Ada zombie di kantor. Ia datang pagi ke tempat kerja dengan lesu. Duduk menghadap meja kerjanya, menyentuh papan ketik komputer, menggeser tetikus, lalu beralih melihat layar telepon pintarnya. Menggulir halaman di teleponnya sangat dalam, namun tak ada yang menarik perhatiannya. Ia bingung. Waktu ia buang dalam kegelisahan.
Hari jelang sore, pekerjaan diselesaikan dengan keterpaksaan yang luar biasa. Sang karyawan zombie tadi pun merasa hari-harinya kosong. Ia mengalami kebosanan yang menekan dadanya. Pekerjaan yang ia lakukan sepertinya tak ada arti. Hanya pengulangan yang tak ada ujung.
Kebosanan berlarut yang menghinggapi karyawan secara berkepanjangan, bisa jadi karena seseorang itu mengidap boreout. Jika ada sindrom burnout, ada juga boreout. Sama-sama berbahaya bagi kesehatan mental pekerja sektor formal.
Bila kondisi kelelahan atau burnout, dikaitkan dengan jam kerja yang panjang, keseimbangan kerja-hidup yang buruk, dan pengagungan terhadap kerja berlebihan, maka kebosanan atau boreout terjadi ketika seseorang bosan dengan pekerjaannya, sampai pada titik di mana ia merasa pekerjaan itu sama sekali tidak berarti. Pekerjaan itu tampak tidak ada gunanya, tidak bernilai.
Terminologi boreout sebagai paradoks dari sindrom burnout, untuk pertama kalinya diperkenalkan dan didefinisikan oleh konsultan perusahaan Peter Werder dan Philippe Rothlin pada tahun 2007. Jika burnout dipicu beban kerja dan target berlebihan, boreout dipicu hal yang sebaliknya.
Kedua konsultan mendefinisikan, pemicu boreout mencakup tiga elemen utama. Tantangan terlalu ringan, tidak ada minat dan kebosanan di tempat kerja yang saling berkaitan dan saling memengaruhi.
Karyawan yang secara permanen tidak diberi tantangan kerja, akan merasa bosan dengan pekerjaannya.
Karyawan yang secara permanen tidak diberi tantangan kerja, akan merasa bosan dengan pekerjaannya. Jika kebosanan juga permanen, minat pada apa yang mereka kerjakan juga akan lenyap, begitu kesimpulan kedua pakar itu dalam bukunya “Diagnose Boreout“.
Walau penyebabnya berbeda, orang yang mengalami boreout akan menderita gejala yang sama dengan burnout, yakni depresi, apatis, gangguan tidur, mudah terserang infeksi, keluhan sakit perut, sakit kepala atau pusing. Karena itulah, sindrom boreout juga sering dijuluki adiknya sindrom burnout.
Dari sudut pandang filosofis, boreout dapat dipahami sebagai krisis makna dalam aktivitas kerja. Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre mengajarkan, manusia mendefinisikan dirinya melalui tindakan. Pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga ruang aktualisasi diri.
Ketika pekerjaan tidak memberi ruang bagi ekspresi potensi, individu mulai merasa terasing dari dirinya sendiri.
Gagasan ini sejalan dengan konsep alienation dari Karl Marx, yang menjelaskan bagaimana pekerja modern bisa kehilangan hubungan dengan makna pekerjaannya.
Sementara Friedrich Nietzsche melihat kebosanan sebagai tanda bahwa seseorang tidak lagi memiliki tujuan yang cukup besar untuk menggerakkan kehidupannya dalam perspektif ini, boreout bukan sekadar masalah organisasi, tetapi juga problem eksistensial manusia membutuhkan tantangan agar merasa hidup.
Bagi departemen Human Resource Development (HRD), boreout merupakan fenomena yang sulit dideteksi. Berbeda dengan burnout yang sering terlihat melalui kelelahan dan stres, boreout cenderung tersembunyi di balik rutinitas kantor.
Karena itu HRD perlu mengambil pendekatan yang lebih proaktif, seperti dengan melakukan evaluasi desain pekerjaan lalu mendorong rotasi dan mobilitas internal. Kemudian membuka dialog yang jujur tentang beban kerja dan mengembangkan budaya pembelajaran.
Langkah-langkah ini penting bukan hanya untuk kesejahteraan individu, tetapi juga untuk menjaga vitalitas organisasi.
Pada akhirnya, mengatasi boreout bukan hanya tanggung jawab organisasi. Individu juga memiliki peran penting.
Kesadaran pertama yang perlu dimiliki adalah bahwa kebosanan kronis bukan sekadar masalah kecil. Ia adalah sinyal bahwa ada jarak antara potensi diri dan aktivitas yang dijalani.
Dalam perspektif filsafat, manusia selalu berada dalam proses menjadi. Kebosanan yang berkepanjangan sering kali merupakan tanda bahwa seseorang telah berhenti bertumbuh.
Karena itu, boreout dapat dipahami sebagai sebuah peringatan—bahwa hidup membutuhkan tantangan, agar tetap memiliki makna.