Kerjasama Indonesia-China untuk Transformasi Industri

Hubungan ekonomi antara Indonesia dan China kini memasuki babak baru yang lebih progresif melalui penguatan kerjasama ekonomi dengan strategi proyek Two Countries Twin Parks (TCTP). 

Kerjasama Indonesia-China untuk Transformasi Industri

Realisasi investasi China secara konsisten menempatkannya sebagai salah satu kontributor utama penanaman modal asing (Foreign Direct Investment/FDI) di tanah air. Tren positif ini terlihat jelas sepanjang tahun 2024 hingga kuartal ketiga 2025, di mana nilai investasi per kuartal stabil di kisaran 1,8 miliar dollar Amerika Serikat (AS) hingga 2,3 miliar dollar AS.

Konsistensi ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor China terhadap stabilitas ekonomi dan potensi pasar Indonesia yang besar. Keunggulan investasi China di Indonesia terlihat pada sektor-sektor kunci yang strategis dan padat teknologi.

Pada tahun 2024, sektor industri logam menjadi primadona dengan nilai investasi mencapai 4 miliar dollar AS atau setara Rp 66,53 triliun, yang memainkan peran vital dalam mendukung agenda hilirisasi nasional. 

Selain itu, sektor farmasi turut mencatatkan angka signifikan sebesar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,63 triliun. Diversifikasi investasi ini menunjukkan bahwa minat China tidak hanya pada sumber daya alam, tetapi juga mulai merambah ke industri kesehatan dan manufaktur tingkat tinggi.

Langkah konkret untuk memperdalam kerja sama kedua negara diwujudkan melalui inisiatif Two Countries Twin Parks (TCTP), sebuah konsep kawasan industri kembar yang saling terintegrasi. Proyek ini telah dimulai secara resmi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang yang bermitra dengan Shenzhen, China, sejak ditetapkan pada Maret 2025.

Fokus industri yang dibangun di Batang mencakup manufaktur, logistik, hingga pariwisata, yang bertujuan menciptakan ekosistem industri modern yang mampu bersaing di kancah internasional. Batang menjadi titik awal krusial bagi transformasi kawasan industri Indonesia menjadi pusat pengembangan yang strategis.

Kesuksesan di Batang kini bersiap untuk direplikasi dan dikembangkan lebih luas ke wilayah barat Indonesia, yakni Kawasan Industri Bintan. Berpasangan dengan Fujian di China, proyek TCTP di Bintan yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026 ini akan difokuskan pada hilirisasi komoditas tambang, baja, nikel, hingga pengolahan pangan dan kelautan.

Selain itu, pengembangan energi terbarukan juga menjadi agenda prioritas dalam kerja sama ini. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemerataan pembangunan industri dan optimalisasi potensi maritim Indonesia di wilayah kepulauan.

Baru-baru ini, komitmen kedua negara semakin kuat dengan penandatanganan 16 nota kesepahaman (MoU) investasi baru yang bernilai Rp 36,4 triliun. Proyek-proyek baru yang dijadwalkan mulai diimplementasikan pada 2026 ini mencakup sektor-sektor masa depan seperti pengembangan energi matahari, sistem penyimpanan energi, hingga riset kecerdasan buatan (AI).

Skema ini memberikan gambaran bahwa TCTP bukan sekadar pembangunan fisik kawasan, melainkan upaya integrasi mendalam yang mencakup transfer teknologi dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di kedua negara.

Selain membentuk skema kota atau kawasan industri kembar, skema TCTP menjadi magnet penarik investasi yang efektif karena menawarkan efisiensi logistik dan akses pasar yang terjamin. Dengan menggabungkan keunggulan komparatif yang dimiliki China dalam hal kekuatan modal dan teknologi serta keunggulan Indonesia dalam hal sumber daya alam, kawasan industri Indonesia berpeluang untuk bertransformasi menjadi pusat produksi global. Integrasi ini memungkinkan aliran bahan baku dan produk jadi mengalir lebih lancar di antara kedua negara, sehingga meningkatkan daya saing industri domestik di pasar global yang semakin kompetitif.

Dominasi FDI China yang ditopang oleh proyek strategis seperti TCTP menjadi katalisator utama bagi visi Indonesia untuk menjadi negara industri maju. Dengan total nilai ekonomi gabungan yang mencapai 19,2 triliun dollar AS, kerja sama ini memberikan ruang yang luas bagi industri lokal untuk naik kelas melalui modernisasi dan inovasi.

Jika implementasi di Batang dan Bintan berjalan sesuai rencana, Indonesia berpeluang besar mengukuhkan posisinya sebagai titik sentral rantai pasok di kawasan Asia, sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masa depan.

Baca selengkapnya