Bertahan dari Lumpur Lapindo, Sendy Leather Mampu Angkat UMKM Tanggulangin

Sementara sebagian pelaku di Tanggulangin terpukul oleh dampak bencana, Sendy justru memperluas pasar di luar daerah. Ia tak menunggu pembeli datang, melainkan mendatangi mereka.

Bertahan dari Lumpur Lapindo, Sendy Leather Mampu Angkat UMKM Tanggulangin
Berbagai produk Sendy Leather, UMKM yang berasal dari Tanggulangin menjadi simbol kebangkitan produk kulit dari wilayah yang terendam lumpur itu. Foto: Uswatun Hasanah/SUAR.

Aroma khas kulit menyengat hidung saat tim SUAR berkunjung ke bengkel kerja usaha kecil milik Sendy Deka, 34 tahun, yang berada di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

Pria berkaos kutung itu tengah menata satu per satu potongan bahan kulit yang bertebaran di ruang tengah. Nantinya, potongan-potongan bahan dari kulit sapi itu akan disulap menjadi tas dan dompet berbahan kulit asli.

Produk-produk itulah yang menjadi sumber penghidupan Sendy dan keluarga yang telah bertahan lebih dari dua dekade. ‎Sendy sendiri bukan generasi pertama yang bergelut dengan kulit.

Ia tumbuh dari keluarga pemasok kulit lembaran di Tanggulangin. Sang ibu selama bertahun-tahun menjual kulit mentah kepada para perajin setempat.

‎“Kalau kulit lembarannya dari orang tua. Saya tinggal mengembangkan jadi produk,” ujar Sendy, CEO Sendy Leather, kepada SUAR, Minggu (8/2/2026).

‎Keputusan itu diambil setelah ia menyelesaikan pendidikan D3 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan melanjutkan S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo.

‎Latar belakang komunikasi justru membentuk cara pandangnya dalam membangun merek. Alih-alih sekadar berdagang bahan baku seperti orang tuanya, Sendy memilih masuk ke hilir, yakni memproduksi tas, dompet, lanyard, dan berbagai aksesori kulit dengan merek sendiri sejak 2012.

‎Namun perjalanan membangun Sendy Leather tidak lahir dalam situasi ekonomi yang stabil. Bencana lumpur Lapindo yang terjadi 29 Mei 2006 silam sempat memporak-porandakan usaha keluarganya yang dibangun turun temurun itu,

Tak hanya merendam wilayah Tanggulangin, tetapi juga memukul ekosistem perajin dan toko-toko kulit yang selama puluhan tahun menjadi denyut ekonomi setempat. Tanggulangin merupakan salah satu daerah terdekat dengan Porong, lokasi pusat semburan.

‎“Lumpur itu mengguncang banget buat orang-orang sekitar, buat perajin, buat toko juga,” katanya.

‎Sendy menjadi saksi banyak toko kecil tak pernah benar-benar pulih. Hanya sebagian pemain besar yang mampu bertahan. Ini membuat trauma pengrajin, yang akhirnya pelan-pelan banyak dari usaha mereka tutup.

‎“Jalur Tanggulangin–Porong kan strategis, itu menghubungkan dengan wilayah wisata sekitar seperti Malang, Pasuruan, Probolinggo, jadi dahulu itu (sebelum lumpur), banyak orang yang singgah membeli oleh-oleh kerajinan di Tanggulangin. Itulah yang bikin orang beneran terpuruk saat lumpur dan pasca lumpur itu, banyak orang yang mengira sentra kerajinan di Tanggulangin itu mati,” jelas Sendy.

Produk sepatu dari kulit dari Sendy Leather. Foto: Uswatun Hasanah/SUAR.

Bangkit kembali

Di tengah situasi itu, Sendy mengambil langkah berbeda. Saat masih kuliah di Solo, ia membuka booth pameran di kota tersebut. Strateginya sederhana, jika pasar di rumah sedang lesu, maka ia harus mendekati pasar baru.

‎“Yang lain bingung, ya kita jemput bola,” ujarnya.

‎Solo dipilih bukan sekadar karena ia kuliah di sana, tetapi juga karena melihat celah pasar. Saat itu belum banyak pelaku tas dan dompet kulit yang masuk ke pusat perbelanjaan di Solo.

Dari pameran ke pameran, merek Sendy Leather mulai dikenal. Ia rutin berkeliling Jawa Tengah seperti Solo, Semarang, Yogyakarta, memanfaatkan momentum pameran untuk memperluas jaringan.

‎Langkah “jemput bola” itu menjadi fondasi penting kelangsungan usahanya. Sementara sebagian pelaku di Tanggulangin terpukul oleh dampak bencana, Sendy justru memperluas pasar di luar daerah. Ia tak menunggu pembeli datang, melainkan mendatangi mereka. Sehingga dia bisa meraup omzet sekitar Rp500 juta sebulannya.

‎“Kira-kira segitulah,” ungkapnya.

‎Seiring waktu, dukungan pemerintah daerah turut membantu. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Koperasi Sidoarjo, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, hingga kementerian memfasilitasi pameran di berbagai kota bahkan luar negeri.

Sendy Leather pernah mengikuti pameran di sejumlah negara Asia Tenggara dan pada 2019 diajak Kementerian Luar Negeri ke Rusia.

‎Meski belum membuahkan kontrak besar, pengalaman itu memperluas wawasan. Ia menyadari persaingan global produk kulit tidak ringan. Di Rusia, misalnya, ia harus berhadapan dengan produk dari Turki yang telah memiliki reputasi kuat.

‎“Cari buyer nggak mudah juga,” katanya.

Namun bagi Sendy, keikutsertaan itu lebih dari sekadar mengejar omzet, melainkan membangun eksposur dan jejaring.

Sendy Dekha saat menjaga stand di pameran Inacraft Jakarta, 8 Februari 2026. Foto: Uswatun Hasanah/SUAR.

Berbagai tantangan

Di balik ekspansi tersebut, tantangan operasional tetap membayangi. Di Sidoarjo, ketersediaan bahan pendukung seperti hardware tas berkualitas masih terbatas. Pemasoknya sedikit dan sebagian besar impor. Ketergantungan pada satu-dua supplier membuat proses produksi kerap tersendat.

‎Tantangan lain adalah sumber daya manusia. Mencari perajin yang kompeten dan amanah juga bukan perkara mudah. Namun Sendy tetap berkomitmen memberdayakan warga sekitar. Saat ini, 11 perajin di Tanggulangin bermitra dengannya sehingga menjadi bagian dari ekosistem yang tumbuh bersama.

‎“Yang bikin bangga itu kita bisa hidup bareng-bareng dari kulit. Ada 11 kepala keluarga yang hidup di bawah merek Sendy. Itu mitra ya, kalau karyawan kami sekitar 50 an lah,” ujarnya. Di tengah fluktuasi ekonomi, tanggung jawab sosial itu menjadi motivasi tersendiri.

‎Ujian berikutnya datang pada 2023 ketika daya beli masyarakat melemah. Efisiensi anggaran pemerintah dan tekanan ekonomi makro berdampak pada konsumsi. Sendy mengakui omzetnya menurun pada periode tersebut. Penurunan terasa baik di kanal offline maupun marketplace. Saat ini, akun Sendy Leather di Instagram diikuti oleh sekitar 23 ribu orang.

‎“Tahun kemarin itu hitungannya struggle. Banyak yang merasakan dampaknya, bukan cuma kita,” katanya. Situasi itu memaksanya mengevaluasi strategi. Dari hasil pameran Inacraft, ia menangkap sinyal bahwa produk kecil dengan harga lebih terjangkau bergerak lebih cepat.

‎Merespons temuan itu, pada 2024 ia memperbanyak lini produk dengan harga di bawah Rp200 ribu. Strategi ini ditujukan untuk menjangkau konsumen lebih luas di tengah daya beli yang belum pulih sepenuhnya. Inovasi produk juga terus dilakukan untuk menghadapi kompetitor yang semakin beragam dan kreatif.

‎“Ini gantungan kunci, label tag tas, lanyard, strap tas, ini ternyata banyak dicari oleh orang-orang. Gantungan kunci lucu-lucu ini juga laris dalam tiap pameran,” ungkap Sendy.

‎Adapun gantungan kunci kulit asli dibanderol di harga Rp80.000, sementara sepatu dibanderol di harga Rp399.000, dompet Rp200.000, dan tas yang dihargai mulai dari Rp500.000 hingga jutaan rupiah tergantung desainnya.

‎Sendy terjun langsung dalam riset dan pengembangan. Ia merancang desain, mengevaluasi model, hingga memastikan diferensiasi produknya. Latar belakang komunikasi yang ia tempuh di bangku kuliah kini membantu dalam membangun narasi merek dan memahami preferensi pasar.

‎Dukungan eksternal juga datang dari program kemitraan. Sejak 2024, Sendy Leather menjadi mitra binaan Pertamina melalui program UMK Akademi. Ia mendaftar secara mandiri dan berhasil meraih peringkat empat sebagai UMK berprestasi. Program tersebut memberinya akses pembinaan, fasilitasi pameran seperti Inacraft, bantuan alat produksi, serta insentif bagi peserta berprestasi.

‎Menurutnya, pendampingan yang konsisten membantu UMKM bertahan di tengah tekanan. Program tersebut juga memonitor perkembangan omzet mitra binaan secara berkala, sehingga pelaku usaha terdorong menjaga kinerja.

Lanyard dari Sendy Leather. (Foto: Uswatun Hasanah/ SUAR)

Sepakbola

‎Di luar aktivitas bisnis, Sendy menjaga keseimbangan dengan bermain sepak bola sebulan dua kali. Baginya, hobi menjadi cara sederhana mengurai kepenatan mengelola usaha yang tak pernah lepas dari tekanan biaya, persaingan, dan fluktuasi pasar.

‎“Dua kali dalam sebulan saya main bola sama temen-temen di Sidoarjo. Biar enggak mumet (pusing) ngurusin bisnis, jadi lelaki kan harus punya hobi," kata dia.

Bagi dia, bermain sepakbola merupakan reward dia dalam merayakan pencapaian hidupnya. "Kalau nggak main bola rasanya ada yang hilang," kata dia.

‎Kini, lebih dari satu dekade sejak memulai produk jadi, Sendy Leather berdiri sebagai salah satu simbol ketahanan Tanggulangin.

Dari keluarga pemasok kulit, diterpa lumpur Lapindo, menjemput pasar ke Solo, hingga merambah pameran internasional, Sendy memaknai bahwa perjalanan itu menjadi pelajaran hidupnya dalam menciptakan kemandirian finansial.

Hal itu, kata dia sangat berarti dalam menempa ekonomi seseorang menjadi lebih tangguh, utamanya saat tertimpa bencana. ‎Dia berharap sederhana, yakni ekonomi mikro dan makro membaik, daya beli kembali pulih, dan dukungan bagi UMKM tetap terjaga.

“Semoga semuanya membaik lah. Kita tahu struggle nya teman-teman UMKM bagaimana, saya juga merasakannya,” jelasnya.

Baca selengkapnya