Logam tanah jarang atau LTJ menjadi pusat perhatian global sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya mengakuisisi Greenland. Faktor persaingan menjadi pemicu.
Berdasarkan data tahun 2024, China masih memegang kendali dalam hal cadangan logam tanah jarang yang mencapai 44 juta ton, jauh mengungguli negara-negara lain seperti Brasil dan India. Dominasi ini memberikan kekuatan negosiasi luar biasa bagi Beijing di pasar global, mengingat LTJ merupakan komponen inti dalam pembuatan baterai kendaraan listrik hingga sistem pemandu rudal canggih.
Ketergantungan global pada China memicu ketegangan, terutama bagi Amerika Serikat. Ambisi AS untuk mengamankan pasokan LTJ bahkan memicu ketertarikan luar biasa terhadap Greenland, yang memiliki cadangan LTJ sekitar 1,5 juta ton.
Upaya AS dengan wacana pembelian Greenland di masa pemerintahan sebelumnya, mencerminkan keputusasaan sekaligus langkah strategis Washington untuk melepaskan diri dari cengkeraman monopoli China dengan mencari sumber alternatif di kutub utara.
Di sisi lain, Indonesia mulai memetakan potensinya dalam kancah persaingan mineral strategis ini. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 228.K/MB.03/MEM.G/2025 terkait Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Nasional Tahun 2025, Indonesia memiliki cadangan dalam bentuk bijih sebesar 136,2 juta ton, yang jika diolah dapat menghasilkan sekitar 118.650 ton logam tanah jarang di tahun 2024.
Meskipun angkanya masih terpaut jauh di bawah raksasa dunia seperti China atau Australia (5,7 juta ton), keberadaan cadangan ini menjadi modal penting bagi posisi tawar Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Sebaran LTJ di Indonesia juga tergolong cukup luas, mencakup wilayah-wilayah strategis dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Di Sumatera, potensi tersebut tersebar di Riau, Bangka Belitung, hingga Sumatera Selatan.
Eksplorasi yang masif di wilayah-wilayah ini berpotensi mengubah sumber daya alam mentah menjadi produk hilirisasi bernilai tinggi yang mampu mendukung industri baterai nasional.
Di tengah perlombaan global yang dipimpin China dan strategi AS di Greenland, Indonesia memiliki peluang untuk ikut bermain dalam rantai pasok LTJ. Tentunya dengan tata kelola yang tepat dan fokus pada pengolahan bentuk logam.