Salah satu cara yang dinilai efektif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi maupun susu, adalah mengintegrasikan peternakan sapi dengan memanfaatkan potensi besar industri kelapa sawit nasional. Bungkil inti sawit memiliki kandungan protein dan energi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terutama untuk sapi bunting, sapi laktasi, ataupun sapi anak. Praktik ini pun dikenal dengan istilah sistem integrasi sapi-kelapa sawit (Siska).
Dengan luas perkebunan sawit mencapai 16 juta hektare, integrasi sawit dan sapi mampu memperkuat ketahanan pangan nasional. Tak hanya itu, biaya pakan ternak juga bisa ditekan dan membuat produktivitas perkebunan menjadi lebih berkelanjutan.
Ketua Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (Gapensiska) Windu Negara, mengatakan Indonesia perlu memanfaatkan keunggulan perkebunan sawit nasional untuk memperkuat ketahanan pangan khususnya dalam meningkatkan produksi daging sapi atau susu yang selama ini masih diimpor dari luar negeri.
“Dengan luas 16 juta hektare, bagaimana kebun sawit ini tidak hanya bermanfaat untuk menghasilkan minyak kelapa sawit, tapi bagaimana potensi itu kita tambahkan manfaatnya untuk ketahanan pangan salah satunya adalah untuk produksi daging sapi,” kata Windu dalam Seminar Nasional yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) Pantai Indah Kapuk 2, Kabupaten Tangerang, Jumat (08/05/2026).
Impor terhadap komoditas daging sapi ini menurutnya perlu menjadi persoalan yang harus segera diantisipasi sejak dini. Ia mencontohkan, gejolak yang terjadi pada harga energi impor bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik geopolitik, menyebabkan pasokan menjadi terganggu dan harga mengalami peningkatan dalam waktu singkat.
Kondisi serupa pun berpotensi terjadi pada komoditas daging sapi apabila Indonesia masih terus bergantung pada pasokan impor dari negara lain.
“Ini juga akan terjadi dengan komoditas daging sapi yang selama ini kita impor, bayangkan kalau suatu saat ada gejolak antara kita dengan negara pengekspor sapi ke Indonesia. Bagaimana kemudian harga daging sapi di Indonesia? Pasti naik dan ini akan berdampak ke masyarakat,” ucapnya.
Oleh karena itu, perlu dilakukan sistem integrasi sawit-sapi sebagai salah satu upaya untuk mengatasi persoalan tersebut. Sistem ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan populasi ternak domestik sambil di saat yang bersamaan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Di kesempatan yang sama, Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Perkebunan dan Hortikultura Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) Radian Bagiyono, mengatakan industri sawit saat ini menjadi komoditas strategi nasional lantaran kontribusinya yang besar terhadap sektor pangan dan juga energi. Apalagi, Indonesia merupakan produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia.
“Kontribusinya sangat besar, 4,5% dari PDB, kemudian juga dari sisi ekonomi itu bisa menyediakan 16 juta lapangan kerja. Dan ini kalau kita kembangkan lagi dengan ternak itu akan menambah ruang untuk lapangan kerja sektor peternakan khususnya. Kemudian juga ini menjadi penopang utama ketahanan pangan dan energi nasional,” ucap Radian.
Pemerintah saat ini tengah berfokus untuk meningkatkan ketahanan serta swasembada protein nabati dan hewani nasional. Industri sawit pun disebut memiliki potensi untuk mendukung kedua sektor tersebut, terutama apabila diintegrasikan dengan sistem sawit-sapi.
Melalui sistem tersebut, kawasan perkebunan dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak nasional. Dijelaskan olehnya, daya tampung lahan sawit untuk penggembalaan adalah 4 hektare untuk 1 ekor ternak sapi. Jika 50% dari luas sawit yang sebesar 16 juta hektare diintegrasikan, artinya ada 8 juta hektare lahan sawit yang bisa menampung 2 juta hektare ternak sapi pedagang.
Dari belasan juta hektare tersebut, 40-42% pemilik kebun merupakan petani kecil atau rakyat, sementara 58-60% merupakan perusahaan dan BUMN. Pada akhirnya, integrasi Siska ini juga akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kita punya gambaran bahwa kita punya luasan sawit yang cukup luas, kalau kita manfaatkan dengan sistem siska ini bisa membantu peningkatan produksi baik daging maupun susu,” ungkapnya.
Pemerintah Indonesia sendiri juga telah memiliki sejumlah regulasi yang kemudian turun menjadi peraturan gubernur (pergub) atau peraturan daerah (perda). Ada 3 regulasi yang menjadi dasar untuk dukungan di sektor perkebunan dalam mengintegrasikan sawit-sapi yaitu Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, Inpres Nomor 6 Tahun 2019 tentang RAN KSB, dan Permentan Nomor 18 Tahun 2021 tentang Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar.
“Yang pertama adalah Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, di Pasal 44 ayat 1 itu sangat mendukung uapya budi daya perkebunan dengan integrasi dengan budi daya lain termasuk juga dengan ternak, kemudian di RAN KSB kita juga memasukkan item integrasi perkebunan sawit dengan peternakan. Kemudian di Permentan ini sangat jelas Pasal 7 dan 8 mengakomodir integrasi sawit dan sapi,” lanjut Radian.
Radian menegaskan bahwa industri sawit tidak hanya berperan sebagai penopang devisa, tetapi juga menjadi katalisator ketahanan nasional. Daya saing industri sawit ini perlu diperkuat dengan inovasi, hilirisasi, efisiensi, hingga keberlanjutan. Pengembangan industri sawit terintegrasi juga bisa meningkatkan nilai tambah domestik sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global.
“Nah kunci keberhasilan sistem integrasi sawit-sapi terletak pada sinergi manajemen operasional antara unit ternak dan perkebunan,” tutupnya.
Di balik potensinya yang sangat besar, pengembangan integrasi sawit-sapi ini juga masih dihadapi dengan sejumlah persoalan mulai dari manajemen nutrisi dan kualitas pangan yang masih minim, perizinan HGU, minimnya investasi dan kemitraan inti-plasma, hingga perlunya sertifikasi yang harus memenuhi standar keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.
Sebagaimana diketahui, di lahan sawit, terdapat produk samping hasil pengolahan inti kelapa sawit yang dikenal sebagai bungkil inti sawit. Produk sampingan ini ternyata menyimpan manfaat yang besar untuk diintegrasikan dengan sapi, namun belum dimanfaatkan secara optimal di sektor peternakan dalam negeri.

Kepala Pusat Studi Hewan Tropika Institut Pertanian Bogor (IPB) Nahrowi, menjelaskan bahwa bungkil inti sawit ini berpotensi meningkatkan produktivitas sapi melalui sistem integrasi sawit-sapi. Bahan ini memiliki kandungan protein dan energi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terutama untuk sapi bunting, sapi laktasi, ataupun sapi anak.
“Pada saat sapi bunting, saat sapi laktasi, itu kritis sehingga kita perlu tambahan suplemen pakan, bahan pakan apa yang paling mungkin di kebon sawit? Yang paling mungkin adalah bungkil inti sawit. Kenapa? Karena tersedia di lapangan dan kalau kita bermain dengan Siska bawa pakan dari luar itu gak efisien,” ujar Nahrowi.
Sistem integrasi sawit-sapi ini memberikan manfaat timbal balik bagi sektor perkebunan maupun peternakan. Keberadaan sapi dapat membuat area perkebunan lebih efisien, sapi juga merupakan pengendali gulma biologis.
Pemanfaatan lahan sawit untuk peternakan sapi dapat membantu menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan kebun melalui konsep zero waste. Pakan ternak diperoleh dari vegetasi yang tumbuh di bawah tanaman sawit, sementara feses dan urine sapi dapat dimanfaatkan untuk penyuburan lahan.
Sistem integrasi ini juga menunjukkan hasil positif dalam pembiakan ternak. Berdasarkan kajian yang dilakukan, tingkat kebuntingan sapi dalam sistem tersebut dapat mencapai lebih dari 80%, lebih tinggi dibanding pola pemeliharaan intensif yang masih berada di bawah 60%. Selain itu, tingkat kematian sapi pedet juga berada di bawah angka 3%.
Dari sisi perkebunan, dampaknya terjadi pada pengurangan biaya penyiangan sebesar Rp70.000-170.000 per hektare per tahun, penghematan biaya pupuk Rp250.000 per hektare per tahun, dan potensi peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 4-5% setelah 3 tahun.
“Jadi bungkil inti sawit itu bukan sekedar produk samping tapi sumber daya strategis yang berpotensi menjadi penggerak utama transformasi integrasi sawit-sapi menuju sistem pangan nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kepala Pusat Riset Peternakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Santoso, mendorong integrasi Internet of Things (IoT) dan inovasi pemuliaan ternak adaptif di ekosistem sawit. Menurutnya, transformasi menuju peternakan presisi menjadi suatu kebutuhan untuk menyelesaikan tantangan utama di sektor peternakan yaitu khususnya mengenai stres panas, produktivitas yang belum optimal, hingga manajemen ternak yang masih dilakukan secara konvensional.
“Kalau melihat nilai temperature humidity index (THI), itu adalah di mana ternak itu merasa nyaman dan tidak stres, ini yang selalu kita pantau. Ada stres, ada panas, produktivitas gak optimal,” ucap Santoso.
Baca juga:

Ia pun mengusung sebuah konsep yang disebut dengan Smart Siska 4.0, di mana terjadi integrasi IoT, big data, artificial intelligence (AI), dan genetika untuk peternakan yang lebih adaptif. Smart Siska ini pun bisa mendeteksi dini heat stress dan penyakit lebih cepat 24-48 jam, penurunan mortalitas sebesar 10-25%, peningkatan efisiensi pakan 15-25%, hingga efisiensi tenaga kerja 30-50%.
“Dan keputusan-keputusan yang kita ambil di lapangan bukan keputusan yang bias, kita ambil berdasarkan data yang kita peroleh secara real time,” lanjutnya.
Pilar utama dalam Smart Siska 4.0 ini adalah pemantauan ternak secara real time berbasis IoT, digitalisasi Genetic Feed Performance (GFP), dan riset genetik ternak tahan panas.