Hingga tahun 2024, konsumsi energi sektor industri tumbuh stabil di angka 5,3% dengan total mencapai 586,25 ribu BOE. Angka pertumbuhan yang konsisten ini mengonfirmasi bahwa industri adalah mesin utama penggerak ekonomi, meski porsinya dominan dibandingkan sektor lain. Kondisi ini memerlukan perhatian yang serius dalam implementasi kebijakan bauran energi pemerintah.
Ketergantungan terhadap energi fosil masih sangat kental jika menilik struktur penggunaan energi berdasarkan jenisnya. Batubara tetap menjadi tulang punggung dengan konsumsi mencapai 342,672 ribu BOE pada 2024, disusul oleh gas alam dan listrik. Namun, penggunaan biomassa industri menunjukkan kenaikan signifikan dari hanya 0,555 ribu BOE di 2019 menjadi 53,147 ribu BOE di 2024.
Dominasi energi berbasis karbon masih menjadi tantangan besar di sektor ini. Tingginya angka ketergantungan pada batubara menciptakan urgensi bagi pemerintah untuk mulai memprioritaskan dekarbonisasi pada sub-sektor industri dengan intensitas energi tinggi.
Di sisi lain, potret realisasi energi baru dan terbarukan (EBT) pada bauran energi primer nasional masih menunjukkan adanya kesenjangan antara target dan realisasi. Hingga akhir 2023, realisasi EBT baru mencapai 13,1%, masih tertinggal cukup jauh dari target ambisius sebesar 23% yang ditetapkan untuk tahun 2025.
Dengan total energi primer mencapai 1.819,23 MBOE, porsi EBT yang hanya menyumbang sekitar 238,12 MBOE menandakan bahwa dorongan untuk mengintegrasikan sumber energi bersih ke dalam rantai produksi industri harus segera diakselerasi agar target nasional tidak sekadar menjadi angka di atas kertas.
Solusi prioritas yang perlu didorong adalah menetapkan target bauran EBT spesifik bagi sektor-sektor industri strategis. Pemerintah dapat memberikan insentif pajak atau kemudahan pembiayaan bagi perusahaan yang mampu beralih ke teknologi rendah karbon, seperti penggunaan panel surya atap atau pemanfaatan panas bumi (geothermal) yang realisasinya di industri saat ini masih sangat minim (hanya 0,004 ribu BOE).
Transformasi ini bukan hanya tentang pemenuhan komitmen terhadap perubahan iklim, tetapi juga tentang menciptakan efisiensi jangka panjang dan meningkatkan daya saing produk industri Indonesia di pasar global yang kian menuntut standar keberlanjutan.
Melalui sinergi antara regulasi yang tepat dan dukungan inovasi teknologi, sektor industri dapat bertransformasi dari penyumbang emisi terbesar menjadi pemimpin dalam penggunaan energi bersih. Upaya mendorong bauran EBT di sektor ini akan memberikan multiplier effect terhadap ketahanan energi nasional.
Dengan memprioritaskan industri yang boros energi untuk segera mengadopsi energi terbarukan, Indonesia tidak hanya mampu memitigasi krisis energi masa depan, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap berjalan selaras dengan lingkungan yang lestari.