Tiongkok merupakan mitra dagang strategis sekaligus pemasok utama barang nonmigas bagi pasar Indonesia. Perayaan Tahun Baru Imlek sebagai agenda budaya tahunan di negeri Tirai Bambu tersebut biasanya diikuti dengan penghentian aktivitas manufaktur secara masif. Periode perayaan itu menjadi siklus yang memengaruhi volume perdagangan bilateral antara Tiongkok dengan negara lain, termasuk Indonesia, terutama di setiap awal tahun.
Hal itu terlihat dari pola impor nonmigas setiap awal tahun. Berdasarkan data Nilai Impor Nonmigas yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023, terjadi penurunan nilai impor yang cukup besar di bulan Februari menjadi 4,05 miliar dolar AS. Saat itu perayaan Imlek jatuh di akhir Januari (22 Januari 2023).
Namun, pada tahun 2024, penurunan yang tajam terjadi pada bulan Maret menjadi 4,60 miliar dolar AS, merosot dibandingkan Februari yang berada di angka 5,96 miliar dolar AS. Momen Imlek 2024 jatuh pada bulan Februari (10 Februari), sehingga efek shipping lag atau jeda waktu pengiriman barang baru tercermin dalam data pabean Indonesia di bulan berikutnya.
Dinamika nilai perdagangan ini mencerminkan strategi Stocking Up yang dilakukan oleh importir Indonesia. Menjelang libur panjang di Tiongkok, nilai impor pada bulan Januari cenderung lebih tinggi untuk mengamankan stok sebelum pabrik tutup.
Pada Januari 2025, nilai impor nonmigas mencapai angka yang cukup besar, yakni 6,34 miliar dolar AS sebelum turun pada bulan berikutnya. Setelah melewati masa puncak liburan, nilai impor biasanya baru akan kembali pulih atau ternormalisasi pada bulan April, seperti yang terlihat pada data April 2025 yang naik ke angka 7,07 miliar dolar AS.
Pentingnya agenda budaya ini bagi mitra dagang seperti Indonesia tidak terlepas dari posisi Tiongkok sebagai raksasa ekonomi dunia. Data kumulatif impor dari Tiongkok menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2020, total nilai impor nonmigas tercatat sebesar 39,35 miliar dolar AS dan melonjak drastis menjadi 86,98 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Dengan kata lain, dalam kurun waktu lima tahun, nilai impor dari Tiongkok telah tumbuh lebih dari 120%. Pertumbuhan ini menunjukkan betapa krusialnya suplai barang modal, bahan baku, hingga barang konsumsi dari Tiongkok bagi keberlangsungan industri manufaktur dan stabilitas ekonomi di Indonesia.
Dominasi Tiongkok sangat kuat di sektor nonmigas seperti komoditas mesin, peralatan elektronik, dan produk manufaktur lainnya. Defisit neraca perdagangan Indonesia-Tiongkok yang sering terjadi menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan dari negara tersebut.