Selamat pagi, Chief…
Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Ramalan Guncangan Perekonomian akibat Serangan AS-Israel ke Iran
- Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat yang ikut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu genderang perang yang mungkin tak terelakkan. Ketegangan ini diperkirakan bakal memberikan guncangan bagi perekonomian global yang bisa merembet hingga ke Tanah Air. Seluruh pemangku kepentingan ekonomi perlu mengantisipasi turbulensi yang mungkin terjadi. Suar.id menghubungi ekonom dan pengusaha pada Minggu (1/3/2026) untuk melihat seberapa besar dampak dari konflik ini.


Menilik Dampak Langsung dan Efek Samping Perjanjian Tarif Resiprokal Indonesia-AS
- Ekonom memproyeksikan dampak langsung tarif 19% dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,03% dalam jangka pendek. Ekspor diperkirakan turun 0,14%, terutama karena sebagian besar dari 1.800 pos tarif masih dikenai bea masuk 19%. Selain itu, kesepakatan ART juga membuat efek samping perekonomian yang tak sepele. ART memuat pasal yang mengharuskan Indonesia memperhatikan kepentingan keamanan nasional AS dalam melakukan pertimbangan ekonomi. Dengan kata lain, apabila AS menetapkan sebuah negara sebagai musuh, Indonesia harus mengikutinya dengan menetapkan sanksi dan/atau hambatan terhadap negara tersebut. Contohnya, ART juga menyangkut keharusan Indonesia melakukan screening dalam memilih negara asal investasi yang harus selaras dengan kepentingan keamanan nasional AS. Padahal, sampai saat ini, sebagian besar investasi Indonesia masih berasal dari Tiongkok. Apabila ketentuan ini dijalankan, iklim investasi Tanah Air dipastikan akan terganggu dan berisiko dalam jangka panjang.

Toko Ritel Modern, Koperasi Desa Merah Putih, dan UMKM
- Belakangan ini muncul polemik soal keberadaan toko ritel modern yang ingin dibatasi oleh pemerintah karena munculnya program Koperasi Desa Merah Putih. Hal ini tentu memicu kegelisahan pengusaha ritel modern yang sudah berbisnis sesuai aturan yang berlaku. Di sisi lain, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga ingin terlibat dalam rantai pasok penjualan ini. Di sinilah peran pemerintah jadi penyeimbang dan regulator ekosistem perdagangan ritel yang sehat.


Peluang Emas Tarif 0% Produk Tekstil Indonesia di Pasar Amerika Serikat
- Industri tekstil dan garmen Indonesia tengah menunjukkan dinamika yang menarik dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor industri tekstil sempat mengalami fluktuasi. Pada tahun 2025 tercatat sebesar 1,42 juta ton dengan nilai USD 3,29 miliar, sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Khusus untuk pasar Amerika Serikat, sektor pakaian jadi tampil sebagai komoditas unggulan dengan angka yang sangat dominan. Komoditas pakaian jadi (konveksi) dari tekstil mencatatkan angka ekspor mencapai lebih dari 168 juta kg dengan nilai menembus USD 4 miliar. Diikuti oleh produk pakaian jadi rajutan senilai USD 802 juta serta perlengkapan pakaian dari tekstil sebesar USD 123 juta. Sementara di sisi industri hulu (tekstil), kategori komoditas barang tekstil lainnya memimpin dengan nilai USD 78,9 juta.

Membedah Penyaluran Kredit UMKM Industri Perbankan
- Sepanjang tahun 2025, dinamika penyaluran kredit usaha mikro kecil menengah (UMKM) menunjukkan pola yang kontras di antara berbagai skala usaha. Berdasarkan data posisi kredit, debitur skala kecil terpantau mengalami pertumbuhan dengan kenaikan konsisten dari Rp493,75 triliun pada Januari hingga menyentuh Rp527,8 triliun pada November. Sebaliknya, debitur skala mikro justru mengalami tren penurunan yang cukup signifikan dari angka Rp662,12 triliun di awal tahun menjadi Rp633,3 triliun pada pengujung periode. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran selera risiko perbankan atau penurunan daya serap modal pada lapisan usaha paling bawah, sementara segmen menengah cenderung stagnan di kisaran Rp330 triliun hingga Rp340 triliun.


Rilis Perkembangan Inflasi Februari 2026 dan Kinerja Ekspor-Impor Januari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis sejumlah berita resmi statistik yang penting pada Senin 2 Maret 2026. Berita resmi statistik itu antara lain perkembangan inflasi Februari 2026 dan kinerja ekspor-impor Januari 2026. Rilis laporan ini jadi penting karena dapat membantu semua pemangku kepentingan dunia usaha agar dapat melihat posisi dan kondisi perekonomian Indonesia terkini. Laporan selengkapnya dapat diunduh di situs resmi BPS yakni www.bps.go.id.
Rilis Data Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia Februari 2026. Perusahaan riset dunia asal Amerika Serikat (AS), S&P Global, akan merilis data indeks PMI Manufaktur periode Januari 2026 pada Senin 2 Maret 2026. Rilis data yang bisa diakses melalui situs resmi S&P Global ini tak hanya untuk Indonesia namun juga berbagai negara lainnya, antara lain Amerika Serikat, China, India, Vietnam, dan lain-lain. Data ini menjadi indikator penting untuk memantau aktivitas industri selama bulan Januari, sehingga bisa jadi evaluasi untuk perbaikan pada Maret 2026.

"Tidak ada contoh sebuah negara mendapat manfaat dari peperangan yang berkepanjangan." (Sun Tzu - Ahli Strategi China)
Selamat beraktivitas, Chief.
Tim SUAR