Gim Bagi Wakil Dirut SeaBank, Kekeluargaan di Kantor dan Kota Beradab

Gim Bagi Wakil Dirut SeaBank, Kekeluargaan di Kantor dan Kota Beradab
Daftar Isi

Selamat berakhir pekan. 

Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Main Gim Jadi Pintu Gerbang Junedy Liu Geluti Teknologi di SeaBank

  • Junedy Liu, Wakil Direktur Utama SeaBank, memulai perjalanannya di dunia teknologi berkat kecintaannya pada gim yang kemudian mengantarkannya mempelajari Sistem Informasi. Meskipun tidak menempuh jalur teknis sebagai pengembang, latar belakang tersebut membentuk pola pikir operasional dan manajemennya hingga ia sukses berkarier sebagai konsultan sebelum akhirnya memimpin di industri perbankan digital. Hingga kini, Junedy tetap memelihara rasa ingin tahu dengan rutin mengulik perkembangan perangkat keras, kecerdasan buatan, hingga mengeksplorasi berbagai genre musik. Baginya, kebiasaan mencoba hal-hal baru bukan sekadar hobi, melainkan strategi krusial untuk menjaga semangat adaptasi dan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan dunia bisnis yang terus berubah.

Chichago The Musical: Pertunjukan musikal Broadway legendaris ini menghadirkan kisah satir tentang ambisi, manipulasi media, dan sistem hukum di era 1920-an dengan balutan musik jazz yang energik. Koreografi khas Bob Fosse yang ikonik serta dinamika karakter Roxie Hart dan Velma Kelly menjadi daya tarik utama dalam produksi berskala internasional ini. Acara ini berlangsung pada 8 April-12 April di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Lebaran Betawi: Pada 10 April-12 April 2026, akan ada kegiatan Lebaran Betawi di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Selatan. Dishub DKI Jakarta menerapkan Rekayasa Lalu Lintas dan menyediakan rute alternatif, kantong parkir, serta layanan angkutan umum menuju ke sana.

Membungkam Atas Nama Keluarga

  • Mantra ajaib ini sering dikeluarkan saat acara town hall kantor, disisipkan saat pidato bos, bahkan jadi semacam bujuk rayu yang dibungkus dalam istilah budaya perusahaan, yang tak disadari mengikat secara halus para karyawan. “Kita ini keluarga.” Begitu kalimat itu sering dijadikan penenang, jika dirasa ada bibit pergolakan di sebuah perusahaan. Tujuan awalnya baik. Di permukaan, kalimat ini menawarkan kehangatan—rasa memiliki, solidaritas, dan dukungan emosional. Namun dalam praktiknya, narasi menyelesaikan masalah secara kekeluargaan ini, justru berubah menjadi mekanisme kasat mata yang menekan, membungkam, dan pada akhirnya menciptakan relasi kerja yang tidak sehat.
Padahal seharusnya, penggunaan mekanisme seperti ini, perlu disesuaikan dengan konteksnya. Kapan hubungan keluarga di perusahaan itu  menjadi nilai, dan kapan ia berubah menjadi ilusi.
Photo by kate.sade / Unsplash

Kota Beradab

  • Saudaraku, kota adalah taman peradaban—tempat akal bertemu rasa, logika bersentuhan dengan imajinasi. Namun kota yang hanya dibangun dari batu dan baja akan cepat lelah; ia mungkin bising, tapi terasa sunyi. Ia tampak ramai, tapi miskin makna. Sebab kreativitas, meski tumbuh di denyut urban, sejatinya menyusu pada alam—pada hijau yang menyegarkan, pada tenang yang memberi jeda, pada semesta yang melapangkan batin untuk bernapas. Kota-kota besar yang mencipta sejarah tahu akan rahasia ini. Mereka tak mengusir pepohonan, tak menutup langit, tak membekap tanah tanpa celah.
New York menyimpan Central Park di jantungnya, seperti hati yang menolak membeku. Wina memeluk Wienerwald sebagai tempat berserah dan bersyukur. Tokyo menjaga taman kekaisaran agar warganya tak lupa akan asal-muasal kehidupan.
Cendekiawan Muda Yudi Latif. (Foto: AI/ Tim Suar)

Baca selengkapnya

Ω