Berharap pada Danantara (3)

Danantara masuk ke bursa, akan jadi penolong pasar. Perlu kedalaman juga waktu yang cukup dan valuasi yang menarik.

Berharap pada Danantara (3)
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Daya Anagata Nusantara (Danantara), Senin (24/2/2025). (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)
Daftar Isi

Jurus menenangkan investor dan pasar terus dilancarkan pemerintah pasca tumbangnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir Januari 2026 lalu. Tak hanya otoritas keuangan, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga mencoba mendinginkan suasana dengan menjanjikan segera masuk ke pasar saham. 

Lembaga pengelola investasi tersebut akan masuk secara bertahap melalui manajer investasi yang telah ditunjuk, sebagai bagian dari strategi awal penempatan dana BPI Danantara di pasar modal Indonesia.

Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat akan mengikuti pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, keputusan masuk ke pasar modal didorong oleh penilaian bahwa valuasi sejumlah emiten berada pada level menarik di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai masih berjalan baik.

“Minggu depan pun, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, kami akan berinvestasi masuk ke pasar modal, karena menurut kami there is good value di ekonomi Indonesia yang berjalan dengan baik,” ujar Pandu, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Ahad, 1 Februari 2026.

Pandu menyatakan, BPI Danantara akan menjadi partisipan aktif di pasar sejak pembukaan perdagangan. Aktivitas investasi akan dilakukan secara langsung di pasar modal melalui skema yang telah disiapkan. 

Ia menjelaskan, sebenarnya BPI Danantara telah mulai melakukan investasi sejak akhir Desember 2025 dan secara bertahap menambah porsi investasi setiap hari. Aktivitas tersebut terus berlanjut hingga saat ini.

Danantara telah mulai melakukan investasi sejak akhir Desember 2025 dan secara bertahap menambah porsi investasi setiap hari

Pandu tidak merinci besaran dana yang akan digelontorkan maupun sektor atau emiten yang menjadi target investasi. Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi BPI Danantara untuk memanfaatkan peluang valuasi di pasar modal Indonesia.

Menurut Pandu sekitar 50% dari total pendanaan investasi BPI Danantara tahun ini akan dialokasikan ke pasar modal. Dari target penyaluran investasi sebesar US$14 miliar atau setara Rp235,0 triliun, sekitar US$7 miliar atau Rp117,5 triliun direncanakan mengalir ke pasar saham dan obligasi publik.

Pasar diharapkan tetap tenang

Sinyal dari BPI Danantara itu sedikit banyak memberikan dampak. Meski IHSG pada perdagangan Senin 2 Februari 2026 melanjutkan koreksi sebesar 4,88% ke 7.922, namun, indikasi positif terlihat dari neraca transaksi asing yang mencatat net buy sebesar Rp654,83 miliar. 

Plt Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kinerja pasar saham di awal pekan pertama Februari mencerminkan adanya perbaikan meski indeks komposit masih terpangkas. 

Ia  mengatakan, secara regional pasar modal di Asia sebenarnya juga tertekan, menunjukkan bahwa koreksi IHSG tak hanya disebabkan oleh dinamika pengumuman pembekuan indeks saham RI oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) semata. 

"Jadi kita melihatnya ini juga untuk perspektif yang lebih luas dan lebih global. Jadi market kita hari ini turun tapi ada hal-hal baik yang bisa kita lihat," ujar Kiki, begitu Frederica sering dipanggil, dalam konferensi pers di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin 2 Februari 2026 lalu. 

Kiki juga mengatakan pada perdagangan pasca turbulensi pasar modal, saham-saham yang turun adalah saham yang secara valuasinya sudah tinggi, mengindikasikan aksi profit taking investor yang melakukan rebalancing portofolio mereka. 

Sebaliknya, mencatat saham-saham berfundamental kuat harganya mulai naik kembali. "Kami menghimbau kepada seluruh investor pasar modal Tanah Air tetap tenang, tidak panik. Investasi di pasar modal itu melihat jangka panjang, kalau melihat fundamental ekonomi kita juga sangat baik dan prospek ke depan juga sangat baik. Jadi tolong jangan panik," tegasnya.  

Membangun basis institusi kuat

CEO Akela Trading System Hary Suwanda menilai, masuknya BPI Danantara ke pasar modal bisa menjadi katalis positif bagi pasar modal di tengah upaya Bursa Efek Indonesia mendorong pemenuhan ketentuan free float minimal 15%. 

Menurutnya, BPI Danantara berpotensi memperkuat pasar jika dijalankan secara independen, profesional, dan transparan. Menurutnya jika lembaga pengelola investasi itu berfungsi sebagai investor jangka panjang seperti Norges Bank Investment Management, maka Danantara bisa berperan memperkuat stabilitas dan kedalaman pasar.  "Namun jika hanya menjadi alat stabilisasi jangka pendek, dampaknya tidak akan berkelanjutan," katanya pada SUAR. 

Persoalan utama lesunya pasar saat ini bukan terletak pada transparansi, tetapi pada konsistensi kebijakan. 

Ia menilai, persoalan utama lesunya pasar saat ini bukan terletak pada transparansi, tetapi pada konsistensi kebijakan.  Sehingga yang dibutuhkan adalah konsistensi regulasi, kepastian hukum, serta pendalaman likuiditas domestik. Ia menegaskan pasar tidak  alergi pada transparansi, tapi pada ketidakpastian.

Lebih jauh Hary menekankan pentingnya memperkuat basis investor domestik agar pasar modal Indonesia tidak terlalu sensitif terhadap arus modal asing.

Menurutnya, investor domestik bisa menjadi tuan rumah jika institusi dalam negeri diperkuat seperti dana pensiun, asuransi, dan  sovereign wealth fund (SWF) yang harus menjadi pembeli natural market.  "Tanpa basis institusi yang kuat, pasar akan selalu sensitif terhadap arus keluar asing," kata Hary.

Waktu yang cukup dan valuasi yang menarik

Di sisi lain, penguatan investor institusional domestik menjadi semakin penting di tengah tantangan kebijakan free float baru. Bursa Efek Indonesia memperkirakan pasar perlu menyerap tambahan saham sekitar Rp187 triliun agar seluruh emiten memenuhi ketentuan minimal 15 persen.

Hary menilai angka itu bukan hal yang mustahil, tapi perlu strategi bertahap.  “Rp187 triliun bukan angka kecil. Pertanyaannya bukan bisa atau tidak, tetapi dalam time frame berapa lama dan dengan kualitas likuiditas seperti apa,” ungkapnya.

Ia memaparkan, rata-rata nilai transaksi harian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar Rp10–Rp15 triliun. Artinya,  nilai Rp187 triliun setara 12–18 hari transaksi penuh.  Namun,  pasar tidak bekerja sesederhana itu. 

Hary menyebut ada tiga faktor penentu agar penyerapan saham berjalan lancar. Pertama, kedalaman investor domestik. Ia mengatakan jika institusi domestik seperti dana pensiun, asuransi, dan sovereign fund aktif menyerap, maka pasar mampu menghadapi arus saham baru. Namun jika masih bergantung pada investor asing, risiko volatilitas akan meningkat.

Jika institusi domestik seperti dana pensiun, asuransi, dan sovereign fund aktif menyerap, maka pasar mampu menghadapi arus saham baru

Kedua, waktu dan tahapan implementasi. Hary mejelaskan, bila peningkatan free float dilakukan secara bertahap dalam periode 1 sampai 2 tahun, pasar relatif aman. Namun, jika dilakukan agresif dan serentak, tekanan harga hampir pasti terjadi.

Ketiga, valuasi emiten. Ia mengatakan pasar menyerap saham bukan karena kewajiban regulasi, tetapi karena valuasi menarik dan fundamental kuat," katanya. 

Ia menilai, kapasitas pasar Indonesia cukup, tetapi tidak untuk diserap secara cepat dan serentak tanpa tekanan harga. Implementasi harus bertahap, berbasis kondisi likuiditas, dan disertai penguatan investor institusi domestik. “Tanpa itu, kebijakan free float justru bisa menciptakan tekanan jangka pendek pada IHSG," kata Hary.

Mukhlison, Gema Dzikri, dan Feby Febriana Nadeak

Baca selengkapnya