Libur Lebaran tak hanya identik dengan tradisi mudik dan silaturahmi, tetapi juga momen masyarakat berbondong-bondong mencari hiburan bersama keluarga. Salah satu destinasi yang kerap dipadati pengunjung adalah bioskop.
Tak heran, periode libur Lebaran kerap menjadi “musim panen” bagi industri perfilman.
Fenomena tersebut dirasakan oleh jaringan bioskop terbesar di Indonesia, Cinema XXI. Corporate Secretary Cinema XXI Indah Tri Wahyuni mengatakan masa libur Lebaran menjadi periode strategis karena masyarakat tetap mencari hiburan yang dapat dinikmati bersama keluarga dengan biaya relatif terjangkau.
"Dengan hadirnya film-film berkualitas karya anak bangsa ini, seperti bioskop pada umumnya, Cinema XXI optimis akan terjadi lonjakan penonton selama periode Lebaran tahun ini," kata Indah pada SUAR, Senin (16/03/2026).
Namun demikian, ia belum bisa merinci angka lonjakan tersebut.
Menyambut libur Lebaran, Cinema XXI menghadirkan enam film nasional unggulan; “Danur: The Last Chapter”, “Na Willa”, “Pelangi di Mars”, “Senin Harga Naik”, “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa”, dan “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Keeenam film tersebut tersebut menawarkan keberagaman genre dan variasi cerita, mulai dari drama, keluarga, dan komedi, horor, Sci-Fi, serta Adventure.
Indah mengatakan seluruh film baru yang dijadwalkan untuk tayang perdana pada periode libur Lebaran tahun ini adalah film nasional. Hal ini selaras dengan animo masyarakat terhadap karya anak bangsa yang terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
"Melengkapi film nasional yang rilis di libur Lebaran, film nasional dan internasional yang rilis sebelum libur Lebaran dan masih tayang di bioskop juga akan memperkaya variasi pilihan tontonan bagi masyarakat di momen Lebaran kali ini," katanya
Selain menyiapkan beragam pilihan film, XXI juga menjaga standar operasional, kebersihan, dan fasilitas bioskop di seluruh jaringan bioskop. Kemudian, menghadirkan berbagai promo menarik dan paket F&B spesial untuk meningkatkan kenyamanan serta pengalaman kebersamaan saat menonton di bioskop terutama saat Lebaran.
Jadi tempat berbagi pengalaman orang terdekat
Sementara itu, perusahaan hiburan Visinema Group melihat momen Lebaran memang selalu selalu menjadi salah satu periode penting. Pada masa ini, film bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman yang dibagikan bersama orang-orang terdekat.
Karena itu, film yang hadir pada periode ini sering memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi bagian dari memori kolektif penontonnya.
Namun bagi Visinema, Lebaran bukan hanya tentang momentum jumlah penonton, tetapi tentang bagaimana menghadirkan film yang memiliki nilai-nilai universal dan bisa menjadi bagian dari cerita dan momen kebersamaan keluarga Indonesia.
"Oleh karena itu, kami ingin menjadikan menonton film Visinema di bioskop saat Lebaran menjadi sebuah tradisi, sebuah aktivitas penuh makna dimana keluarga Indonesia dapat berkumpul bersama merasakan kehangatan dan kebahagian bersama-sama di layar lebar," kata Co-CEO Visinema Group Antonny Liem kepada SUAR.
Antonny mengatakan Visinema sendiri dalam menentukan jadwal rilis film juga mempertimbangkan momentum libur panjang seperti Lebaran sebagai bagian dari strategi pemasaran dan distribusi. Film dengan tema keluarga atau cerita yang hangat dinilai lebih relevan dirilis pada Lebaran karena penonton umumnya datang ke bioskop bersama keluarga, teman, atau sahabat dari berbagai kelompok usia.
Meski demikian, Visinema menekankan bahwa kualitas cerita tetap menjadi faktor utama sebelum memutuskan waktu rilis.
"Di Visinema sendiri, kami melihat bahwa cerita yang memiliki nilai-nilai universal, seperti tentang keluarga, persahabatan, dan perjalanan menemukan diri sendiri memiliki resonansi yang sangat kuat dengan penonton Indonesia," katanya.
Anthony mencontohkan film "Jumbo" yang dirilis pada periode Lebaran 2025 berhasil menghadirkan pengalaman emosional yang positif bagi jutaan penonton. Film garapan Ryan Ryan Adriandhy itu berhasil meraup 10,2 juta penonton.
Pada Lebaran tahun ini, Visinema kembali menghadirkan film keluarga melalui "Na Willa" yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy y juga diproduseri oleh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, para kreator film Jumbo. Melalui “Na Willa” di momen Lebaran kali ini, Visinema ingin menghadirkan kebahagiaan dan kehangatan kepada para penontonnya yang dapat dirayakan bersama keluarga.
Untuk memaksimalkan jumlah penonton, Visinema merancang strategi promosi yang tidak hanya berfokus pada informasi penayangan film, tetapi juga membangun hubungan emosional antara penonton dan cerita yang dihadirkan.
"Pada periode liburan seperti Lebaran, strategi promosi biasanya dirancang untuk menjangkau audiens keluarga secara lebih luas. Pendekatannya tidak hanya melalui media konvensional, tetapi juga melalui berbagai kanal digital serta engagement yang lebih dekat dengan komunitas penonton," kata Anthony.
Visinema memanfaatkan berbagai platform, mulai dari media konvensional, online media dan podcast, aktivitas komunitas, kolaborasi dengan brand, hingga berbagai program spescial screening. Kampanye digital juga menjadi bagian penting, karena memungkinkan penonton berbagi pengalaman mereka menonton film bersama keluarga.
Di tengah persaingan dengan film internasional yang juga banyak dirilis pada periode libur panjang, Visinema menilai situasi tersebut sebagai bagian dari dinamika ekosistem perfilman yang sehat. Kehadiran film asing dianggap dapat memperkaya pilihan penonton sekaligus mendorong sineas Indonesia untuk menghadirkan karya yang semakin kuat.
Di lain sisi, sambung Anthony, film Indonesia memiliki kekuatan yang sangat unik, yaitu kedekatan cerita dengan kehidupan, nilai, dan budaya masyarakat kita. Ketika sebuah film mampu menghadirkan ceritayang jujur dan relevan, penonton akan datang dan memberikan dukungan mereka.
"Bagi Visinema, fokus utama kami bukan pada kompetisi semata, tetapi pada bagaimana menghadirkan cerita yang bermakna bagi penonton. Cerita yang tidak hanya dinikmati di layar lebar, tetapi juga tinggal lama di hati para penontonnya dan menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka," katanya.
Momen emas
Pengamat Film Institut Kesenenian Jakarta (IKJ) Satrio Pamungkas mengatakan periode libur Lebaran memang menjadi “momen emas” bagi industri film di bioskop. Berdasarkan berbagai temuan dan pengamatannya, jumlah penonton bioskop pada periode Lebaran cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, bahkan bisa mencapai puluhan juta penonton.
"Di masa Libur Hari Raya banyak memang dimanfaatkan oleh para masyarakat untuk mengunjungi mal, kemudian mengunjungi bioskop-bioskop, mengunjungi area-area hiburan yang memang disitu tempat berkumpul. Dan itu bukan dinikmati oleh hanyas satu kalangan, tapi ini lebih ke family yang dimana cakupannya itu lebih besar dibanding cakupan yang di hari-hari biasa gitu," katanya.
Momentum kebersamaan ini lah yang dimanfaatkan produser film untuk merilis karya mereka di bioskop. Libur panjang Lebaran dinilai sebagai periode dengan nilai komersial tinggi, setara dengan “prime time” dalam industri televisi. Oleh karena itu, keputusan merilis film pada periode ini memiliki pengaruh besar terhadap potensi keberhasilan sebuah film.
Namun di sisi lain, Satrio mengungkapkan bahwa persaingan untuk mendapatkan jadwal tayang di bioskop juga tidak mudah. Banyaknya produksi film setiap tahun membuat tidak semua film bisa langsung dirilis. Karena itu, momentum Lebaran menjadi sangat strategis sekaligus kompetitif bagi para produser.
Situasi tersebut turut memengaruhi jenis film yang diprioritaskan untuk tayang. Film bertema anak-anak kerap menjadi andalan saat Lebaran. Bukan tanpa alasam, genre ini dinilai memiliki daya tarik yang lebih luas karena mampu menjangkau penonton lintas usia.
"Anak-anak itu bisa menarik penonton-penonton lain di luar dari penonton di usianya. Kalau anaknya nonton, masa bapak-ibunya enggak nonton gitu kan. Jadi kan mau enggak mau satu tiket anak akan mendapatkan dua atau lebih dari tiket yang lainnya. Jadi itu lah yang diincar oleh para produsen film sebenarnya," katanya.
Sementara itu, di tengah pesatnya perkembangan platform streaming, Satrio menilai bahwa daya tarik bioskop saat Lebaran masih tetap kuat. Alasannya, masyarakat Indonesia masih memiliki budaya berkumpul yang tinggi, terutama pada momen Lebaran.
Menurutnya, pengalaman menonton di bioskop menawarkan “ruang bersama” yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layanan streaming di rumah.
"Jadi vibe spacenya bioskop itu masih sangat dibutuhkan oleh orang-orang di Indonesia, dimana mereka ingin berkumpul di ruang yang berbeda, bukan di rumah lagi," katanya.