Bayang-Bayang Perang Membakar Pasar Bursa Asia

Pada perdagangan Senin (23/3/2026), mayoritas bursa saham Asia jatuh tajam di tengah eskalasi konflik Iran yang memasuki minggu keempat. Ini memicu volatilitas tinggi pada saham, mata uang, komoditas, hingga kontrak berjangka ekuitas AS.

Bayang-Bayang Perang Membakar Pasar Bursa Asia
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Daftar Isi

Tekanan geopolitik di Timur Tengah dan Amerika Serikat (AS) menyeret jatuh pasar keuangan global pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (23/3/2026), mayoritas bursa saham Asia jatuh tajam di tengah eskalasi konflik Iran yang memasuki minggu keempat. Ini memicu volatilitas tinggi pada saham, mata uang, komoditas, hingga kontrak berjangka ekuitas AS.

Terpantau Indeks MSCI Asia Pasifik melemah 1,2% dengan tekanan terbesar terjadi di Jepang dan Korea Selatan. Bursa Jepang anjlok hingga 3% setelah kembali dibuka usai libur, sementara indeks KOSPI Korea Selatan merosot lebih dari 4%. Bahkan, pada sesi intraday, KOSPI sempat terperosok hingga 6,4%, menjadikannya salah satu penurunan terdalam di kawasan.

Pelemahan di Korea Selatan turut dipicu oleh aksi jual pada saham sektor semikonduktor. Saham Samsung Electronics turun 4,81% dan SK Hynix terkoreksi 6,06%. Di saat bersamaan, mata uang won melemah tajam ke level 1.512,30 per dolar AS, posisi terendah sejak Maret 2009.

Tekanan juga menjalar ke pasar lainnya di Asia Timur. Bursa Taiwan turun 3,2% dengan dolar Taiwan melemah ke 32,125 per dolar AS, level terendah sejak April 2025. Sementara itu, indeks saham di Singapura dan Filipina masing-masing terkoreksi di kisaran 2% hingga 3%.

Di kawasan yang sama, pasar Jepang mencatat pelemahan signifikan dengan indeks Nikkei 225 dan TOPIX turun antara 2,8% hingga 3,5%. Korea Selatan menjadi salah satu pasar dengan performa terburuk, tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga kekhawatiran domestik terkait potensi kebijakan moneter yang lebih ketat setelah penunjukan Shin Hyun-seong sebagai gubernur baru bank sentral.

Gejolak pasar tidak hanya terjadi di saham. Harga minyak mentah bergerak sangat fluktuatif, sempat naik 1,9% di awal perdagangan sebelum berbalik turun hampir 1,8% ke kisaran US$112 per barel. Pergerakan serupa juga terlihat pada kontrak berjangka S&P 500 yang berakhir melemah 0,4% setelah sebelumnya berayun.

Di pasar obligasi, tekanan tercermin dari kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Australia tenor 10 tahun yang melonjak 13 basis poin, mencerminkan aksi jual di aset pendapatan tetap.

Perkembangan konflik Timur Tengah

Ketidakpastian dipicu oleh perkembangan konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik Iran. Tenggat tersebut dijadwalkan berakhir pada Senin malam waktu New York.

Iran merespons dengan ancaman menutup jalur pelayaran strategis tersebut secara permanen serta menargetkan infrastruktur energi milik AS dan Israel di kawasan. Pernyataan saling ancam ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Sebelumnya, setelah penutupan pasar pada Jumat, Trump sempat mengindikasikan peluang menurunkan intensi melalui pernyataan di media sosial. Ia menyebut AS “sangat dekat” mencapai tujuannya dan mempertimbangkan pengurangan operasi militer di Iran.

Bursa Asia Rontok, IHSG Bersiap Hadapi Tekanan

Tekanan global akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat diperkirakan akan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut pasar saham Indonesia berpotensi dibuka melemah saat kembali beroperasi, seiring meningkatnya sikap risk-off investor global pada awal pekan ini.

Menurut Josua, kondisi pasar global saat ini bukanlah sekadar reaksi sementara, melainkan dipengaruhi kombinasi risiko geopolitik dan kebijakan. Dia mengamini bahwa kondisi tersebut dipicu datang dari dua arah sekaligus.

Dari sisi geopolitik, ancaman Donald Trump agar Iran membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi seragan ke infrastruktur listrik memperbesar kekhawatiran bahwa konflik akan bergeser dari sasaran militer ke sasaran energi, sehingga pasar langsung menghitung ulang risiko gangguan pasokan minyak dan gas.

“Dari sisi kebijakan, retorika Trump yang keras dan ketidakpastian kebijakan dagang AS ikut menambah beban psikologis pasar. Ketidakpastian global dan risiko geopolitik memang masih berada di tingkat tinggi, sementara konflik Iran dipandang sebagai salah satu sumber risiko utama bagi ekonomi dunia,” ujar Josua kepada SUAR.

Ia menjelaskan, tekanan yang terjadi di bursa Asia, khususnya Jepang dan Korea Selatan, mencerminkan kombinasi kepanikan pasar dan penyesuaian fundamental. Kendati demikian, bobot penyesuaian yang mendasar sekarang makin besar. Alasannya, imbuh Josua, pasar tidak hanya bereaksi pada berita perang, melainkan juga pada naiknya harga minyak, naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, menguatnya dolar AS, serta berkurangnya harapan penurunan suku bunga di AS.

Josua menjelaskan tekanan global tersebut umumnya merambat ke negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui empat jalur utama, yaitu kenaikan harga energi yang memicu inflasi impor dan menekan daya beli, penguatan dolar AS serta peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang berdampak pada nilai tukar dan biaya pendanaan, arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik, serta tekanan pada sektor perdagangan dan logistik akibat meningkatnya ongkos kirim, asuransi, dan waktu pengiriman.

Meski demikian, ia menilai IHSG masih memiliki bantalan domestik, meski terbatas.

“Untuk IHSG, bantalan tetap ada, tetapi bukan berarti kebal. Bantalan itu datang dari permintaan dalam negeri yang masih cukup kuat, surplus dagang yang sudah berlangsung 69 bulan, cadangan devisa 152 miliar dolar AS, pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11%, dan kegiatan manufaktur yang masih ekspansif,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan juga ruang fiskal berpotensi tertekan apabila harga energi tetap tinggi dalam jangka waktu yang lama. Josua menilai bantalan IHSG juga memiliki keterbatasan, terutama karena kinerjanya sudah tertinggal dibandingkan sejumlah bursa Asia lainnya, serta risiko menyempitnya ruang fiskal akibat meningkatnya beban subsidi dan kompensasi energi ketika harga minyak bertahan tinggi.

Dari sisi sektoral, Josua melihat peluang justru muncul di saham berbasis komoditas.

“Sektor yang paling berpotensi diuntungkan di Indonesia justru yang terkait komoditas, terutama batu bara dan kelapa sawit. Produsen batu bara Indonesia dan produsen sawit Indonesia termasuk yang bisa menikmati kenaikan harga komoditas saat gejolak energi berlanjut,” kata Josua.

Perkiraan pembukaan IHSG

Ia memperkirakan IHSG akan dibuka melemah saat perdagangan kembali dimulai.

“Untuk pembukaan pasar Indonesia pada Rabu, perkiraan saya bias awalnya tetap melemah terlebih dahulu,” jelasnya.

Josua juga mengingatkan pelaku pasar untuk mengedepankan strategi defensif di tengah tingginya volatilitas, dengan tidak terburu-buru mengejar potensi rebound. Ia menekankan pentingnya menjaga likuiditas, melakukan akumulasi secara bertahap, serta selektif memilih emiten yang memiliki arus kas kuat, tingkat utang terkendali, dan ketahanan terhadap kenaikan biaya energi.

“Dalam situasi seperti ini, strategi yang paling rasional bagi investor perorangan maupun lembaga adalah jangan terburu-buru mengejar pantulan,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan riset MNC Sekuritas, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren koreksi dalam jangka pendek. Dalam kajiannya yang dikutip, tim analis menilai posisi IHSG saat ini berada pada fase akhir dari struktur gelombang teknikal, yang membuka ruang pelemahan lanjutan.

MNC Sekuritas menyebut IHSG saat ini berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c] pada skenario utama, atau wave (2) pada skenario alternatif. Dengan posisi tersebut, indeks diperkirakan masih memiliki peluang untuk terkoreksi menuju rentang 6.745 hingga 6.887.

Meski demikian, peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka apabila IHSG mampu bertahan dari tekanan dan bergerak naik. Area penguatan terdekat diproyeksikan berada di kisaran 7.176 hingga 7.238.

Dari sisi teknikal, level support IHSG berada di 6.991 dan 6.843, sementara level resistance terdekat tercatat di 7.156 dan 7.239. Pergerakan indeks dalam waktu dekat dinilai akan sangat bergantung pada kemampuan bertahan di area support tersebut di tengah sentimen pasar yang masih berfluktuasi.

Rupiah Diproyeksi Melemah, Efek Dolar dan Minyak

Tak hanya pasar modal, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada pekan depan seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah berpotensi berlanjut, meski dalam rentang terbatas, di tengah lonjakan harga energi dan pergeseran preferensi investor ke aset dolar.

Ibrahim menyampaikan, arah rupiah tidak terlepas dari pergerakan indeks dolar AS yang diproyeksikan menguat dalam waktu dekat.

“Kemudian saya melihat juga untuk indeks dolarnya kemungkinan besar akan ditransaksikan itu di supportnya 98,73 kemudian resistennya itu adalah di 101,20. Jadi dalam transaksi minggu depan kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat menuju 101,20, jadi bukan melemah ke 98,73,” jelas Ibrahim.

Menurutnya, penguatan dolar tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor global mengalihkan dana ke aset safe haven. Ia menilai eskalasi konflik, termasuk potensi perang darat, menjadi faktor utama yang membentuk ekspektasi pasar.

Di sisi lain, pergerakan harga energi, khususnya minyak mentah jenis Brent crude, juga diperkirakan meningkat tajam. Ibrahim menyebut harga Brent crude berpotensi bergerak di kisaran US$110 hingga US$116 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh peran Iran sebagai salah satu produsen utama serta risiko gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.

“Kemudian untuk crude oil saya melihat kemungkinan dalam minggu depan ini akan ditransaksikan di supportnya 93,300 kemudian resistennya kemungkinan akan tembus di 107,100. Yang menarik itu adalah Brent crude oil kemungkinan besar ditransaksikan itu adalah di 110,000 sampai 116,000,” kata dia.

Lonjakan harga energi tersebut, lanjut Ibrahim, berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global, terutama melalui kenaikan biaya transportasi dan logistik, termasuk sektor penerbangan. Kondisi ini turut memengaruhi kebijakan bank sentral global yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi.

Ia menilai kebijakan moneter ketat akan memperkuat dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Yang membuat Bank Sentral Global dalam pertemuan kemarin ini tetap mempertahankan suku bunga tinggi bahkan Bank Sentral Australia menaikkan suku bunga. Ada ketakutan bahwa sampai bulan depan Bank Sentral Global ini pun juga akan menaikkan suku bunga. Ini akan membuat indeks dolar kembali menguat,” ujarnya.

Baca juga:

Genderang Perang Timur Tengah Bayangi Rantai Pasok Energi Indonesia
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya pasokan. Kenaikan harga minyak berisiko mendorong harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik naik dan memicu tekanan inflasi di dalam negeri.

Dalam konteks domestik, Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah justru akan menahan penurunan harga emas dalam negeri. Hal ini terjadi karena pelemahan nilai tukar membuat harga logam mulia dalam rupiah cenderung tetap tinggi meskipun harga emas global terkoreksi.

“Kemudian di sisi lain bahwa rupiah pun juga kemungkinan yang akan menahan pelemahan harga logam mulia, karena dalam transaksi dalam perdagangan di minggu depan kemungkinan mata uang rupiah masih akan terus mengalami pelemahan, sehingga menahan turunnya harga logam mulia,” tutur dia.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat harga logam mulia domestik cenderung stabil atau stagnan dalam waktu dekat, meskipun volatilitas di pasar global masih tinggi. Pergerakan rupiah dan harga komoditas, menurutnya, akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter global dalam beberapa waktu ke depan.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya