Di tengah dinamika geopolitik global yang penuh dengan ketidakpastian, upaya-upaya penyegaran dan pendalaman dalam hubungan antarnegara perlu terus dilakukan. Termasuk dengan Korea Selatan sebagai mitra strategis di Kawasan Asia Timur yang telah memiliki rekam jejak kerja sama ekonomi dengan Indonesia sejak lama.
Fokus utama kunjungan Presiden Prabowo ke Korea Selatan kali ini ditujukan untuk penguatan sektor investasi dan integrasi rantai pasok industri masa depan. Fokus tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Capaian langkah diplomasi tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartanto berupa pengamanan komitmen investasi senilai 10,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 173 triliun. Capaian tersebut lahir dari kesepakatan antarpelaku bisnis kedua negara yang mencakup berbagai sektor strategis.
Keberhasilan menggaet investasi dari Korea Selatan ini memberikan gambaran tingginya kepercayaan investor Korea Selatan terhadap potensi ekonomi di Indonesia. Hal tersebut sekaligus menjadi katalisator bagi target pertumbuhan ekonomi 8% yang diinginkan Presiden Prabowo.
Dalam satu dekade terakhir, tren realisasi penanaman modal asing (PMA) asal Korea Selatan menunjukkan dinamika yang menarik, namun cenderung ekspansif. Meskipun sempat mengalami penurunan pada periode 2017-2019, grafik investasi kembali melesat pasca-pandemi, puncaknya mencapai 2.987,7 juta dolar AS pada tahun 2024.
Akan tetapi, kembali terjadi penurunan menjadi 1.984 juta dolar AS di tahun 2025. Komitmen investasi baru sebesar Rp 173 triliun pada awal 2026 ini menandakan adanya lonjakan investasi dan dan jika terealisasi kan menjadi yang lebih tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Kesepakatan yang baru saja ditandatangani melalui 10 Nota Kesepahaman (MoU) ini membuka pintu lebar bagi kolaborasi di sektor-sektor mutakhir. Poin-poin kerja sama seperti Kemitraan Mineral Kritis dan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS) menunjukkan bahwa arah kemitraan kini bergeser menuju hilirisasi industri hijau dan teknologi rendah karbon.
Tak hanya itu, keterlibatan Danantara dengan Exim Bank of Korea dalam bidang keuangan mempertegas adanya dukungan pembiayaan yang kuat untuk proyek-proyek infrastruktur berskala besar di Tanah Air.
Melalui sinergi antara Indonesia dan Korea Selatan, Indonesia berpotensi besar untuk tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok global. Khususnya di bidang baterai kendaraan listrik dan teknologi digital.
Adanya bentuk kerjasama yang meliputi integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk layanan kesehatan dan pengembangan SDM juga memberikan dimensi baru bahwa investasi dari Korea Selatan kini menyentuh aspek kualitas hidup manusia. Dengan implementasi dan tata kelola yang baik, maka kemitraan Seoul-Jakarta akan menjadi pilar utama bagi ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.