Sepanjang sejarah umat manusia, dunia ini selalu dipenuhi jejak orang-orang ambisius yang memicu dampak kerusakan yang luar biasa. Dari Firaun hingga Adolf Hitler. Dari Alexander Agung, Genghis Khan, hingga Joseph Stalin dan Mao Zedong. Mereka punya kecenderungan merasa lebih dari orang lain, bahkan merasa dirinya Tuhan, atau setidaknya dipilih oleh Tuhan untuk mewakili-Nya di Bumi.
Sifat lebih unggul, lebih tinggi, ini mendorong seseorang punya keinginan mengeksploitasi pihak lain, karena pihak lain itu dianggap objek, bukan pihak yang setara. Begitulah sifat manusia yang kini dikenal sebagai megalomania atau delusions of grandeur. Sifat delusi keagungan ini secara psikologis memang bukan hal yang wajar. Karena ia merupakan gejala gangguan kejiwaan yang perlu diwaspadai.
Gangguan yang juga dikenal dengan istilah waham kebesaran (grandiose delusion) ini, dapat membuat seseorang memusatkan perhatiannya pada diri sendiri. Beberapa orang sehat memang dapat memiliki pendapat yang terlalu tinggi tentang diri mereka sendiri, namun, tidak seperti orang normal, seorang megalomania yakin tak tergoyahkan, bahwa delusi mereka benar. Bahkan ia juga bisa mempengaruhi orang lain untuk mengikuti sudut pandangnya dan menjadikannya sebagai pemimpin.
Banyak sebab yang memicu gangguan kepribadian, yang merupakan gangguan kesehatan mental ini. Bisa saja dipicu karena masalah bipolar akibat depresi. Atau juga seseorang yang mengidapnya menderita skizofrenia, bisa juga akibat benturan parah di kepala yang memicu trauma atau cedera otak.
Sebagai catatan, megalomania bukan diagnosis resmi dalam psikiatri modern, melainkan istilah populer untuk menggambarkan perilaku ekstrem. Meski begitu, kita tahu, orang yang membawa sifat ini benar-benar bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, dimana kelakuannya memang berbeda, istimewa dalam arti negatif.
Bila ditinjau dari sisi filosofis, kelakuan ini berangkat dari keterasingannya dari makna hidup, hingga mendorongnya mencari identitas palsu.
Waham kebesaran juga bisa dilihat sebagai usaha radikal untuk menegaskan diri di tengah absurditas hidup. Mirip dengan gagasan filsuf asal Jerman Friedrich Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa, megalomania mengekspresikan dorongan manusia untuk melampaui keterbatasan, meski dengan cara yang patologis.
Maka tak aneh jika pengidap gejala waham kebesaran ini bisa merasa hidupnya lebih berarti karena fantasi kebesaran memberi struktur dan tujuan. Dengan demikian, waham kebesaran tidak hanya dilihat sebagai gangguan, tetapi juga sebagai narasi eksistensial yang berfungsi bagi individu dan pengikutnya.
Lalu apakah waham kebesaran hanya diderita para pemimpin besar, namun tidak menghinggap ke manusia biasa?
Megalomania memang sering dilekatkan pada tokoh sejarah atau penguasa yang menuntut kultus pribadi, proyek monumental, atau kekuasaan absolut. Namun dalam psikologi, waham kebesaran bisa muncul pada siapa saja, tidak terbatas pada posisi sosial atau politik.
Orang dengan posisi kecil sekalipun bisa menunjukkan perilaku megalomania dalam lingkup terbatas. Misalnya di lingkungan keluarga, komunitas kecil, atau organisasi lokal. Dalam organisasi profit juga dapat ditemui karyawan megalomania yang memiliki gangguan mental.
Mereka percaya memiliki kekuasaan, kecerdasan, atau status yang luar biasa tidak nyata, bersikap sangat sombong, egois, merendahkan orang lain, tidak menerima kritik, dan sulit diatur karena merasa paling benar dan penting, seringkali menimbulkan konflik dan masalah hubungan kerja.
Menghadapi megalomania di lingkungan organisasi terbatas, bukan lagi soal untuk mengubah mereka menjadi normal. Melainkan perlu ada strategi mengelola interaksi, agar tidak merusak tim. Kuncinya adalah batasan tegas, komunikasi profesional, dukungan kolektif, dan fokus pada tujuan organisasi.
Di sisi lain, secara medis, megalomania dapat ditangani melalui terapi psikologis dan farmakologis. Sedang dalam pendekatan filosofis, untuk mereduksi sifat waham kebesaran perlu refleksi kritis dalam melatih kesadaran diri, membedakan antara realitas dan fantasi.
Waham kebesaran, di satu sisi, terkadang menghasilkan produk-produk budaya yang kekal. Karena egonya, seorang megalomania akan berusaha membangun simbol-simbol masif, demi menunjukkan eksistensinya di dunia, bahkan kalau bisa sampai ke alam setelah kematian.
Namun, terkadang itu harus dibayar mahal dengan kerusakan di pihak lain. Sejarah umat manusia juga mencatat, ketidakseimbangan dunia akibat ambisi seorang megalomania bisa menghancurkan dan meniadakan satu sama lain.