini, Nataru dipandang sebagai salah satu pengungkit utama konsumsi rumah tangga di akhir tahun.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah sekaligus Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga APINDO, Sarman Simanjorang, memperkirakan perputaran uang selama libur Nataru 2025/2026 mencapai sekitar Rp107,5 triliun.

Proyeksi ini didasarkan pada hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan yang memperkirakan jumlah pemudik mencapai 119,5 juta orang atau setara dengan 42,01 persen dari total penduduk Indonesia.

“Dengan asumsi satu keluarga terdiri dari empat orang dan membawa bekal rata-rata Rp3,6 juta, potensi perputaran uang selama libur Nataru bisa menembus Rp107 triliun,” ujar Sarman.

Menurut Sarman, angka tersebut tergolong tinggi mengingat jarak libur Nataru yang relatif berdekatan dengan persiapan masyarakat menuju bulan puasa dan Idul Fitri 2026. Namun, antusiasme masyarakat untuk tetap bepergian pada akhir tahun justru melampaui perkiraan awal.

Ia menilai hal ini tidak lepas dari berbagai stimulus pemerintah yang menekan biaya perjalanan masyarakat, mulai dari diskon tarif tol hingga potongan harga moda transportasi darat, laut, dan udara. “Stimulus ini menjadi daya tarik dan mengurangi beban biaya perjalanan yang biasanya meningkat tajam di akhir tahun,” kata Sarman.

Besarnya mobilitas masyarakat selama Nataru berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor usaha. Sarman menyebut pusat perbelanjaan, hotel, restoran, kafe, industri makanan dan minuman, jasa parsel Natal, hingga UMKM dan pedagang mikro di kawasan wisata sebagai sektor yang paling diuntungkan. Selain itu, sektor logistik, transportasi, dan jasa penyewaan kendaraan juga diperkirakan menikmati lonjakan permintaan selama periode liburan akhir tahun.

Pohon Natal Raksasa dan labirin Pororo di atrium tengah Mall Taman Anggrek. Foto: Dian/Suar

Perputaran uang selama Nataru diproyeksikan menyebar ke berbagai daerah, terutama wilayah dengan perayaan Natal yang kuat seperti Papua, Maluku, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara, serta daerah tujuan wisata seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Bogor.

Sarman menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk memastikan kelancaran infrastruktur, transportasi, dan keamanan. “Jika kesiapan daerah terjaga dan harga tidak melonjak berlebihan, momentum Nataru ini akan mampu menggerakkan ekonomi daerah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal IV-2025,” ujarnya.

Baca selengkapnya