Emas Konsisten Jadi Penyumbang Utama Inflasi Satu Tahun Terakhir

Di awal tahun 2026, inflasi Indonesia tercatat tembus 3,55% secara tahunan. Harga komoditas emas turut berperan dan memperkuat tren sebagai penyumbang utama inflasi Indonesia dalam satu tahun terakhir.

Emas Konsisten Jadi Penyumbang Utama Inflasi Satu Tahun Terakhir

Memperpanjang tren inflasi sejak Maret 2025, awal tahun 2026 ini inflasi Indonesia mencapai 3,55% year-on-year dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 109,75. Terdapat 2 komoditas utama yang menjadi faktor dominan pendorong inflasi periode Januari ini. Tarif listrik menyumbang 1,49% akibat dari Low Base Effect subsidi tarif listrik yang diberlakukan pemerintah awal tahun 2025 lalu. Posisi kedua diduduki emas perhiasan yaitu 0,93%.

Melihat dari tren perkembangan kontribusi penyumbang angka inflasi bulanan dari tahun 2024, komoditas emas perhiasan terpantau terus menunjukkan peningkatan signifikan terutama di pertengahan tahun 2025. Bahkan, dalam satu tahun terakhir, yaitu 2025, emas menjadi komoditas utama yang menyumbang angka inflasi sepanjang 2025. Meski di awal tahun ini menduduki posisi ke-2 dalam menyumbang inflasi, angka persentasenya meningkat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan kontribusi emas perhiasan tersebut didorong oleh tren kenaikan harga emas global sejak kuartal kedua 2024 hingga akhir 2025. Hal tersebut menjadi pemicu utama meningkatnya tekanan inflasi dari kelompok komoditas emas perhiasan. Pasalnya, harga emas domestik sangat sensitif dan memiliki transmisi harga yang cepat terhadap fluktuasi pasar internasional

Data per kuartal menunjukkan bahwa ketika harga emas global menembus level 2.338,20 dolar AS/ons pada kuartal II-2024 (tumbuh 12,97%), angka kontribusi emas terhadap inflasi langsung merangkak naik melewati ambang 0,5%. Lonjakan harga global yang mencapai puncaknya pada kuartal II-2025 sebesar 4.315,20 dolar AS/ons (tumbuh fantastis 24,84%) terefleksi secara linier pada grafik inflasi yang menyentuh angka 0,93% di Januari 2026. 

Kenaikan kontribusi emas terhadap inflasi yang terus mencetak rekor baru ini mengindikasikan bahwa emas perhiasan bukan lagi sekadar komoditas pelengkap, tetapi termasuk faktor determinan dalam inflasi nasional. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan harga emas global tidak pernah di bawah angka 5% per kuartal, yang mengakibatkan kurva kontribusi inflasi emas di Indonesia terus menanjak. 

Fenomena tersebut menciptakan cost-push inflation, di mana kenaikan biaya bahan baku emas dunia memaksa pengecer perhiasan domestik menyesuaikan harga jual secara agresif untuk menjaga margin, yang akhirnya membebani indeks harga konsumen secara keseluruhan.

Relasi antara kedua data ini juga menyoroti perilaku spekulatif dan fungsi emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Tingginya angka pertumbuhan harga emas, terutama lonjakan 24,84% di akhir 2025, menunjukkan adanya permintaan global yang masif yang kemudian mengimpor inflasi ke dalam negeri melalui jalur komoditas.

Selisih kontribusi inflasi yang semula hanya 0,08% di Januari 2024 menjadi 0,36% di Januari 2025 hingga melonjak lagi 0,93% di Januari 2026 membuktikan volatilitas komoditas global berdampak langsung dan signifikan terhadap komoditas domestik melalui jalur perhiasan emas.

Baca selengkapnya