Kemelut Hormuz Berimbas Naiknya Harga Plastik dan Makanan Minuman

Harga plastik kemasan jenis thinwall mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dari harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp26.000 kini melonjak menjadi Rp33.000 per pak.

Kemelut Hormuz Berimbas Naiknya Harga Plastik dan Makanan Minuman
Siswa menata wadah berisi kue kering di SMK Marsudirini Marganingsih, Solo, Jawa Tengah, Senin (9/3/2026). (ANTARA FOTO/Maulana Surya/tom.)
Daftar Isi

Eskalasi perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang meluas ke seluruh kawasan di Timur Tengah menyebabkan tekanan terhadap industri di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Terhambatnya rantai pasok, lonjakan harga energi dan ketersediaan bahan baku memukul industri berbasis konsumsi seperti makanan dan minuman hingga produk rumah tangga.

Adalah Sri Wahyuni (46), seorang pedagang toko kelontong di Bekasi Jawa Barat yang mengeluhkan kenaikan harga plastik pasca libur lebaran. Ia mengatakan harga plastik kemasan jenis thinwall mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dari harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp26.000 kini melonjak menjadi Rp33.000 per pak.

‎“Plastik kemasan merk thinwall itu naik lumayan menjadi Rp33.000 per pak. Jadi sekarang serba susah,” kata Sri saat ditemui di Bekasi, Senin (30/3/2026).

Kenaikan harga sebanyak Rp7000 itu tak menutup ongkos produksinya sehingga untung yang didapat juga sedikit. Tak jarang, ujar dia, akhirnya custumer berpikir ulang untuk membeli produknya.

Seiring dengan meningkatnya biaya tersebut, sejumlah produsen makanan dan minuman mulai melakukan penyesuaian harga jual produk di pasar.

Produk-produk seperti makanan ringan, minuman kemasan hingga plastik kemasan mengalami tekanan biaya yang mendorong kenaikan harga secara bertahap.

Henny Kusuma Astutik (40), pengusaha katering rumahan di Bekasi, mengaku harus menyesuaikan harga jual produknya akibat lonjakan biaya bahan baku dan kemasan.

‎Ia mengatakan harga nasi ayam ketumbar yang dijualnya naik dari Rp15.000 menjadi Rp18.000 per porsi. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kenaikan harga sejumlah komponen produksi, mulai dari bahan pangan hingga kemasan.

Lonjakan harga tersebut memicu tekanan biaya operasional dan mendorong pelaku usaha menaikkan harga jual produk untuk menjaga kelangsungan usaha.

‎“Ya gimana ya, semua serba mahal. Harga ayam naik, cabai naik, wadah (kemasan) pun ikut naik. Mau mengurangi porsi ya enggak enak sama pembeli, akhirnya milih naikin aja harganya. Ini aja ambil untung tipis,” ujar Henny, Selasa (31/6/2026).

Plastik rigid yang digunakan untuk kemasan umumnya berbahan baku biji plastik sintetis yang berasal dari hasil penyulingan minyak bumi dan gas alam. Bahan utamanya meliputi PET (Polyethylene Terephthalate) - yang biasanya digunakan untuk botol atau wadah makanan.

Tertekan hebat

Tak hanya warga, kenaikan berbagai produk itu juga dirasakan pengusaha skala besar dan menengah.

Business Development Director Indonesian Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti mengatakan kenaikan harga minyak global akibat eskalasi geopolitik di Selat Hormuz mulai menekan industri manufaktur dan plastik di Indonesia, terutama pada segmen kemasan fleksibel dan rigid yang bergantung pada bahan baku petrokimia.

“Jelas terdampak sekali, terutama kemasan fleksibel dan rigid yang menggunakan bahan baku plastik,” ujar Ariana kepada SUAR, Senin (30/3/2026).

Gangguan tersebut memengaruhi pasokan bahan baku seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), serta ethylene glycol (EG) yang menjadi komponen utama polyethylene terephthalate (PET).

Menurutnya, bahan baku plastik tersebut merupakan turunan dari nafta yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak. Ketergantungan Indonesia terhadap impor juga memperbesar tekanan. Sekitar 50–60% kebutuhan bahan baku plastik nasional masih dipasok dari luar negeri, terutama dari China, Korea Selatan, dan kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya gangguan pasokan dari produsen domestik. Ariana menyebutkan, produsen dalam negeri seperti Chandra Asri Petrochemical sempat mengumumkan kondisi force majeure yang turut menekan ketersediaan bahan baku di pasar.

Dari sisi harga, tekanan yang terjadi cukup signifikan. Ariana mengungkapkan bahwa volatilitas harga bahan baku plastik saat ini mencapai 80–100% seiring disrupsi rantai pasok global.

“Tapi belum detail, karena kalau bicara harga sangat fluktuatif dengan adanya disrupsi supply chain ini,” kata dia.

Ketergantungan tinggi terhadap pasokan impor membuat industri kemasan nasional rentan terhadap gangguan eksternal. Penutupan atau pembatasan jalur distribusi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama perdagangan energi dan petrokimia global, berpotensi menghambat pasokan serta meningkatkan ketidakpastian harga.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan produsen kemasan, tetapi juga merembet ke industri pengguna. Sekitar 60% konsumsi plastik di Indonesia terserap oleh sektor makanan dan minuman, diikuti oleh produk personal care dan rumah tangga. Gangguan pasokan berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, keterlambatan distribusi, hingga tekanan pada harga produk konsumen.

Dalam merespons tekanan tersebut, Ariana mengungkapkan jika pelaku industri mulai melakukan berbagai langkah mitigasi. Dari sisi operasional, efisiensi dilakukan melalui optimalisasi lini produksi dan pengurangan limbah. Selain itu, perusahaan juga mulai mengadopsi substitusi bahan baku, termasuk penggunaan plastik daur ulang serta pengurangan ketebalan kemasan.

Dari sisi komersial, penyesuaian harga mulai dilakukan secara bertahap dan selektif. Ariana menegaskan bahwa kenaikan biaya produksi tidak dapat dihindari untuk diteruskan ke pasar, meskipun dilakukan dengan mempertimbangkan daya serap konsumen.

Dua warga membawa kantong plastik berisi paket sembako yang dibeli pada kegiatan Gerakan Pangan Murah di Polda Kalimantan Barat, Jumat (13/3/2026). (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/foc.)

Strategi manajemen risiko

Ariana menambahkan sejumlah perusahaan juga mulai menerapkan strategi manajemen risiko seperti hedging, kontrak jangka panjang dengan pemasok, serta diversifikasi sumber bahan baku. Namun, ia menekankan bahwa diversifikasi bukan solusi instan dan memerlukan strategi jangka pendek hingga panjang.

Ketidakpastian harga energi global juga mendorong perubahan strategi produksi dan investasi. Perusahaan mulai meningkatkan efisiensi energi, mengoptimalkan utilisasi mesin, serta mengarahkan investasi pada otomasi dan digitalisasi untuk meningkatkan fleksibilitas operasional.

Ariana menilai, jika ketegangan di Selat Hormuz berlanjut, kinerja industri petrokimia dan plastik nasional akan tertekan dalam jangka pendek. Margin produsen berpotensi menyempit, sementara produksi dapat terganggu akibat keterbatasan pasokan bahan baku.

Meski demikian, ia menilai kondisi ini menjadi momentum bagi industri untuk bertransformasi.

“Dalam dinamika global yang penuh ketidakpastian, setiap disrupsi rantai pasok menjadi momentum untuk bertransformasi,” jelas Ariana.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur vital distribusi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati jalur tersebut.

Ketua Gabungan Produsen Makanan-Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman, mengatakan terhambatnya pasokan berpotensi menggerus margin industri dan memperberat tantangan pada kuartal II 2026.

“Energi yang naik luar biasa, bahkan sudah di atas 115 sekarang hari ini, ini sungguh menekan margin dari industri kita,” ujar Adhi kepada SUAR, Selasa (31/3/2026).

Selain energi, sektor logistik juga mengalami tekanan signifikan. Adhi mengungkapkan terjadi penundaan pengiriman kapal dan perubahan rute distribusi yang menyebabkan biaya logistik meningkat tajam.

“Logistik ini sangat berat karena banyak sekali penundaan kapal, kemudian ada yang harus berputar dan sebagainya dengan biaya yang sangat mahal sekali, dengan ada kenaikan surcharge,” kata Adhi.

Tekanan semakin besar dengan terganggunya pasokan bahan baku, terutama plastik sebagai komponen utama kemasan produk makanan dan minuman.

Menurut Adhi, industri saat ini menghadapi krisis kemasan plastik akibat berkurangnya pasokan dari Timur Tengah serta penurunan produksi di dalam negeri.

“Salah satu yang paling parah saat ini adalah plastik. Ini kita krisis kemasan plastik, karena plastik ini banyak bahan baku yang dipasok dari Timur Tengah, dimana di sana jauh berkurang produksinya,” bebernya.

Ia menambahkan, produsen bahan baku dalam negeri juga mengalami kesulitan sehingga harus mengurangi kapasitas produksi hingga sepertiga dari kondisi normal. Dampaknya, tidak hanya harga yang meningkat, tetapi juga ketersediaan bahan baku yang semakin terbatas.

“Kenaikan harga yang kami dapat info dari beberapa pemasok bisa sekitar antara 30–60 persen kenaikan harganya. Jika gangguan pasokan berlanjut, industri berpotensi menghadapi perlambatan produksi hingga penghentian sementara," kata dia.

Untuk menjaga operasional, pelaku industri mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti China, Malaysia, dan Taiwan. Langkah ini diambil sebagai respons atas keterbatasan pasokan domestik yang tidak mampu memenuhi kebutuhan industri.

“Karena di dalam negeri sudah tidak ada lagi, daripada kita stop produksi tentunya kita harus cari alternatif dari negara-negara lain,” ungkap dia.

Pekerja memeriksa pembangkit listrik tenaga surya di sela kunjungan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung di PLTA Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (16/3/2026). (ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nym)

Energi surya, angin dan baterai

‎Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa Fabby Tumiwa mengatakan rendahnya adopsi energi terbarukan tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menahan ekspansi industri manufaktur yang seharusnya dapat tumbuh melalui pengembangan rantai pasok domestik.

‎Hambatan struktural seperti regulasi yang terfragmentasi, keterbatasan tenaga kerja terampil, serta lemahnya integrasi antara riset dan kebijakan energi menjadi faktor utama yang memperlambat perkembangan sektor ini.

"Tiga sektor utama yang berpotensi menjadi pendorong industri manufaktur, yaitu energi surya, angin, dan baterai," ujar dia.

‎Lebih lanjut, Analis Data Energi IESR, Abyan Hilmy Yafi, menekankan bahwa penguatan industri manufaktur energi terbarukan menjadi kunci untuk menekan biaya energi dan meningkatkan daya saing industri secara keseluruhan.

‎“Pengembangan tiga teknologi ini akan mengurangi ketergantungan terhadap impor dan bisa terhindar dari dampak kerentanan terhadap fluktuasi harga global. Untuk memastikan keuntungan dari pengembangan ini pemerintah perlu mendukung dengan kebijakan, insentif, dan pendanaan yang jelas serta konsisten,” ujar Hilmy.

‎Pihaknya merekomendasikan pemerintah untuk mempercepat pembangunan rantai pasok domestik, menyusun peta jalan terintegrasi antara energi dan industri, serta memperkuat dukungan kebijakan dan pembiayaan.

‎Selain itu, pengembangan sumber daya manusia dinilai penting untuk memastikan kesiapan tenaga kerja dalam mendukung industri energi terbarukan yang semakin kompleks.

Chris Wibisana turut berkontribusi dalam artikel ini

Penulis

Baca selengkapnya