Dari Pesantren hingga Pedagang, Sinergi Ekosistem Dukung Tumbuh Kembang Ekonomi Syariah

Pemanfaatan unit UMKM, koperasi, hingga pesantren sebagai lahan tumbuh untuk ekonomi syariah menjadi salah satu solusi untuk mendorong perkembangan organik ekonomi dari dan untuk umat.

Dari Pesantren hingga Pedagang, Sinergi Ekosistem Dukung Tumbuh Kembang Ekonomi Syariah
Warga mengunjungi pusat perbelanjaan Pasar Atjeh untuk membeli jilbab dan asesoris busana muslimah di toko Bungong Scarves, Banda Aceh, Aceh, Jumat (13/3/2026). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/rwa.
Daftar Isi

Rendahnya tingkat inklusi ekonomi keuangan syariah di Indonesia membutuhkan dukungan ekosistem terpadu sebagai ruang tumbuh kembang praktik ekonomi berbasis komunitas ini. Pemanfaatan unit UMKM, koperasi, hingga pesantren sebagai lahan tumbuh untuk ekonomi syariah menjadi salah satu solusi untuk mendorong perkembangan organik ekonomi dari dan untuk umat.

Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Indonesia Ferry Juliantono menilai, saat ini, ekonomi syariah di Indonesia tengah memasuki perkembangan tahap kedua. Ferry yang juga merupakan Menteri Koperasi ini menjelaskan, jika literasi tahap pertama telah berhasil mengembangkan awareness terhadap produk keuangan syariah, ekosistem terpadu akan memperluas partisipasi pengguna aktif produk keuangan itu.

"Penguatan keuangan syariah tidak bisa dilepaskan dari penguatan sektor riil, karena dalam kegiatan itu, baik di lini produksi maupun konsumsi, layanan keuangan syariah tumbuh berdampingan dan saling menguatkan dengan UMKM, industri halal, hingga koperasi desa," jelas Ferry dalam penutupan Festival Gebyar Keuangan Syariah Ramadan OJK di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Unit-unit usaha riil di tingkat desa tersebut, Ferry menegaskan, dapat menjadi hub sekaligus penggerak ekosistem ekonomi syariah. Tidak hanya mendulang laba, unit-unit tersebut mendukung fungsi literasi, inklusi, pembiayaan, penguatan nilai tambah untuk usaha sektor riil. Tidak tertutup pula kemungkinan ekonomi syariah akan menjadi spirit baru untuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi desa.

"Melalui Kopdes yang mengelola ritel modern, kami dapat prioritaskan dalam ritel itu menjual produk asli daerah. Setelah melalui kurasi, inkubasi, dan pembiayaan syariah bagi UMKM seluruh daerah, produknya dijual di Koperasi Merah Putih. Tidak usah takut tidak laku, karena kami prioritaskan terjual, agar masyarakat tidak hanya tumbuh sebagai konsumen, tetapi juga produsen," cetusnya.

Melalui kolaborasi unit usaha riil itu, Ferry mengharapkan unit-unit UMKM yang dibiayai jasa keuangan syariah dapat merambah pamor dan memasuki unit ritel modern dan jejaringnya. Untuk itu, setiap usaha memperkuat ekosistem keuangan syariah bukan hanya perlu diperluas untuk menjaring sebanyak-banyaknya nasabah, tetapi juga mendorong ekonomi umat semakin inklusif di aras basis.

Manfaatkan momentum

Mempertegas penjelasan Ferry, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan, dengan salah satu negara berpopulasi Muslim terbesar, Indonesia telah berhasil memimpin sektor halal dengan menduduki peringkat ketiga Global Islamic Indicator serta mengamankan posisi peringkat 6 dari 10 besar bank syariah dunia.

"Kinerja industri jasa keuangan syariah terbukti mampu tumbuh stabil, bahkan di tengah isu dinamika geopolitik dan geoekonomi global. Total aset meningkat 8,61% menjadi RP3.100 triliun, didukung stabilitas yang tercermin dari kredit yang tumbuh 9,58% menjadi Rp705 triliun, DPK tumbuh 10,14%, kapitalisasi pasar modal, dan piutang pembiayaan terus bertumbuh," tutur Friderica.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Selain dari segi kuantitas populasi Muslim yang besar, Friderica menggarisbawahi adanya peningkatan kesadaran masyarakat atas nilai dan gaya hidup syariah, sehingga meningkatkan minat dan ketertarikan terhadap produk keuangan syariah. Dalam hal ini, dukungan dan perhatian pemerintah sangat kuat, terutama dari segi potensi digitalisasi produk-produk tersebut.

"Kalau kita tanya produk, masyarakat belum tentu tahu, tetapi layanannya sudah banyak yang tahu. Artinya target sosialisasi bisa lebih lagi, karena kalau punya keyakinan, kenal produknya, yakin kualitasnya, penggunaan akan tumbuh. Baru-baru ini, OJK mengesahkan Departemen UMKM dan Syariah, jadi sangat inline dengan concern pengembangan sektor riil," imbuhnya.

Dalam merespons kebutuhan pelaku jasa keuangan, Friderica kembali menegaskan OJK menetapkan serangkaian kebijakan prioritas yang juga diterapkan dalam pengembangan layanan keuangan syariah.

Pertama, optimasi kontribusi SJK mendukung capaian target program prioritas pemerintah, seperti diusulkan MES dengan mengintegrasikan siklus layanan keuangan syariah pada pengelolaan Koperasi Merah Putih.

Kedua, meningkatkan efektivitas penegakan integritas dan pelindungan konsumen guna meningkatkan kepercayaan terhadap SJK, termasuk menindak praktik penghimpunan dana bermodus syariah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, penguatan kapasitas sektor jasa keuangan dari sisi permodalan, sumber daya manusia, teknologi informasi, maupun pengawasan. Aspek terakhir ini, Friderica menekankan, menjadi kunci agar jangan sampai terjadi "nila setitik rusak susu sebelanga", yaitu satu kasus keuangan dapat mencederai seluruh kepercayaan yang dibangun terhadap produk keuangan syariah.

"Misalnya dalam lapangan kerja berkualitas dan kewirausahaan, kami mendorong kemajuan UMKM lewat pembiayaan syariah yang inklusif dan mudah diakses. Melalui program yang melibatkan pesantren, OJK mendorong optimasi kontribusi jasa keuangan syariah membentuk generasi produktif, sehingga produk keuangan syariah dapat memberikan dampak nyata dan langsung," ucap Friderica.

Baca juga:

Pembiayaan Syariah dan Dampak Nyatanya ke Masyarakat
Data Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan mencatat penyaluran pembiayaan syariah sejak 2020 mencapai Rp 36,8 triliun dengan jumlah debitor hingga 8,39 juta orang di seluruh Indonesia.

Dalam beberapa waktu ke depan, salah satu agenda utama Departemen UMKM dan Syariah OJK adalah memasukkan pendidikan ekonomi syariah ke madrasah dan pesantren yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Tujuannya bukan hanya memanfaatkan momentum minat siswa-siswi madrasah pada produk dan layanan keuangan syariah, tetapi juga mendorong sikap mawas diri.

"Siswa-siswi madrasah juga perlu memahami berbagai modus-modus penipuan dan scam yang mengintai dan mengancam masa depan mereka. Bukan hanya sekolah, tetapi juga ada tanggung jawab OJK mendampingi, bersama-sama Kementerian Agama dan pesantren untuk membekali anak-anak kita memahami literasi keuangan secara tepat dan holistik," tandasnya.

Bukan mustahil

Sebelumnya, Kepala BSI Institute Bank Syariah Indonesia Luqyan Tamanni menilai pertumbuhan bank syariah relatif lambat dibandingkan bank konvensional karena eksplorasi keunikan produk syariah yang kurang maksimal.

"Bank saat ini bermetamorfosis menjadi bank digital dan bersiap menjadi platform. Fase berikutnya setelah menjadi platform yang memungkinkan nasabah bertransaksi apapun, adalah mendorong conscious banking. Ke arah sinilah industri keuangan syariah perlu berorientasi, dengan tetap mengingat bahwa ekspektasi masyarakat terus berubah," jelas Luqyan.

Baca juga:

Menuju Pusat Halal Dunia 2029, Indonesia Kejar Ketertinggalan 50 Tahun
Keterlambatan Indonesia memulai ekosistem halal modern menjadi faktor utama belum optimalnya posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah global.

Dalam pengalaman riset produk yang dilakukan BSI, salah satu pengembangan yang dilakukan adalah tabungan multicurrency Rupiah Indonesia dan Saudi Rial. Segmentasi produk ini diutamakan bagi calon jemaah haji dan umrah, yang memungkinkan tabungan tersimpan dalam mata uang rupiah maupun rial, sehingga transaksi dapat dilakukan secara fleksibel tanpa melalui money changer.

Pengembangan produk lain adalah pembuatan ekosistem dana pensiun, terutama untuk nasabah dengan demografi usia di atas 40 tahun. Menurut Luqyan, salah satu tantangan IKSN adalah memperluas agregat nasabah yang saat ini masih didominasi generasi baby boomer dan generasi X. Padahal, persiapan dana pensiun juga penting dilakukan karyawan muda di rentang usia 25-39 tahun.

"Kami berevolusi memperkenalkan channel yang mudah diakses, seperti QRIS BSI, memperbanyak EDC BSI, sampai tabungan emas digital sebagai bagian dari pengembangan bulion banking untuk tabungan emas yang lebih likuid dan dapat menjadi instrumen investasi. Di titik ini, tipping point perbankan syariah mulai kami temukan sebagai usaha menciptakan nilai tambah layanan," cetus Luqyan.

Ke depan, BSI telah memiliki peta jalan untuk inovasi produk berbasis digital, layanan bulion, serta produk tabungan syariah yang relevan dan diharapkan menggaet nasabah usia muda. Kerja sama erat BSI yang saat ini memasuki tahun kelima beroperasi akan mendorong inovasi yang dilakukan berkontribusi bagi pengembangan ekosistem keuangan syariah di Indonesia.

"Jalan keuangan syariah ke depan adalah inovasi. Kami sedang menyusun semacam chronicle untuk ranah keuangan syariah, sebagai sumbang pikir dan bahan referensi untuk inovasi produk keuangan syariah lebih luas daripada perbankan. Nilai unik dan ekosistem yang menyeluruh itu adalah kunci untuk keuangan syariah yang semakin bersaing," pungkasnya.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya