Asuransi Panen Rezeki di Tengah Arus Mudik Lebaran

Tingginya aktivitas perjalanan jarak jauh saat Lebaran yang berdampak langsung pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi. Alhasil, kondisi itu turut membuka peluang pertumbuhan premi pada sejumlah lini bisnis asuransi umum.

Asuransi Panen Rezeki di Tengah Arus Mudik Lebaran
Sejumlah kendaraan memasuki Gerbang Tol (GT) Kalikangkung di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/3/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Daftar Isi

Prospek asuransi perjalanan dan kecelakaan diri diproyeksikan meningkat menjelang momen mudik Lebaran 2026. Tingginya aktivitas perjalanan jarak jauh saat Lebaran yang berdampak langsung pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi. Alhasil, kondisi itu turut membuka peluang pertumbuhan premi pada sejumlah lini bisnis asuransi umum.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono, menilai tingginya arus mudik menjadi peluang bagi perusahaan asuransi untuk menawarkan produk perlindungan perjalanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, momen ini juga dinilai strategis untuk mendekatkan layanan asuransi kepada publik melalui berbagai kegiatan edukasi.

“Prospek asuransi perjalanan dan kecelakaan diri menjelang momen mudik Lebaran umumnya meningkat seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat," ujar Ogi dalam keterangannya, dikutip Selasa (17/3/2026).

Ia menambahkan, dengan proyeksi sekitar 143 juta orang melakukan perjalanan mudik pada 2026, momentum ini tentu dapat menjadi peluang bagi industri asuransi untuk memperluas pemanfaatan produk perlindungan perjalanan.

Menurut Dian, industri asuransi mesti tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan produk, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan literasi masyarakat terkait pentingnya perlindungan selama perjalanan. Hal ini dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan sektor asuransi secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, OJK memproyeksikan aset industri asuransi dapat tumbuh sebesar 5–7% pada 2026. Untuk mencapai target tersebut, industri perlu memperkuat permodalan, tata kelola, serta manajemen risiko, sekaligus meningkatkan kualitas produk dan distribusi. Pengelolaan investasi secara prudent juga menjadi faktor kunci dalam menjaga kinerja industri.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan mengamini momentum Lebaran 2026 menjadi periode positif bagi industri asuransi umum. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya aktivitas perjalanan jarak jauh saat Lebaran yang berdampak langsung pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi. Alhasil, kondisi itu turut membuka peluang pertumbuhan premi pada sejumlah lini bisnis asuransi umum.

“Peningkatan mobilitas masyarakat selama periode mudik dan libur panjang mendorong kebutuhan akan perlindungan terhadap berbagai risiko perjalanan. Oleh karena itu, periode ini biasanya menjadi salah satu momentum positif bagi industri, baik dari sisi peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya proteksi maupun potensi pertumbuhan premi pada beberapa lini bisnis tertentu,” ucap Budi kepada SUAR.

Secara historis, AAUI mencatat adanya tren peningkatan permintaan polis menjelang musim mudik, terutama untuk produk yang berkaitan dengan kendaraan bermotor dan perjalanan. Produk yang paling banyak dicari meliputi asuransi perjalanan, asuransi kendaraan bermotor, serta asuransi kecelakaan diri (personal accident). Selain itu, permintaan asuransi properti juga meningkat karena banyak rumah ditinggalkan kosong saat mudik.

Dari sisi premi, terdapat indikasi kenaikan pada kuartal I yang bertepatan dengan Lebaran, meski tidak signifikan. Data menunjukkan premi asuransi kendaraan bermotor sebesar Rp5,2 triliun pada kuartal I, kemudian turun menjadi Rp4,1 triliun pada kuartal II, Rp4,7 triliun pada kuartal III, dan Rp4,9 triliun pada kuartal IV. Sementara premi asuransi perjalanan dan personal accident tercatat Rp1,1 triliun pada kuartal I, lalu Rp176 miliar pada kuartal II, Rp734 miliar pada kuartal III, dan Rp850 miliar pada kuartal IV.

Di sisi klaim, tren selama periode mudik dinilai tetap terkendali. “Berdasarkan data tahun 2025, tren klaim pada kedua lini bisnis tersebut masih relatif stabil, sehingga tidak terlihat adanya lonjakan klaim yang signifikan dibandingkan periode lainnya,” kata Budi.

Jenis klaim yang umum terjadi meliputi kecelakaan lalu lintas seperti tabrakan ringan hingga sedang. Risiko meningkat akibat kepadatan lalu lintas, kelelahan pengemudi, dan panjangnya perjalanan. Namun, secara keseluruhan klaim masih dalam batas normal.

“Untuk memanfaatkan momentum ini, perusahaan asuransi harus memperkuat edukasi dan layanan digital, termasuk pembelian polis dan percepatan klaim. Masyarakat juga harus mempersiapkan perjalanan dengan baik serta memiliki perlindungan asuransi yang memadai guna meminimalkan risiko finansial selama mudik,” pungkasnya.

Lebaran Dongkrak Kesadaran Proteksi Masyarakat

Direktur AXA Insurance Indonesia, Edwin Sugianto, menyatakan periode mudik Lebaran secara konsisten meningkatkan pembelian polis sekaligus kesadaran masyarakat terhadap perlindungan risiko perjalanan.

Menurutnya kebutuhan perlindungan meningkat karena masyarakat semakin memperhatikan aspek keamanan perjalanan, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini mendorong tren positif pada permintaan asuransi kendaraan dan perjalanan.

“Masyarakat kini tidak hanya lebih memperhatikan keamanan perjalanan dan kesiapan kendaraan di dalam negeri, tetapi juga kebutuhan perlindungan saat bepergian ke luar negeri, termasuk aspek kesehatan, bagasi, hingga risiko keterlambatan perjalanan,” kata Edwin kepada SUAR.

Foto udara sejumlah kendaraan antre keluar dan masuk ke dalam kapal di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Minggu (15/3/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.

Ia menambahkan, peningkatan pembelian polis menjelang mudik terjadi secara konsisten setiap tahun. Permintaan mencakup perluasan perlindungan kendaraan, asuransi kecelakaan diri, hingga asuransi perjalanan, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memitigasi risiko.

Produk yang paling diminati selama periode Lebaran meliputi asuransi kendaraan komprehensif, asuransi perjalanan, serta asuransi rumah tinggal. Ketiganya dinilai relevan karena memberikan perlindungan selama perjalanan sekaligus menjaga aset yang ditinggalkan.

Sejalan dengan itu, Kepala Divisi Corporate Communications PT Asuransi Central Asia (ACA Insurance) Ody Mahendra Rajasa menyebut Lebaran sebagai salah satu momen terbesar bagi industri asuransi umum. Tingginya mobilitas masyarakat berbanding lurus dengan peningkatan kesadaran terhadap risiko perjalanan.

“Kami melihat momentum Lebaran sebagai salah satu momen positif terbesar bagi industri asuransi umum setiap tahunnya. Tingginya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan mudik berbanding lurus dengan peningkatan kesadaran akan risiko perjalanan, baik risiko kecelakaan, kerusakan kendaraan, hingga risiko pada properti yang ditinggalkan,” ucap Ody.

Menurutnya, peningkatan pembelian polis biasanya terjadi sejak satu bulan hingga dua minggu sebelum Idulfitri, terutama pada segmen ritel. Produk yang mengalami lonjakan permintaan antara lain asuransi kendaraan bermotor, asuransi perjalanan, serta asuransi properti.

Dari sisi klaim, kedua perusahaan mencatat tren peningkatan selama dan setelah periode mudik. Edwin menyampaikan klaim kendaraan umumnya meningkat akibat lonjakan volume kendaraan, kelelahan pengemudi, dan kondisi jalan. Mayoritas klaim berupa kerusakan ringan hingga kecelakaan lalu lintas.

Sementara itu, Ody mengungkapkan sebagian besar klaim yang diajukan merupakan partial loss atau kerusakan sebagian, seperti benturan ringan di tengah kemacetan, kecelakaan beruntun di jalan tol, serta permintaan layanan darurat akibat kendala teknis kendaraan.

Untuk mengantisipasi lonjakan klaim, kedua perusahaan sama-sama memperkuat kapasitas tim klaim, meningkatkan koordinasi dengan bengkel rekanan, serta memastikan kesiapan layanan darurat selama 24 jam. Optimalisasi kanal digital juga menjadi fokus untuk mempermudah pembelian polis dan pengajuan klaim.

“Kanal digital memainkan peran yang semakin penting selama periode libur Lebaran. Kami mencatat peningkatan signifikan dalam penggunaan platform digital, baik untuk pembelian dan perpanjangan polis maupun pengajuan klaim,” ujar Edwin.

Di sisi lain, Chief Marketing Officer Manulife Indonesia Shierly Ge menyatakan kebutuhan asuransi jiwa dan kesehatan tidak bergantung pada momentum musiman, melainkan merupakan bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

“Kami memandang kebutuhan akan perlindungan jiwa dan kesehatan sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang yang bersifat struktural. Dalam berbagai fase kehidupan, termasuk periode Lebaran, masyarakat semakin menyadari pentingnya membangun fondasi keuangan yang berkelanjutan,” ujar Shierly.

Calon penumpang antre untuk melakukan lapor diri di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (16/3/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/rwa.

Shierly menyebut Lebaran menjadi momen refleksi bagi keluarga untuk membahas perlindungan finansial. Diskusi mengenai masa depan dan tanggung jawab keluarga dinilai lebih intens saat momen kebersamaan.

“Idulfitri seringkali membawa momen bersama, diskusi tentang masa depan, dan niat baru, sehingga menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk berpikir tentang bagaimana mereka dapat melindungi sesama lebih baik lagi, membuat rencana ke depan, dan memastikan ketenangan pikiran untuk masa yang akan datang,” ujar dia.

Dalam konteks tersebut, solusi perlindungan yang relevan tetap mengarah pada asuransi jiwa dan kesehatan sebagai instrumen jangka panjang. Manulife Indonesia juga memastikan layanan tetap berjalan normal selama Lebaran melalui dukungan tenaga pemasaran dan kanal digital untuk menjaga akses layanan bagi nasabah.

“Alih-alih hanya fokus pada pertimbangan jangka pendek, penting untuk memandang perlindungan sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan sehingga keluarga dapat terus maju dengan percaya diri, apa pun yang terjadi dalam hidup,” kata dia.

Proteksi perjalanan

Tingginya mobilitas saat mudik meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan finansial dari berbagai risiko perjalanan. Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menyebut bahwa kondisi ini berkontribusi pada lonjakan permintaan polis, khususnya asuransi perjalanan dan kendaraan.

Menurutnya, mobilitas masyarakat yang melakukan mudik mendorong kesadaran akan pentingnya perlindungan finansial dari risiko yang menungkin terjadi selama perjalanan.

“Seperti kecelakaan, kerusakan kendaraan, hingga ketidaknyamanan perjalanan (seperti keterlambatan transportasi),” ujar Irvan kepada SUAR.

Baca juga:

InJourney Siapkan 16.000 Personel Layani 9 Juta Penumpang Pesawat Saat Mudik
Selama periode posko Lebaran, bandara yang dikelola Injourney akan buka 24 jam dengan 3000 personel tambahan

Ia menambahkan, periode mudik Lebaran secara historis memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan premi. Bahkan, pada beberapa produk, lonjakan premi dapat mencapai lebih dari 100% secara tahunan (year-on-year), didorong kebutuhan proteksi selama perjalanan dan saat rumah ditinggalkan kosong. Kemudahan akses digital juga mempercepat penetrasi produk di masyarakat.

Namun, lonjakan mobilitas tidak hanya berdampak pada premi, tetapi juga pada klaim. Irvan menyebut tren klaim asuransi kendaraan cenderung meningkat setelah periode Lebaran.

“Tren klaim asuransi kendaraan cenderung mengalami peningkatan signifikan setelah periode mudik Lebaran. Fenomena ini bukan terjadi saat perjalanan mudik berlangsung, melainkan pada periode pasca-Lebaran (biasanya dalam kurun waktu 14 hari setelah masa libur usai), di mana volume pengajuan klaim ke perusahaan asuransi melonjak tajam dibandingkan hari-hari biasa,” jelasnya.

Senada, pengamat asuransi Dr. Abitani Taim menilai momentum Lebaran membuka peluang bagi industri karena meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

“Sebenarnya momentum Lebaran ini ada peluang yang lebih bagi industri asuransi umum karena meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat. Asuransi kendaraan bermotor, asuransi pengangkutan, asuransi perjalanan dan asuransi kebakaran berpeluang meningkat seiring tradisi mudik selama libur Lebaran,” kata Abitani.

Ia menambahkan, kenaikan jumlah polis akan diikuti peningkatan klaim pasca-Lebaran yang bersifat musiman. Selain itu, pelaku industri didorong meningkatkan literasi dan kampanye penjualan, serta menjaga kesiapan operasional untuk mengantisipasi lonjakan klaim.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya