Meskipun secara total tahunan menurun, tren penjualan bulanan di akhir tahun 2025 menunjukkan grafik yang menanjak signifikan. Pada kuartal terakhir 2025, angka penjualan bulanan naik 25,6% dari 74.720 unit di bulan Oktober hingga mencapai puncaknya di bulan Desember dengan 93.833 unit.
Sepanjang Januari hingga September 2025, pertumbuhan penjualan ritel otomotif terus berada di zona negatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terdalam terjadi pada bulan Januari 2025 yang merosot sebesar 18,3% dibandingkan Januari 2024.
Namun, titik balik mulai terlihat pada bulan Oktober 2025 ketika pertumbuhan mulai mencatatkan angka positif sebesar 1,4% dan terus menguat hingga akhir tahun. Sinyal pemulihan di akhir tahun 2025 ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli atau respons positif pasar terhadap produk-produk baru yang diluncurkan menjelang penutupan tahun.
Dilihat dari asal negara, pabrikan asal Jepang masih memegang kendali atas pasar mobil di Indonesia, meski volume penjualan sedikit menurun. Penjualan mobil merek asal Jepang merosot dari 798.886 unit pada tahun 2024 menjadi 681.886 unit pada tahun 2025 (14,6%).
Kebalikan dengan penurunan mobil merek asal Jepang, mobil merek asal Tiongkok justru mencatatkan performa yang impresif dengan pertumbuhan yang sangat tinggi. Penjualan mobil asal China melonjak dua kali lipat, dari 56.225 unit pada tahun 2024 menjadi 111.766 unit pada tahun 2025.
Peningkatan tajam ini didorong oleh merek seperti BYD yang mencatatkan penjualan hingga 44.342 unit di tahun 2025 (naik 217,5%), selain pertumbuhan yang konsisten dari merek Wuling dan Chery. Kehadiran teknologi kendaraan listrik (EV) dengan harga kompetitif dan fitur melimpah menjadi senjata utama merek asal Tiongkok dalam menggerus pangsa pasar pemain lama.
Peta persaingan otomotif nasional mulai bergeser ke arah yang lebih kompetitif dan beragam. Selain Tiongkok, munculnya kekuatan baru dari Vietnam melalui merek Vinfast yang langsung mencatatkan penjualan 10.630 unit di tahun 2025 turut menambah daftar pilihan bagi konsumen, termasuk untuk kebutuhan armada taksi.
Sementara itu, mobil merek asal Korea Selatan dan Jerman cenderung mengalami penurunan, meski hanya tipis. Selain soal pilihan selera, penurunan tersebut cukup menegaskan bahwa pasar saat ini lebih berpihak pada merek yang mampu menawarkan inovasi teknologi baru dan efisiensi harga.
Tren penjualan positif di penghujung tahun 2025 menjadi modal bagi industri otomotif untuk kembali memacu pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang.