Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia masih melanjutkan surplus neraca perdagangan 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Neraca perdagangan periode Januari-Desember 2025 tercatat surplus sebesar USD41,05 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai total ekspor Indonesia pada Desember 2025 sebesar USD 26,35 miliar, sementara nilai total impor Indonesia pada Desember 2025 sebesar USD 23,83 miliar. Dengan demikian Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan pada Desember 2025 sebesar USD 2,52 miliar.
Dalam jumpa pers Senin (2/2/2025), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, ekspor ditopang oleh ekspor nonmigas Desember 2025 yang bertumbuh 13,72% Year on Year (YoY) menjadi sebesar USD 25,09 miliar.
Pertumbuhan ekspor nonmigas ini berperan signifikan pada pertumbuhan ekspor secara keseluruhan karena berkontribusi terhadap 95,21% dari total ekspor.
Adapun bila dilihat sepanjang tahun Januari-Desember 2025 total ekspor Indonesia mencapai USD282,91 miliar meningkat 6,15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu total impor Januari-Desember 2025 mencapai USD 241,86 miliar. Artinya, selama neraca perdagangan periode Januari-Desember 2025 tercatat surplus sebesar USD41,05 miliar.
Komoditas penopang ekspor pada Januari-Desember 2025 adalah komoditas Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya dengan nilai 21,83% YoY sehingga menjadi USD24,42 miliar
Tiongkok masih menjadi destinasi utama ekspor Indonesia dengan nilai ekspor USD 64,82 miliar. Negeri tirai bambu itu berkontribusi terhadap 24,02% total ekspor nasional.
Sementara itu impor pada Januari-Desember 2025 masih didominasi oleh impor bahan baku atau penolong dengan kontribusi 69,99% dari impor.
Negara asal impor juga didominasi oleh China dengan nilai USD 86,99 miliar atau setara dengan 41,06% dari total impor non migas ke Indonesia.
Inovasi dan efisiensi logistik
Sekalipun mencatatkan hasil cemerlang, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno menilai angka positif surplus neraca perdagangan belum sepenuhnya mencerminkan ketangguhan daya saing produk nasional di kancah global, terutama dengan tantangan eksternal yang semakin pelik, mulai dari proteksionisme yang mempersempit ruang ekspor hingga regulasi antideforestasi Uni Eropa yang ketat.
“Adaptasi adalah satu-satunya jalan keluar. Pelaku usaha wajib berinovasi menyesuaikan proses produksi agar selaras dua ketentuan internasional tersebut,” ujar Benny.
Dari sisi kebijakan, Benny mendorong percepatan kesepakatan Mutual Recognition Agreement (MRA), yaitu harmonisasi standar dan karantina yang akan memangkas hambatan teknis perdagangan. Di samping itu, diversifikasi ekspor perlu dilakukan bukan hanya dari segi pasar, melainkan juga diversifikasi produk dan pengembangan komoditas daerah.
“Digitalisasi rantai ekspor dan peningkatan nilai tambah ekspor produk hortikultura serta produk olahan harus menjadi prioritas. Strategi ini akan membuat produk Indonesia bertahan di tengah gempuran proteksionisme,” tegasnya.
Melengkapi pandangan Benny, Sekretaris Jenderal GPEI Toto Dirgantoro menekankan efisiensi biaya logistik dan pembenahan secara berkesinambungan akan berdampak langsung terhadap kinerja ekspor Indonesia ke depan. Pembenahan itu mencakup seluruh aspek ekspor, mulai dari pelabuhan, kepabeanan, hingga karantina demi menciptakan efisiensi menyeluruh.
“Transparansi dalam proses logistik menjadi kunci penting. Tata kelola yang semakin terbuka dan terkoordinasi akan membuat pelaku usaha dapat merencanakan pengiriman lebih pasti dan juga mengurangi beban biaya yang selama ini menjadi tantangan aktivitas ekspor,” ucapnya kepada SUAR.
Terdapat dua kunci yang menurut Toto dapat meningkatkan kinerja ekspor ke depan. Pertama, pengembangan tempat pemeriksaan terpadu karantina ekspor untuk mempercepat pemeriksaan dan memperlancar arus barang ekspor, sehingga waktu tunggu dapat ditekan secara signifikan. Kedua, penurunan biaya logistik yang lebih efisien sehingga produk Indonesia dapat lebih bersaing, mulai dari kawasan Asia Tenggara.
“Target kita jelas. Ketika biaya logistik bisa ditekan, daya saing ekspor akan meningkat. Dengan begitu, produk Indonesia dapat bersaing dan memenangkan pasar global,” cetusnya.
Sistem yang adaptif
Membenarkan pandangan Toto, CEO Supply Chain Indonesia Setijadi menegaskan kebutuhan sistem logistik yang adaptif merupakan fondasi strategis dalam meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Ia mengingatkan, tanpa sistem logistik yang efisien, terintegrasi, dan resilien, target pembangunan nasional akan sulit dicapai secara cepat dan berkelanjutan.
“Biaya logistik ekspor dari Indonesia masih sekitar 8,98% harga barang yang dikirimkan. Kinerja logistik Indonesia juga masih tertinggal, berada di peringkat 63 dari 139 negara dan masih berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam di kawasan Asia Tenggara,” cetus Setijadi.
Baca juga:

Saat ini, Setijadi menilai sistem logistik yang kurang optimal sebagai tulang punggung utama kinerja ekspor disebabkan dua aspek. Pertama, rantai distribusi yang panjang dan terfragmentasi sehingga melemahkan integrasi antarmoda dan multimoda. Kedua, dasar hukum sistem logistik berupa peraturan presiden yang kurang efektif untuk menangani sektor logistik yang bersifat multisektoral, multidimensional, dan multi-stakeholders.
“Sektor logistik saat ini melibatkan sekurangnya 3 kementerian koordinator, 15 kementerian, dan 18 instansi dalam bisnis kepelabuhanan, tetapi belum memiliki single leading institution yang kuat,” ujar Setijadi.
Ke depan, Setijadi menegaskan bahwa sistem logistik yang adaptif akan melipatgandakan daya saing komoditas dan produk nasional. Sistem ini menggunakan pendekatan end-to-end supply chain, konsolidasi muatan untuk meningkatkan economies of scale, serta penyediaan layanan logistik bernilai tambah.
“Dalam konteks global, sistem logistik yang tangguh penting untuk menghadapi disrupsi rantai pasok. Hal ini memerlukan digital visibility, yaitu integrasi data logistik nasional dan diversifikasi rute, moda, dan sumber pasokan yang akan menjaga ketahanan ekonomi kita,” pungkasnya.